AYAH dan IBU KEKASIHKU

Oleh: Ustadz Salim A. Fillah (@salimafillah)

Jika beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat dicintainya, “Dia di neraka”, dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang dirasanya saat kalimat itu bergema?

Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, “Ayahku dan Ayahmu di neraka”, untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?

Dan jika perbedaan pendapat para ‘ulama tentang siapa yang dimaksud “Ayah” dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?

Kumohon, hentikan.

Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para ‘ulama lain telah mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?

Bukankah Abu Dzar benar ketika memanggil Bilal, “Hai anak budak hitam!”? Tapi bukankah dia ditegur Sang Nabi ﷺ dengan tudingan ke wajah, “Kau, dalam dirimu masih terdapat jahiliah?” Dan Abu Dzarpun menyungkur ke tanah, menaburkan pasir ke wajah, serta meminta Bilal menginjak kepalanya, yang tentu ditolak oleh si kebanggaan Habasyah.

Sebagaimana pula dengan penuh ta’zhim Imam As Suyuthi telah berpanjang menjelaskan masa fatrah dan kedudukan surgawi Ayah-Bunda Rasulillah ﷺ.
Dan bahwa sebagaimana Azar ternyata adalah Paman Ibrahim, tak dapat tempatkah ta’wil bahwa “Ayah'” di dalam hadits itu adalah orang yang membesarkan Al Musthafa sejak dia ditinggal Kakeknya, yang memanggilnya “Anakku” dan lebih mencintai beliau dibanding putra-putra kandungnya, yang melindunginya dengan segala punya?

Kumohon hentikan. Di kala hujjah sudah bertemu hujjah, sesungguhnya hujat tiada lagi mendapat tempat. Perbedaan ini jangan menghalangi kita dari ilmu, ‘ulama, dan mencintai guru-guru.

Apalagi ini tentang Ayah-Ibu Kekasihku.

Bukan, bukan karena engkau berpegang pada sesuatu yang benar lalu engkau tercela. Sebab memang yang benar lebih berhak untuk dihiasi akhlaq mulia. Izinkan aku sejenak mengajakmu berkaca, kepada para salafush shalih dalam menakar cinta.

“Sungguh keislamanmu wahai Paman Rasulillah ﷺ”, ujar ‘Umar kepada ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib saat mereka bersua menjelang Fathu Makkah, “Lebih aku cintai dari keislaman Al Khaththab ayahku.”

Ini bukan karena cintanya pada sang Ayah kurang; ini semata sebab ‘Umar mengukur sikapnya dari hati manusia yang paling dicintainya, Muhammad ﷺ.
‘Abbas adalah Paman yang paling mengasihi Rasulullah setelah Abu Thalib.

“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya kelak, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”

“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu, “Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu.” Lagi-lagi ‘Umar mengukur sikapnya dari hati yang paling dia muliakan, hati Muhammad ﷺ.

Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Sang Nabi ﷺ melihat Abu Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada beliau?’

“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya”. Rasulullah ﷺ mendudukkan Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.

Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji setia pada Rasulillah ﷺ,
Abu Bakr malah menangis. Sesenggukan sedunya hingga mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah?

Namun Ash Shiddiq yang agung berkata pada Sang Nabi ﷺ, “Demi Allah. Aku lebih suka jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”

Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa mengerti Abu Bakr akan isi dada Rasulillah ﷺ.
Sahabat sejati, selalu mengukur sikapnya dari hati sang kekasih.

Lalu kini, jika kita menyebut-nyebut dengan santainya tentang neraka atau surgakah orang yang disayanginya, tak hendakkah kita sejenak bertanya, “Di mana kita dari Adab Abu Bakr dan ‘Umar itu dalam menakar cinta?”

Mari belajar menghadirkan sudut pandang Rasulillah ﷺ, bukan hanya pengetahuan tapi juga rasa; dalam setiap isi dada, kata-kata, dan perilaku kita. Inilah jalan sunnah yang penuh cinta.

