Fokus…!!! Kawal FATWA MUI…!!!

Dear sahabat, mari kita tetap fokus yaa….

TETAP FOKUS…!!!
KAWAL FATWA MUI…!!!

Masalah pokok dari PENISTAAN AGAMA oleh Basuki Tjahaya Purnama (BTP) adalah :

1. BTP menuduh orang yang menyampaikan al-maidah:51 membohongi orang lain. ‘Orang’ ini berarti semua orang Islam yang menyampaikan ayat tersebut kepada saudaranya yang lain sebagai nasehat dan peringatan dari Allah.

2. BTP menuduh Quran al-maidah:51 sebagai alat untuk membohongi. Sesuai pernyataannya, BTP menyampaikan sejak berpolitik tahun 2003, bahkan menuduh RASIS dan PENGECUT pada orang yang menyampaikan ayat tersebut. Dia menuduh ayat tersebut digunakan orang untuk mempengaruhi orang lain agar tidak memilih dirinya.

3. Urusan menyampaikan ayat al-maidah:51 adalah urusan internal ummat Islam. Ia adalah bagian dari dakwah Islam, untuk menyampaikan Quran, menyampaikan ayat2 Allah, sebagai kabar gembira dan pemberi peringatan.
BTP tidak punya hak sedikitpun, untuk membuat interpretasi atas ayat Quran, yang tidak ia imani, apalagi dikaitkan dengan merugikan dirinya.

TETAP FOKUS…!!!
KAWAL FATWA MUI…!!!

***yang mau SHARE silakan. Ndak perlu ijin. Kita sebarkan kebaikan***

Resiko Keputusan | Oleh: @anismatta

Saya telah menjelaskan sebelumnya bahwa prinsip syuro dibangun dari falsafah keunggulan akal kolektif atas akal individu. Tapi, apakah itu berarti keputusan yang lahir dari syuro tidak mungkin salah?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab terutama karena prinsip ini sering dipertentangkan dengan masalah pengendalian kolektif atas proses kreativitas individu. Asumsinya, seringkali ada gagasan-gagasan tertentu yang berasal dari individu tertentu yang sebenamya sangat cemerlang, tapi mungkin dianggap “menentang arus mayoritas” sehingga kemudian tidak mendapatkan tempat yang layak dalam syuro. Atau dengan kata lain, kurang, bahkan tidak, diterima sama sekali.

Ada kepentingan lain untuk rnenjawab pertanyaan di atas. Yaitu, adanya anggapan bahwa keputusan syuro pasti selalu benar. Sehingga, para pengambil keputusan seringkali merasa sudah “aman” dengan menempuh prosedur yang benar dan abai bahwa perkembangan di lapangan dapat terjadi di luar dugaan kita atau tidak masuk dalam aspek-aspek yang kita pertimbangkan saat mengambil keputusan. Akibatnya, kita tidak menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapinya. Sehingga, resiko yang semula bisa dieliminir berkembang menjadi lebih besar dan memperburuk keadaan.

Hakikat pertama yang perlu diperjelas sebelumnya adalah para pengambil keputusan yang terlibat dalam syuro manusia biasa. Bukan nabi atau rasul yang ma’shum. Dan yang rnereka lakukan dalam syuro adalah ijtihad yang bersifat jama’i. Karena itu, bersifat relatif. Kemungkinan benar-salah senantiasa menyertai keputusannya. Karenanya, keputusan itupun bersifat manusiawi. Jadi, mengandung resiko kesalahan.

Hakikat kedua yang perlu juga diperjelas bahwa ruang di mana ijtihad jama’i dilakukan –yaitu penentuan dan pendefenisian mashlahat ‘ammah pada suatu masa dan situasi tertentu– adalah ruang yang sangat dinamis, terus berubah, dan berkembang dalam tempo cepat. Oleh sebab itu, apa yang kita asumsikan sebagai mashlahat hari ini boleh jadi mudharat keesokan harinya. Akan tetapi, mudharat yang terjadi keesokan harinya itu tidaklah dapat menafikan atau membatalkan mashlahat yang pernah ada kemarin. Yang terjadi adalah mashlahat dan mudharat itu telah muncul pada kesempatan yang berbeda. Sehingga, ada dua keputusan yang diambil dalam kedua kesempatan yang berbeda pula.

Jadi, yang kita lakukan di sini adalah membuat ijtihad yang baru dan menghentikan masa berlaku ijtihad yang lama. Misalnya, dukungan yang kita berikan kepada Gus Dur dalam SU MPR 1999. Dukungan itu kita cabut setelah ada bukti-bukti empiris bahwa mashlahat ‘ammah yang kita asumsikan ada temyata tidak ada. Dan, mudharat yang sebelumnya hanya ada dalam dugaan (dharar mutawaqqa’) benar-benar telah terjadi.

Kedua hakikat di atas menjelaskan kepada kita betapa dinamisnya proses pengambilan keputusan dalam syuro. Konsep syuro dalam jama’ah mukminin sesungguhnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan institusional akan proses kreativitas kolektif yang produkdf, namun terkendali. Juga untuk memenuhi kebutuhan psikologis setiap anggota akan penerimaan dan aktualisasi. diri, namun tetap menghasilkan yang terbaik bagi jamaah.

