Melihat Kembali Pemahaman Bid’ah Kita

“O ya Pak, tradisi bid’ah dengan tradisi syirik, seringkali disamakan (dianggap sama-sama dholalah), padahal tradisi, yang sering disebut bid’ah itu, sering kali tidak ada unsur syiriknya, tetapi tetap saja dianggap bid’ah yang tidak dicontohkan oleh Nabi, jadi gimana tuh ya, apakah tradisi-tradisi itu harus dihentikan, termasuk berbagai acara selametan, mauludan, milad, dll ? supaya umat Islam ini seluruhnya kompak di jalur sunnah, gimana ya Pak ?
(kali ini saya belum menemukan jawaban yang tepat untuk dicopy paste)”

Pernyataan tersebut diatas dikemukakan teman saya dalam sebuah grup pengurus musholla yang saya berada di dalamnya. Dan inilah jawaban saya.

Dalam masalah bid’ah, maka sikap kita harus hati-hati. Janganlah setiap yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW dibilang bid’ah. Kita harus ketahui bahwa kullu bid’atin dholalatin wa kullu dholalatin finnaar. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan ada di neraka.
Maka ketika kita menjudge bid’ah, maka sesungguhnya kita telah menghukumi sesuatu ada di neraka.
Apakah semudah itu menghukumi orang masuk neraka?

Mari kita kembalikan pada dalil awal bahwa man jaa-a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaaliha. Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat dari yang semisalnya (kebaikan yg dilakukan itu). Dalam Quran terlalu banyak dalil umum tentang seruan iman dan perintah amal shalih. Bagi saya sesederhana itu.

Apakah syukuran itu keburukan? Apa, dimana, bagaimana buruknya?
Apakah Maulid-an itu keburukan? Apa, dimana, bagaimana buruknya?
Apakah shalawatan, Yaasin-an itu keburukan? Apa buruknya?
Apakah setiap hal yang tidak ada pada zaman Nabi SAW tidak boleh? Benarkah?
Bukankah kita hidup di kurun yang berbeda?

Namun memang, kita juga harus meluruskan bahwa dalam syariat Islam tidak ada ‘peringatan’ tiga harian tujuh hari empat puluh hari dan sejenisnya itu, yang kemudian jadi ritual Tahlilan.
Banyak referensi bahwa itu adalah hitungan-hitungan dalam agama hindu, namun pada saat dakwah Islam waktu itu, peringatan itu dijadikan sarana dakwah yang dimodifikasi kontennya dengan bacaan-bacaan yang sudah sama-sama kita ketahui. Alhasil sampai sekarang itu menjadi budaya.

Memang kemudian, peringatan itu dibuat pembenarannya dengan dalih sedekah. Namun saya melihat, sometime ummat yang tidak tahu kemudian memaksakan diri untuk melaksanakannya.
Sebagian yang lain, karena ketidaktahuannya dan menganggap bahwa itu bagian dari syariat, kadang ada tetangganya yang tidak tahlilan dijadikan bahan gunjingan yang tidak perlu.

Saya sepakat bahwa tradisi tahlilan ini bukan bagian syariat. Namun konten dalam tahlilan itu adalah bagian dari syariat. Bacaan-bacaan dalam tahlilan itu adalah kalimat-kalimat Thayibah, yang saya yakin bahwa pembacanya mendapatkan pahala, ketika syarat untuk mendapatkan pahala terpenuhi.

Ini pandangan saya. Jika baik dan benar maka itu karunia Allah.
Boleh jadi orang lain tidak sama dengan saya, namun saya yakin bahwa dalam urusan ini kita harus mempunyai ilmunya dan membutuhkan kelapangan dada.

Kira-kira begitu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>