Source: Instagram Ustadz Salim A. Fillah

Jebakan MEGALOMANIA By: Anis Matta

Pagi ini, di salah satu Forum Diskusi yang saya ikuti, saya mendapatkan posting dengan judul “Jebakan Megalomania” yang ditulis oleh Anis Matta, salah satu sastrawan besar Indonesia abad ini. Tulisan ini ada dalam buku Serial Kepahlawanan, Mencari Pahlawan Indonesia. Saya baca dengan seksama lalu saya relasikan dengan sebuah keadaan yang saat ini sedang terjadi, maka saya berkesimpulan untuk membagikan tulisan tersebut.

Salah satu kelebihan yang Anis Matta miliki adalah, tulisannya sering bisa dijadikan rujukan atas sebuah permasalahan dan bagaimana menyikapinya.
Meskipun tulisan itu telah dibukukan 13 tahun yang lalu, namun saya ‘membaca’ bahwa dalam tulisan itu Anis Matta seolah sedang berbicara dengan seorang sahabatnya saat ini. Ya…sahabatnya yang sedang diberikan ujian oleh Allah….

Selamat menikmati….

JEBAKAN MEGALOMANIA 
Oleh: Anis Matta

Terlalu tipis memang. Tapi bukan tidak mungkin untuk ditemukan selama kita jujur: nilakah amarah dan ambisi ini, atau embun. Hanya, ini juga bisa jadi awal dari riwayat megalomania yang panjang.

Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Di sekelilingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap ke dalam bentengmu. Ke dalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kamu mulai merasa besar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa besar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan musuh-musuhmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya. Merasa besar itu.

Seperti itulah pada mulanya. Fir’aun merasa besar. Lalu merasa mirip-mirip Tuhan. Kemudian merasa layak jadi Tuhan. Maka, ia pun berseru, lantang, di tengah gelombang massa rakyatnya yang patuh-patuh itu, “Akulah Tuhan kalian.”

Luar biasa rumitnya. Kamu hebat. Tapi tidak boleh merasa hebat. Kamu besar. Tapi tidak boleh merasa besar. Kamu berkuasa. Tapi tidak boleh merasa berkuasa. Fakta dan perasaan tentang fakta yang harus dipisah. Kekuasaan dan perasaan tentang kekuasaan
yang harus dijauhkan. Itu menyakitkan. Orang-orang tidak menyukai situasi itu.

Ini perjuangan yang berat. Temanya adalah belajar memahami asal usul kita sebagai manusia. Kamudiciptakan. Kamu tidak menciptakan. Kamu hadir ke dunia tanpa apa-apa. Terlalu banyak orang berjasa atas dirimu. Terlalu banyak yang tidak kamu tahu. Terlalu banyak yang tidak kamu kendalikan. Kamu bisa kendalikan angin? Laut? Gunung?

Kamu sebenarnya tidak hebat benar. Tidak berkuasa benar. Jadi kamu tidak punya alasan untuk merasa hebat atau berkuasa. Apalagi merasa mirip Tuhan. Apalagi merasa layak jadi Tuhan. Lihat saja Fir’aun. Mati ditelan laut. Lihat saja Soekarno. Jatuh juga dari kekuasaannya. Lihat juga Soeharto. Lengser juga akhirnya.

Khalid bin Walid mungkin tersanjung. Bait-bait sanjungan dan kekaguman sang penyair membuatnya berbunga. Dia memang hebat. Sebagai panglima perang atau Gubernur Qinnasrin. Dan dia merasa hebat. Perasaan itulah yang membuatnya bermurah hati. la menghadiahi sepuluh ribu dirham untuk sang penyair.

Tapi itulah sebabnya. Atau salah satu sebabnya. Lelaki yang hebat. Sangat berkuasa. Ditakuti musuh. Dikagumi sahabat. Tapi dia melanggar tabu. Dia merasa hebat, tersanjung, lalu terjebak. Sepuluh ribu dirham itu memang dari koceknya sendiri. Tapi itu terlalu boros untuk menghargai sebuah sanjungan. Maka, Umar pun memecatnya.