Antisipasi resiko

Sebagai sebuah keputusan, produk syuro selalu mengandung resiko. Dan sepanjang yang kita lakukan dalam syuro adalah mendefenisikan mashlahat ‘ammah atau mudharat yang bersifat asumtif, maka selalu ada resiko kesalahan. Atau, setidak-tidaknya “tempo kebenarannya” sangat pendek. Sehingga, harus cepat diubah dengan keputusan baru.

Akan tetapi, kesalahan seperti ini mengurangi beban rasa bersalah karena beberapa hal. Pertama, karena secara kolektif kita telah menempuh prosedur pengambilan keputusan secara benar. Sehingga, dengan mudah kita dapat menemukan letak kesalahan, yaitu pada asumsi-asumsi yang mendasari keputusan. Atau, pada muncnlnya perkembangan baru yang tidak terduga sebelumnya. Ini semua merupakan bagian dari kelemahan manusiawi kita yang tidak terhindarkan dan berada di luar kemampuan manusiawi kita —dan pada waktu yang sama menunjukkan ketidakterbatasan ilmu Allah swt. Tapi, seandainya keputusan ini diambil secara indvidual, kesalahannya menjadi lebih banyak. Bisa pada prosedur juga pada muatan keputusannya sekaligus.

Kedua, kesalahan ijtihad jama’i lebih bisa ditanggung resikonya karena kita menanggungnya bersama-sama.Jadi, kesalahan itu tidak dibebankan kepada satu orang, walaupun mungkin keputusan syuro berasal dari gagasan seorang individu anggota majlis syuro. Maka, sebagaimana keputusan diambil secara bersama, resikopun dibagi secara bersama. Tentu saja ini membuat beban resiko menjadi lebih ringan. Dan lebih dari itu, kita tidak perlu mencari kambing hitam untuk menanggung semua resiko. Dengan begitu distribusi beban yang disebar secara merata akan memperkuat tingkat soliditas organisasi dan menjaga rasa saling percaya antara sesama Junud (anggota) dan antara junud dengan qiyadah (pimpinan).

Terlepas dari kenyataan di atas, adalah penting untuk dijelaskan bahwa ijtihad jama’i merupakan ruang yang sangat dinamis dan terus berubah. Maka, sikap dan keputusan politik yang kita ambil harus disertai dengan kalkulasi yang akurat tentang resiko yang mungkin timbul sebagai akibat dari sikap dan keputusan politik yang diambil. Atas dasar kalkulasi resiko itu, kita berupaya me-maintain situasi dengan berbagai langkah antisipasi. Langkah-langkah antisipasi ini harus dilakukan untuk mengurangi tingkat resiko keputusan, baik akibat kesalahan pada asumsi-asumsi dasar maupun karena munculnya berbagai perkembangan baru yang tidak terduga setelah keputusan diambil.

Misalnya, jika kita memutuskan untuk memberikan dukungan kepada seseorang dalam pemilihan presiden, dengan pertimbangan mashlahat dan mudharat, keputusan itu harus disertai dengan keputusan-keputusan lain yang bersifat antisipatif. Sehingga, kita dapat menurunkan tingkat resiko dari sikap dan keputusan politik awal tersebut.

Dan lebih dari itu semua, adalah tepat untuk bersikap sebagaimana diperintahkan Allah swt., “Kalau kamu sudah bertekad (setelah bermusyawarah), maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Source: Buku Menikmati Demokrasi karya Muhammad Anis Matta

AYAH dan IBU KEKASIHKU

Oleh: Ustadz Salim A. Fillah (@salimafillah)

Jika beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat dicintainya, “Dia di neraka”, dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang dirasanya saat kalimat itu bergema?

Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, “Ayahku dan Ayahmu di neraka”, untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?

Dan jika perbedaan pendapat para ‘ulama tentang siapa yang dimaksud “Ayah” dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?

Kumohon, hentikan.

Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para ‘ulama lain telah mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?

Bukankah Abu Dzar benar ketika memanggil Bilal, “Hai anak budak hitam!”? Tapi bukankah dia ditegur Sang Nabi ﷺ dengan tudingan ke wajah, “Kau, dalam dirimu masih terdapat jahiliah?” Dan Abu Dzarpun menyungkur ke tanah, menaburkan pasir ke wajah, serta meminta Bilal menginjak kepalanya, yang tentu ditolak oleh si kebanggaan Habasyah.

Sebagaimana pula dengan penuh ta’zhim Imam As Suyuthi telah berpanjang menjelaskan masa fatrah dan kedudukan surgawi Ayah-Bunda Rasulillah ﷺ.
Dan bahwa sebagaimana Azar ternyata adalah Paman Ibrahim, tak dapat tempatkah ta’wil bahwa “Ayah'” di dalam hadits itu adalah orang yang membesarkan Al Musthafa sejak dia ditinggal Kakeknya, yang memanggilnya “Anakku” dan lebih mencintai beliau dibanding putra-putra kandungnya, yang melindunginya dengan segala punya?

Kumohon hentikan. Di kala hujjah sudah bertemu hujjah, sesungguhnya hujat tiada lagi mendapat tempat. Perbedaan ini jangan menghalangi kita dari ilmu, ‘ulama, dan mencintai guru-guru.

Apalagi ini tentang Ayah-Ibu Kekasihku.

