PANCASILA dan Ke-INDONESIA-an Kita

Beberapa hari ini saya menjumpai hashtag #SayaPancasila. Saya tidak tahu asal usulnya, tapi dugaan saya karena berkaitan dengan hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya.

Jika maksudnya adalah sebagai reminder kepada anak bangsa agar memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, maka saya nyatakan saya adalah salah satunya.
Tapi rupanya tidak demikian kiranya.

Yang membuat saya heran adalah ada apa sesungguhnya dengan rakyat Indonesia dan Pancasila?
Apakah ke-Indonesia-an rakyat Indonesia saat ini jauh dari nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara?
Inipun saya tidak tahu pasti. Karena akhir-akhir ini banyak orang atau pihak yang mengklaim paling Pancasila dan paling Bhineka Tunggal Ika dan menuduh orang atau pihak lain yang tak sekelompok dengannya sebagai anti Pancasila dan anti Bhineka Tunggal Ika.

Yaaa… berdasarkan pengamatan saya khususnya di media sosial klaim-klaim Pancasilais dan keBhinekaan itu justru muncul dari mereka yang justru jauh dari nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Merekalah yang selama ini bersekutu dengan kemaksiatan, membela prostitusi dan pornografi.
Merekalah yang selama ini justru menodai nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Apa yang mereka lakukan itu sebatas kamuflase, menutupi keaslian tabiat mereka.

Lihatlah…, orang yang dinobatkan sebagai duta Pancasila justru orang yang telah melecehkan Pancasila. Hanya karena orang tersebut public figure.
Lihatlah mereka yang mencoba menentang putusan pengadilan dengan cara semena-mena dan melanggar undang-undang dan ketentuan yang berlaku.
Lihatlah aksi-aksi lilin yang melanggar aturan itu.
Lihatlah aksi-aksi pemaksaan kehendak kepada orang atau pihak lain agar membebaskan terpidana penistaan agama.
Lihatlah aksi sekelompok orang yang bahkan menyebutkan sila ke-4 Pancasila saja belepotan.

Sejak kasus penistaan agama, kelompok pendukung dan pembela penista agama sangat gemar menuduh orang atau pihak lain sebagai anti Pancasila dan anti keBhinekaan.
Mereka menuduh ummat Islam sebagai rasis dan anti Pancasila, dan disaat yang sama, mereka -sadar atau tidak- justru mendukung dan membela orang yang melecehkan agama dan kitab suci Ummat Islam, yang berarti telah melanggar Pancasila dan UUD 45.

Mereka seperti George Bush, presiden Amerika yang meluluh lantakkan Afghanistan dengan kampanye war againts terrorism, melakukan terror kemanusiaan dan telah membunuh banyak orang, lalu menyatakan “With us or againts us”

Jika memang mengaku #SayaPancasila, maka tegakkan hukum dengan benar dan berkeadilan!
Jika memang mengaku #SayaPancasila maka manifestasikanlah butir-butir Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara!

Ketidakadilan hukum di negeri ini telahpun menyeruak secara kasar dan keji, mengusik nurani orang-orang yang mencintai ibu pertiwi.
Ketidakadilan hukum dipertontonkan secara vulgar dan memalukan, justru untuk membungkam orang atau pihak yang berusaha menyelamatkan negeri ini dari ulah para kapitalis dan ‘penjajah modern’ yang telah memporak porandakan bangunan persatuan dan kesatuan.

Lalu setelah itu mengkampanyekan #SayaPancasila? Yang benar saja…!!!

Itulah kiranya ujian Pancasila dan ke-Indonesia-an kita. Sejauhmana manifestasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>