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Oleh: Muhammad Anis Matta, Lc
“PERBEDAAN adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah.
Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan.
Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?”
 

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana “mengelola” ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh “pengalaman keikhlasan” yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro. Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani “pengalaman keikhlasan” seperti itu?

Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu “upaya ilmiah” seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar “lintasan pikiran” yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar.”

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan “kebenaran objektif” atau sebenarnya ada “obsesi jiwa” tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk “ngotot”? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah “obsesi jiwa” kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun “karena faktor setan” kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., “Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan.” Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?

Asas Penyikapan

Oleh: Ustadz Muhammad Anis Matta, Lc

DI TENGAH SITUASI yang terus berubah, seperti ketika dakwah merambah rimba politik, menentukan sikap merupakan salah satu pekerjaan yang rumit. Setiap situasi politik biasanya menyimpan peluang dan jebakan sekaligus. Karenanya, setiap keputusan politik pasti mengandung resiko. Para pemimpin politik diuji di sini. Karakter sebuah pergerakan akan terbentuk dan terlihat di sini.

Di sini ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan politik. Pertama, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang, dan institusinya. Jadi, bukan sekedar sikap dan keputusan yang benar, tapi sikap dan keputusan benar yang tepat! Kebenaran dan ketepatan adalah dua substansi yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik.

Kedua, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu efektif bekerja mengantar kita mencapai tujuan yang ingin kita capai. Efektivitas untuk sebagiannya terkait dengan tingkat kebenaran-ketepatan sikap dan keputusan politik, tapi untuk sebagiannya terkait dengan cara apa sikap dan keputusan politik itu diekspresikan. Efektivitas terkait dengan fungsi penyikapan dan pengambilan keputusan, terkait dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh sikap dan keputusan politik tersebut.

Ketiga, sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan politik. Dalam situasi yang terus berubah, “durasi kebenaran” seringkali tidak bertahan lama atau kita kemudian kehilangan arah dan pegangan dasar sehingga sikap dan keputusan politik kita tidak lagi konsisten. Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif; apakah
warna dasar itu bernama kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme.

Itulah tiga nilai utama yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik yang kita ambil: ketepatan, efektivitas, dan konsistensi. Ketiganya terkait dengan dua sisi yang senanriasa melekat pada sikap dan keputusan politik yang kita ambil. Sisi pertama terkait dengan substansi sikap dan keputusan politik yang kita ambil, yaitu tentang muatan kebenaran syar’i. Sedang sisi kedua terkait dengan proses penentuan sikap dan pengambilan keputusan politik, yaitu tentang cara yang kita tempuh, apakah sudah benar atau tidak.

Muatan dan proses

Muatan kebenaran dalam sebuah sikap dan keputusan polidk sesungguhnya ditentukan oleh referensi dan metode yang kita gunakan. Bagi kita kaum muslimin, sudah tentu kebenaran yang kita maksud adalah kebenaran syar’i. Karenanya, referensi kita dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan politik adalah merujuk pada syariat Islam. Sedang metode yang kita pakai adalah ijtihad. Akan tetapi, ijtihad yang benar hanya dapat dilakukan jika kita menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, pengetahuan tentang syariat Islam yang mendalam dan pada waktu yang sama, juga pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan politik yang kita hadapi. Yang pertama kita sebut dengan “fiqhi wahyu”, yang kedua “fiqhi realitas”.

Yang kita lakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah swt. dalam realitas kehidupan manusia.Jadi, fungsi ijtihad itu menempatkan setiap kebenaran wahyu pada realitasnya, pada dunianya yang tepat. Artinya, nilai ijtihad itu pada ketepatannya.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kita tegaskan di sini. Yaitu, secara substansial seluruh ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Itulah sebabnya Ibnu Taymiah mengatakan, di rnanapun ada kemaslahatan bagi manusia, disitu pasti terdapat syariat Allah. Jadi, syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia. Karena itu, Al-Syathiby mengatakan, inti politik Islam adalah mendatangkan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia dan menolak mudharat sebanyak-banyaknya dari manusia.