Bukan, bukan karena engkau berpegang pada sesuatu yang benar lalu engkau tercela. Sebab memang yang benar lebih berhak untuk dihiasi akhlaq mulia. Izinkan aku sejenak mengajakmu berkaca, kepada para salafush shalih dalam menakar cinta.

“Sungguh keislamanmu wahai Paman Rasulillah ﷺ”, ujar ‘Umar kepada ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib saat mereka bersua menjelang Fathu Makkah, “Lebih aku cintai dari keislaman Al Khaththab ayahku.”

Ini bukan karena cintanya pada sang Ayah kurang; ini semata sebab ‘Umar mengukur sikapnya dari hati manusia yang paling dicintainya, Muhammad ﷺ.
‘Abbas adalah Paman yang paling mengasihi Rasulullah setelah Abu Thalib.

“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya kelak, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”

“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu, “Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu.” Lagi-lagi ‘Umar mengukur sikapnya dari hati yang paling dia muliakan, hati Muhammad ﷺ.

Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Sang Nabi ﷺ melihat Abu Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada beliau?’

“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya”. Rasulullah ﷺ mendudukkan Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.

Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji setia pada Rasulillah ﷺ,
Abu Bakr malah menangis. Sesenggukan sedunya hingga mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah?

Namun Ash Shiddiq yang agung berkata pada Sang Nabi ﷺ, “Demi Allah. Aku lebih suka jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”

Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa mengerti Abu Bakr akan isi dada Rasulillah ﷺ.
Sahabat sejati, selalu mengukur sikapnya dari hati sang kekasih.

Lalu kini, jika kita menyebut-nyebut dengan santainya tentang neraka atau surgakah orang yang disayanginya, tak hendakkah kita sejenak bertanya, “Di mana kita dari Adab Abu Bakr dan ‘Umar itu dalam menakar cinta?”

Mari belajar menghadirkan sudut pandang Rasulillah ﷺ, bukan hanya pengetahuan tapi juga rasa; dalam setiap isi dada, kata-kata, dan perilaku kita. Inilah jalan sunnah yang penuh cinta.

Source: Instagram Ustadz Salim A. Fillah

Jebakan MEGALOMANIA By: Anis Matta

Pagi ini, di salah satu Forum Diskusi yang saya ikuti, saya mendapatkan posting dengan judul “Jebakan Megalomania” yang ditulis oleh Anis Matta, salah satu sastrawan besar Indonesia abad ini. Tulisan ini ada dalam buku Serial Kepahlawanan, Mencari Pahlawan Indonesia. Saya baca dengan seksama lalu saya relasikan dengan sebuah keadaan yang saat ini sedang terjadi, maka saya berkesimpulan untuk membagikan tulisan tersebut.

Salah satu kelebihan yang Anis Matta miliki adalah, tulisannya sering bisa dijadikan rujukan atas sebuah permasalahan dan bagaimana menyikapinya.
Meskipun tulisan itu telah dibukukan 13 tahun yang lalu, namun saya ‘membaca’ bahwa dalam tulisan itu Anis Matta seolah sedang berbicara dengan seorang sahabatnya saat ini. Ya…sahabatnya yang sedang diberikan ujian oleh Allah….

Selamat menikmati….

JEBAKAN MEGALOMANIA 
Oleh: Anis Matta

Terlalu tipis memang. Tapi bukan tidak mungkin untuk ditemukan selama kita jujur: nilakah amarah dan ambisi ini, atau embun. Hanya, ini juga bisa jadi awal dari riwayat megalomania yang panjang.

Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Di sekelilingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap ke dalam bentengmu. Ke dalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kamu mulai merasa besar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa besar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan musuh-musuhmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya. Merasa besar itu.

Seperti itulah pada mulanya. Fir’aun merasa besar. Lalu merasa mirip-mirip Tuhan. Kemudian merasa layak jadi Tuhan. Maka, ia pun berseru, lantang, di tengah gelombang massa rakyatnya yang patuh-patuh itu, “Akulah Tuhan kalian.”

Luar biasa rumitnya. Kamu hebat. Tapi tidak boleh merasa hebat. Kamu besar. Tapi tidak boleh merasa besar. Kamu berkuasa. Tapi tidak boleh merasa berkuasa. Fakta dan perasaan tentang fakta yang harus dipisah. Kekuasaan dan perasaan tentang kekuasaan
yang harus dijauhkan. Itu menyakitkan. Orang-orang tidak menyukai situasi itu.

Ini perjuangan yang berat. Temanya adalah belajar memahami asal usul kita sebagai manusia. Kamudiciptakan. Kamu tidak menciptakan. Kamu hadir ke dunia tanpa apa-apa. Terlalu banyak orang berjasa atas dirimu. Terlalu banyak yang tidak kamu tahu. Terlalu banyak yang tidak kamu kendalikan. Kamu bisa kendalikan angin? Laut? Gunung?

Kamu sebenarnya tidak hebat benar. Tidak berkuasa benar. Jadi kamu tidak punya alasan untuk merasa hebat atau berkuasa. Apalagi merasa mirip Tuhan. Apalagi merasa layak jadi Tuhan. Lihat saja Fir’aun. Mati ditelan laut. Lihat saja Soekarno. Jatuh juga dari kekuasaannya. Lihat juga Soeharto. Lengser juga akhirnya.

Khalid bin Walid mungkin tersanjung. Bait-bait sanjungan dan kekaguman sang penyair membuatnya berbunga. Dia memang hebat. Sebagai panglima perang atau Gubernur Qinnasrin. Dan dia merasa hebat. Perasaan itulah yang membuatnya bermurah hati. la menghadiahi sepuluh ribu dirham untuk sang penyair.

Tapi itulah sebabnya. Atau salah satu sebabnya. Lelaki yang hebat. Sangat berkuasa. Ditakuti musuh. Dikagumi sahabat. Tapi dia melanggar tabu. Dia merasa hebat, tersanjung, lalu terjebak. Sepuluh ribu dirham itu memang dari koceknya sendiri. Tapi itu terlalu boros untuk menghargai sebuah sanjungan. Maka, Umar pun memecatnya.

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Oleh: Muhammad Anis Matta, Lc
“PERBEDAAN adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah.
Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan.
Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?”
 

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana “mengelola” ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh “pengalaman keikhlasan” yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro. Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani “pengalaman keikhlasan” seperti itu?

Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu “upaya ilmiah” seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar “lintasan pikiran” yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar.”

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan “kebenaran objektif” atau sebenarnya ada “obsesi jiwa” tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk “ngotot”? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah “obsesi jiwa” kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun “karena faktor setan” kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., “Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan.” Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?

LGBT, Perilaku dan Pembelanya Yang TIDAK NORMAL

“LGBT adalah perilaku seks TIDAK NORMAL, dan yang mendukung pikirannya TIDAK NORMAL.”
-KH. Cholil Nafis-

Kira-kira begitu pernyataan KH. Cholil Nafis, salah satu Pengurus MUI Pusat dalam menyikapi maraknya issu LGBT dan getolnya para pembela LGBT.

Sebagai muslim, maka pakemnya adalah memandang dan menyikapi segala keadaan dari sudut pandang Islam, sudut pandang Quran dan Sunnah Nabi. Itu yang pertama dan utama, karena tak pijakan yang lebih baik dari keduanya. Maka demikianlah seharusnya shalihin/shalihat memandang dan menyikapi issu penyakit perilaku yang saat ini sedang marak, LGBT.
Selanjutnya, memandang dan menyikapi keadaan tersebut berdasarkan ilmu-ilmu yang lain, diantaranya kajian ilmiah, kedokteran, psikologi dan sosial budaya.

Bagi muslim, cukuplah kiranya bahwa Allah telah menerangkan pengharaman LGBT –khususnya hubungan sesama laki-laki– dalam Quran, dimana Allah telah menghukum kaum Nabi Luth.
Mari kita perhatikan peringatan Allah dalam Quran Surah Al-A’raf:80-84 berikut :

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” [80]

Sesunggguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian adalah kaum yang melampaui batas.’ [81]

Kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” [82]

’Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [83]

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [84]

Tolak LGBT1Abaikan saja orang yang menantang Allah, yang mengatakan “Jika benar Allah menghukum kaum Nabi Luth karena hubungan sejenis, mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama kepada negeri yang saat ini melegalkan LGBT?” misalnya. Mengapa? Karena pernyataan ini jelas permainan kata-kata yang menyesatkan dan hendak melawan hukum Allah.

Mengapa menolak atau anti LGBT? Karena Allah mengharamkannya. Just TAKE IT…!!! Begitu…
Itulah Iman dan taqwa. Adapun sebab-sebab yang lain, ia hanyalah pendukung dan pelengkap dari pengharaman ini.

Mau lihat dari sudut pandang mana?

– Adakah ‘produksi’ manusia yang menghasilkan keturunan itu adalah bertemunya sperma dengan sperma, atau bertemunya sel telur dengan sel telur? 

– Adakah laki-laki atau pejantan yang pernah melahirkan bayi?

– Adakah perkembangbiakan –binatang sekalipun– yang bisa terjadi karena pejantan membuahi pejantan atau betina dibuahi betina?

– Adakah binatang yang ‘menikah’ sesama jenis mereka sendiri? Kalau binatang saja ‘menikah’ dengan lawan jenis, bukankah perilaku LGBT lebih hina dari binatang?

– Dari sudut pandang agama, tak satupun agama yang ada di muka bumi ini ‘menghalalkan’ LGBT?

– Dari sudut pandang sosial budaya, adakah orang normal yang mau atau rela anak keturunannya berperilaku LGBT? Tidak ada!

– LGBT adalah perilaku kejiwaan yang menyimpang, begitulah sudut pandang psikologi.

Maka yang penting dipahami adalah bahwa LGBT itu adalah propaganda untuk menghalang-halangi laju peradabanan manusia. LGBT adalah upaya agar peradaban manusia punah, tak ada lagi manusia yang berkembang biak, menciptakan peradaban yang gemilang. Amat jelas dan terang benderang kiranya bahwa LGBT adalah propaganda untuk merusak generasi negeri ini.

Lalu bagaimana dengan pembelaan aktivis HAM terhadap LGBT?

Itulah yang disebut oleh KH. Cholil Nafis sebagai pikiran tidak normal. Mengapa? Ya karena LGBT itu menyalahi fitrah manusia, nabrak pakem agama dan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip manusia dan bersosial dan berbudaya. Hak Asasi Manusia, dalam prakteknya haruslah tidak melanggar Hak Asasi Manusia yang lain. Propaganda LGBT adalah melanggar hak asasi manusia lain, karena dalam prakteknya LGBT adalah penularan penyakit perilaku. Targetnya? Orang-orang normal.

Tolak LGBT4Sementara itu, issu HAM yang dikaitkan dengan LGBT tidak jauh-jauh dari urusan duit. Ada dana besar yang digelontorkan –bahkan oleh lembaga dunia– untuk mengkampanyekan LGBT dengan membawa issu HAM atau anti diskriminasi. Kiranya tautan ini sudah cukup bagi kita, orang-orang yang mencintai negeri ini untuk memahami bahwa LGBT adalah sebuah gerakan yang diorganisir untuk merusak negeri ini. Silakan baca disini Being LGBTI in Asia

Lalu kita harus bagaimana?

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tugas kita adalah mengajak pada kebaikan dan ikut serta memerangi kejahatan. Marilah kita renungi firman Allah dalam Quran Surah Fushshilat ayat 33, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?

Kita bisa menjadi bagian dari para penyeru kebaikan. Kita bisa menjadi bagian orang-orang yang menyampaikan kebenaran bahwa LGBT adalah perilaku TIDAK NORMAL dan mengajak orang yang mengalami masalah tersebut kembali kepada aturan Allah. Kembali kepada fithrah sebagai manusia.

Kita bisa menjadi bagian para penyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik, bukan dengan cara-cara kasar dan kotor yang tak santun. Tentu akan ada penentangan dari para pelaku kemaksiatan, dan itulah ujian atas kesabaran dalam jalan kebenaran. Kita harus tetap on the track dalam dakwah kepada Allah.
Mari kita renungi firman Allah dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:An-Nahl :125)

Dalam rangka itu pula kiranya, tulisan saya ketengahkan, sebagai ikhtiar dalam kebaikan, mengajak manusia kepada jalan Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Maka dimanakah kita berada? Menjadi bagian dari kebaikan dengan melawan propaganda para perusak –pelaku dan pendukung LGBT— itu, atau menjadi bagian dari mereka, yang tentu saja menjadikan Anda –berdasarkan kriteria KH. Cholil Nafis—punya pikiran TIDAK NORMAL.

Allahu a’lamu bishshawaab…..

“Would The World Be Better Without Islam?”

Sebuah catatan tentang film BulanTerbelah di Langit Amerika

“Would the world be better without Islam?”
NO…!!!
Dunia pasti akan kacau balau tanpa Islam.

Saya rasa itulah konklusi dari Film Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang bagi saya adalah pesan yang sangat penting. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab “NO” oleh orang yang mengalami langsung tragedi 9/11, seorang tokoh yang bernama Philips Brown. Pertanyaan itu pula kiranya, yang membuat Philips Brown mau diwawancarai oleh Rangga, meski kemudian wawancara batal.
Philips Brown menjawab NO dengan sangat mantab, karena dia tahu persis bagaimana akhlaq seorang muslim yang baik ketika meletus peristiwa tersebut.

Adalah Ibrahim Hussein –yang sebelumnya dia kenal sebagai Hasan– orang yang kemudian merubah pandangannya tentang Islam dan orang Islam. Ibrahim Hussein yang bahkan oleh istrinya sendiri dianggap terlibat dalam peristiwa 9/11, yang kemudian menjadikan Azima (Julia Collins) menjadi inferior dan menanggalkan hijabnya. Hassan yang sebelumnya ditolak oleh Philips Brown saat minta donasi untuk anak-anak Suriah sebelum kejadian 9/11, karena kebaikannya –dan itu adalah akhlaq seorang muslim– telah menginspirasi Philips Brown sebagai seorang yang dermawan setelah kejadian 9/11.

Secara keseluruhan, pesan kedamaian yang ingin disampaikan oleh Hanum Salsabila, berhasil. Pesan bahwa Islam dan orang Islam adalah keselamatan dan kedamaian, bukanlah pembuat terror.
Pesan ini penting karena pasca kejadian 9/11, yang dalam film tersebut dicitrakan pelakunya adalah muslim –tanpa memperhatikan muatan konspirasi di dalamnya– mengakibatkan gelombang Islamphobia yang sedemikian dahsyat di Amerika dan Eropa, hingga sampai ke negeri-negeri yang lain.

Tentu saja media berperan dalam menciptakan Islamphobia ini, sehingga Azima (Julia Collins) pun enggan diwawancara terkait kejadian yang diduga melibatkankan suaminya. Meski akhirnya, Julia Collins bersedia diwawancara oleh setelah Hanum meyakinkan Julia Collins dan tetangganya bagaimana akhlaq seorang muslim.
Di film ini memang tidak ditampilkan unsur konspirasi, yang saya yakin penulisnya pun telah sedikit banyak mengetahui keberadaannya. Entah mengapa, di film ini secara vulgar diketengahkan bahwa penyebab tragedi 9/11 adalah muslim, meski di ujungnya ada semacam rehabilitasi terhadap citra muslim.

Namun tentu saja, selalu ada kritik untuk sebuah kebaikan. Bagaimanapun juga, ada beberapa bagian dalam film ini, meskipun dikemas dengan jenaka, namun perlu diluruskan. Apa gerangan itu?
Ia ada dalam dialog antara Rangga dan Stefan tentang bagaimana seseorang masuk Islam. Rangga yang berkawan akrab dengan Stefan menyarankan agar Stefan masuk Islam saja, biar hidupnya gak ribet. Mari kita simak dialog mereka.
Stefan: “Bagaimana cara masuk Islam?”
Rangga: “Cukup ucapkan dua kalimat syahadat”
Stefan: “Itu saja?”
Rangga: “Ya itu saja. Tapi belum tentu masuk syurga”
Jawaban santai dan dengan mimik jenaka Rangga itu menurut saya kurang tepat, karena dengan mengucap syahadat, seseorang telah mengucapkan kalimat tauhid La ilaha illa Allah, yang dengannya ada jaminan syurga. Saya berharap itu hanyalah accident dialog.

Hal lain yang menurut saya patut dikritik adalah tentang Rianti Cartwrite, yang memerankan seorang muslimah bernama Azima (Julia Collins). Memang pesan moral kedamaian Islam tersampaikan, namun dalam waktu yang bersamaan, filem tersebut telah ‘mempermainkan’ hijab. Peran wanita muslimah, akan lebih baik kalau diperankan oleh seorang muslimah juga. Jikapun ada alur cerita Azima yang inferior atas keislamannya lalu melepas hijabnya, saya yakin ada cara lain untuk mengetengahkannya. Sehingga urusan ‘cabut pasang’ hijab itu tak secara vulgar ditampilkan.
Meski saya maklum itu dilakukan karena pemerannya non muslim, tapi tetap saja, bagi saya itu mereduksi kualitas film ini.
Secara umum saya menilai, film ini bukan film yang Islami. Namun saya mengapresiasi bahwa film ini telah mengetengahkan wajah damai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana pesan terakhir dalam film ini.

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Asas Penyikapan

Oleh: Ustadz Muhammad Anis Matta, Lc

DI TENGAH SITUASI yang terus berubah, seperti ketika dakwah merambah rimba politik, menentukan sikap merupakan salah satu pekerjaan yang rumit. Setiap situasi politik biasanya menyimpan peluang dan jebakan sekaligus. Karenanya, setiap keputusan politik pasti mengandung resiko. Para pemimpin politik diuji di sini. Karakter sebuah pergerakan akan terbentuk dan terlihat di sini.

Di sini ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan politik. Pertama, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang, dan institusinya. Jadi, bukan sekedar sikap dan keputusan yang benar, tapi sikap dan keputusan benar yang tepat! Kebenaran dan ketepatan adalah dua substansi yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik.

Kedua, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu efektif bekerja mengantar kita mencapai tujuan yang ingin kita capai. Efektivitas untuk sebagiannya terkait dengan tingkat kebenaran-ketepatan sikap dan keputusan politik, tapi untuk sebagiannya terkait dengan cara apa sikap dan keputusan politik itu diekspresikan. Efektivitas terkait dengan fungsi penyikapan dan pengambilan keputusan, terkait dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh sikap dan keputusan politik tersebut.

Ketiga, sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan politik. Dalam situasi yang terus berubah, “durasi kebenaran” seringkali tidak bertahan lama atau kita kemudian kehilangan arah dan pegangan dasar sehingga sikap dan keputusan politik kita tidak lagi konsisten. Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif; apakah
warna dasar itu bernama kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme.

Itulah tiga nilai utama yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik yang kita ambil: ketepatan, efektivitas, dan konsistensi. Ketiganya terkait dengan dua sisi yang senanriasa melekat pada sikap dan keputusan politik yang kita ambil. Sisi pertama terkait dengan substansi sikap dan keputusan politik yang kita ambil, yaitu tentang muatan kebenaran syar’i. Sedang sisi kedua terkait dengan proses penentuan sikap dan pengambilan keputusan politik, yaitu tentang cara yang kita tempuh, apakah sudah benar atau tidak.

Muatan dan proses

Muatan kebenaran dalam sebuah sikap dan keputusan polidk sesungguhnya ditentukan oleh referensi dan metode yang kita gunakan. Bagi kita kaum muslimin, sudah tentu kebenaran yang kita maksud adalah kebenaran syar’i. Karenanya, referensi kita dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan politik adalah merujuk pada syariat Islam. Sedang metode yang kita pakai adalah ijtihad. Akan tetapi, ijtihad yang benar hanya dapat dilakukan jika kita menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, pengetahuan tentang syariat Islam yang mendalam dan pada waktu yang sama, juga pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan politik yang kita hadapi. Yang pertama kita sebut dengan “fiqhi wahyu”, yang kedua “fiqhi realitas”.

Yang kita lakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah swt. dalam realitas kehidupan manusia.Jadi, fungsi ijtihad itu menempatkan setiap kebenaran wahyu pada realitasnya, pada dunianya yang tepat. Artinya, nilai ijtihad itu pada ketepatannya.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kita tegaskan di sini. Yaitu, secara substansial seluruh ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Itulah sebabnya Ibnu Taymiah mengatakan, di rnanapun ada kemaslahatan bagi manusia, disitu pasti terdapat syariat Allah. Jadi, syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia. Karena itu, Al-Syathiby mengatakan, inti politik Islam adalah mendatangkan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia dan menolak mudharat sebanyak-banyaknya dari manusia.

Kemaslahatanlah yang kemudian menentukan sikap dan keputusan politik kita. Termasuk juga di dalarnnya menentukan semua perubahan yang terjadi dalam sikap dan keputusan politik kita. Jadi, andaikan kita mendukung seseorang untuk menduduki suatu jabatan tertentu, lantas kemudian kita mengubah sikap dengan memintanya meninggalkan jabatan itu, semua perubahan itu dapat dipahami dari pendekatan maslahat

Jadi, asas penentuan sikap dan pengambilan keputusannya adalah “asumsi” maslahat yang terdapat dalam perkara itu, Karena sifatnya asumsi, maka sudah pasti relatif. Dan karena relatif, sangatlah mudah mengalami perubahan.

Namun demikian, asumsi yang kita gunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih} yang mempunyai dasar pada fakta-fakta, pertimbangan- pertimbangan rasional, dan idealita yang kita inginkan. Jika sebuah asumsi dibentuk dari realitas, rasionalitas, dan idealitas, kita berharap peluang kesalahannya menjadi lebih kecil. Dan, kelemahan itu dapat kita tutupi dengan niat yang ikhlas serta tawakkal kepada Allah swt.

Adapun sisi yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan itu sendiri. Yaitu, apa yang kemudian kita sebut dengan syuro. Karena kemaslahatan itu didefenisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk kepada realitas, rasionalitas, dan idealitas, sudah tentu akal kolektif lebih baik daripada akal individu. Karena itu, keputusan bersama selalu lebih baik daripada keputusan individu.

Tapi, apakah setiap syuro dengan sendirinya selalu melahirkan sikap dan keputusan politik yang bermutu? Tentu saja tidak ada jaminan. Tapi, peluangnya lebih besar. Meski begitu, masalah ini tetap perlu didalami lebih jauh.

Sumber: Menikmati Demokrasi

Happy Birthday Sweetheart, Azzam Al-Ghozy

1 Februari 2004

12 tahun yang lalu, Allah tambah rizqi yang juga amanah buat kami. Semoga Allah hindarkan kami dari fitnahnya.
Karena memang sesungguhnya istri dan anak itu bisa jadi fitnah.

Sekarang, anak kami itu sudah kelas 6 SD.
Dua hari kemaren, berturut-turut dia memberikan kepada kami, orang tuanya, hadiah spesial. Proud of you sweetheart….

Hari sabtu 30 Januari 2016, anak saya itu diterima sebagai calon santri di Pondok Pesantren Ibnu Abbas – Klaten Jawa Tengah, salah satu ma’had tahfizhul Quran terbaik yang saya tahu.
Hari minggu 31 Januari 2016, kembali anak saya menorehkan prestasi sebagai tiga besar dalam munaqosyah.
Saya sendiri yang mengantar dan menungguinya, karena saya juga harus tahu kualitas anak saya.

Tidak lama lagi, dia akan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren di Klaten.
Dia anak kedua kami yang akan jauh dari mata kami, meski tetap dekat di hati. Kakaknya yang sulung, telah mendahului untuk ‘berpisah’ dengan kami juga dalam rangka menuntut ilmu.
Kami akan jarang bertemu, tapi kami yakin kami tetap ‘selalu bersama’.
Bersama dalam ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, yang kepadaNya kami semua akan kembali.

Ketaqwaan kepada Allah, itulah yang selalu saya tekankan kepada anak-anak kami. Menjadi apapun, harus dalam rangka ketaqwaan kepada Allah.
Termasuklah menuntut ilmu. Ia adalah dalam rangka ketaqwaan kepada Allah, yang dengan ilmu itu, kelak akan digunakan untuk sebanyak-banyaknya maslahat bagi ummat.
Menolong agama Allah, yang karenanya Allah akan menolong kita.
Ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, adalah kunci kebahagiaan.

Happy birthday my lovely son, Abdullah ‘Azzam al-Ghozy.
Semoga Allah karuniakan keutamaan padamu dalam ilmu.
Tetap semangat ya sayang…

We love you, tentu karena Allah semata.

Ayo Nonton #KMGPTheMovie

“Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”

Alhamdulillah, tadi malam nonton Ketika Mas Gagah Pergi #KMGPTheMovie, yang diproduseri langsung oleh penulis novelnya, Helvy Tiana Rosa, salah satu novelis terbaik Indonesia. Filem ini dibiayai oleh banyak orang dengan gerakan “Patungan Bikin Filem”, bahasa kerennya Crowdfunding Film, yang digagas oleh Helvy Tiana Rosa dan para pembaca novelnya. Mottonya, “Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”
Kira-kira begitu.

Semula saya mengira bahwa #KMGP akan bersetting tahun saat novel itu dibuat, 20 tahun yang lalu. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. #KMGP bersetting present day, masa kini.
Dan saya juga baru tahu kalo #KMGP yang semalam kami tonton adalah part one, akan ada lanjutannya. Sepertinya KMGP part two akan lebih ramai dan menegangkan jika diliat dari cuplikannya.

KMGP seperti yang pernah saya baca, penyuguhannya diluar dugaan saya.
Saya tidak mendapatkan yang saya harapkan, karena saya mengira cara pembuatan filmnya seperti Tausiyah Cinta. Hamas Syahid, yang memerankan tokoh Mas Gagah, saat persiapan tampil di catwalk, saya lihat diurusi oleh penata rias perempuan. Itu salah satunya. Saya berharap -seperti dalam Tausiyah Cinta- interaksi Hamas dengan non muhrim bisa terjaga. Sebagai penghafal Quran, Hamas harus sangat berhati-hati tentang hal ini. Tapi memang, KMGP ini bukan seperti film Tausiyah Cinta yang sarat dgn dakwah dalam pembuatannya, meski pesan dakwahnya juga tetap ada.

Hal lain yang terasa aneh bagi saya adalah jenggot Gagah. Kesan tempelannya sangat kelihatan. Padahal, jika diperhatikan, Hamas adalah tipe orang berbulu. Saya yakin dia punya jenggot asli. Tapi ini view subyektif saya. Boleh jadi orang lain punya view yang berbeda, dan itu sah-sah saja. Dan ternyata, setelah saya kasak kusuk sana sini, ternyata benar. Jenggot Gagah itu tempelan. Dan itu diakui oleh Helvy. Sebabnya tak lain dan tak bukan, karena timing yang gak pas dengan tumbuhnya jenggot asli Gagah pas syuting pilem.

Secara konten, ‘bintang’ dalam KMGP menurut saya adalah Gita dan Yudistira (Yudi).
Tokoh Gita ini, sangat menarik bagi saya. Bukan karena cantiknya. Tapi karena tipikalnya. Tipikal Islamphobia dan baper. Semua orang harus sejalan dengan dia. Dan tipikal Gita itu, begitu banyak dalam dunia nyata. Sekarang ini. Saat ini. Tipikal yang menantang buat para aktivis dakwah.

Sementara Yudi, tokoh satu ini membuat saya surprise, perasaan saya berkecamuk saling berantem. Saya bangga, tapi nyaris gak percaya, weird dan tapi juga malu. Bangga karena ada orang yang gigih berdakwah, bahkan anti mainstream. Dakwah dalam angkutan. Tapi sekaligus gak percaya, apakah ada di dunia nyata kota metropolitan orang kek Yudi itu. Weird, rasanya aneh cara yang dilakukan Yudi. Mengada-ada. Malu, bahwa saya tidak bisa seperti Yudi itu.

Issu Palestina juga dibawa dalam filem ini, dengan mengetengahkan sejarah bahwa Palestina adalah yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Saat ini, penjajahan Israel atas Palestina telah banyak membawa korban dan melanggar hak asasi manusia. Pertanyaan terkait Palestina, “Mengapa kita jauh-jauh mengurusi negara orang lain, disini saja banyak masalah yang harus kita selesaikan” misalnya, bisa dijawab dalam adegan terkait issu Palestina dalam film ini.

Untuk diketahui saja, mengapa kemudian filem ini di-producer-i oleh Helvy sendiri, karena Production House yang semula bersedia menerima KMGP ternyata mensyaratkan cerita tentang Palestina itu tidak ada. Adalah wajar bahwa producer punya mau ini dan itu atas film yang diproduksi. Dan Helvy tetap pada pendirian, cerita tentang Palestina harus tetap ada. Untuk itu harus diproduksi sendiri.
Qadarullah, dengan kegigihan usaha untuk mewujudkan film bermutu akhirnya filem KMGP berhasil diproduksi meski dengan patungan, istilah kerennya Crowdfunding Film. Allahu Akbar…

Issu kemanusian lainnya juga dikemas secara apik. Bagaimana Gagah membantu para preman yang mengelola banyak anak-anak tapi dengan cara yang tidak benar, akhirnya karena pertolongan Gagah dan teman-temannya, para preman itu kemudian bisa memperbaiki hidupnya. Bisa memperbaiki kehidupan anak-anak di kawasan yang kumuh.
Lalu berdirilah “Rumah Cinta”.
Ini pula yang menyebabkan Gita sangat marah kepada Gagah karena uang yang semula akan digunakan untuk backpacker-an, semuanya disumbangkan Gagah untuk penghijaun, modal kerajinan dan mendirikan Rumah Cinta. Gita pun memperbandingkan kasih sayang kakaknya, karena menurut Gita, Gagah lebih memilih membantu orang lain, daripada menyenangkan adik sendiri. Tapi memang tipikal Gita yang mau menang sendiri, penjelasan Gagah bahwa awal bulan depan bisa backpackeran sudah gak laku lagi.

Tapi saya sedih, filem bermutu yang sarat pendidikan dan pesan kebaikan seperti Tausiyah Cinta dan KMGP ini, sepi penonton. Meski setahu saya, Helvy telah jauh-jauh hari mengabarkan produksi film ini. Bahkan ada kampanye donasi untuk membuat film ini. Disini saya melihat, harus ada upaya yang benar-benar serius untuk memasarkan film-film seperti ini. Harus ada orang-orang shalih yang dermawan untuk mensponsori agar film ini ramai penonton. Karena jika tidak, produksi film yang berbiaya besar ini kurang maksimal manfaatnya.

Mari kita serbu KMGP. Kita perlu ‘show of force’, agar filem-filem dakwah lainnya nanti bisa mewarnai jagat cinema negeri kita. Yang dikaruniakan Allah kecukupan, keluarkanlah barang satu tiket, sebagai hadiah buat saudara yang lain. Niatkan sebagai sarana dakwah kepada Allah.