Kemaslahatanlah yang kemudian menentukan sikap dan keputusan politik kita. Termasuk juga di dalarnnya menentukan semua perubahan yang terjadi dalam sikap dan keputusan politik kita. Jadi, andaikan kita mendukung seseorang untuk menduduki suatu jabatan tertentu, lantas kemudian kita mengubah sikap dengan memintanya meninggalkan jabatan itu, semua perubahan itu dapat dipahami dari pendekatan maslahat

Jadi, asas penentuan sikap dan pengambilan keputusannya adalah “asumsi” maslahat yang terdapat dalam perkara itu, Karena sifatnya asumsi, maka sudah pasti relatif. Dan karena relatif, sangatlah mudah mengalami perubahan.

Namun demikian, asumsi yang kita gunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih} yang mempunyai dasar pada fakta-fakta, pertimbangan- pertimbangan rasional, dan idealita yang kita inginkan. Jika sebuah asumsi dibentuk dari realitas, rasionalitas, dan idealitas, kita berharap peluang kesalahannya menjadi lebih kecil. Dan, kelemahan itu dapat kita tutupi dengan niat yang ikhlas serta tawakkal kepada Allah swt.

Adapun sisi yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan itu sendiri. Yaitu, apa yang kemudian kita sebut dengan syuro. Karena kemaslahatan itu didefenisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk kepada realitas, rasionalitas, dan idealitas, sudah tentu akal kolektif lebih baik daripada akal individu. Karena itu, keputusan bersama selalu lebih baik daripada keputusan individu.

Tapi, apakah setiap syuro dengan sendirinya selalu melahirkan sikap dan keputusan politik yang bermutu? Tentu saja tidak ada jaminan. Tapi, peluangnya lebih besar. Meski begitu, masalah ini tetap perlu didalami lebih jauh.

Sumber: Menikmati Demokrasi

Berdakwah itu Menyeru, Bukan Menyoal Kebaikan

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti kajian ba’da sholat maghrib di salah satu masjid yang cukup padat jama’ahnya.
Sebenarnya saya tidak menyengaja mengikuti kajian tersebut. Saya ke masjid tersebut hanya ingin sholat jama’ah maghrib bersama anak saya. Bahkan saya berencana ba’da ‘isya membawa anak saya main di pertokoan sekitar masjid.
Qodarulloh, saya akhirnya mengikuti kajian tersebut.

Sebagian besar jamaah yang ikut kajian saya lihat memang jamaah tetap kajian. Ini terlihat dari buku yang dibawa para jamaah yang hadir dan dibahas oleh ustadz yang mengisi kajian, al-Firqotun Najiyah, Jalan Hidup Golongan Selamat.

Dalam kesempatan tersebut dibahas tentang dakwah tauhid. Pembahasan mengenai dakwah tauhid yang disampaikan membahas tentang model-model dakwah yang ada.
Beberapa kelompok dakwah pun menjadi obyek pembahasan dengan asumsi dan dialog imajiner yang dicreate oleh pemateri.
Saya pun mulai terpancing untuk tidak sepakat dengan asumsi-asumsi dari sang ustadz, yang cenderung menganggap salah pihak lain yang juga berdakwah, dengan berbagai zhon, prasangka, yang semestinya kita hindari. Saya heran, bagaimana mungkin kita belajar tentang tauhid, tapi disaat yang sama tidak bisa menghargai upaya orang/pihak lain dalam berdakwah? Bahkan orang/pihak yang berdakwah dengan mengajak sholat jamaah pun tak luput dari sasaran, bahwa mereka menghindar dari dakwah tauhid.

Respek saya mendadak hilang karena kemudian ustadz tersebut ‘ngrasani’ beberapa tokoh nasional karena langkah-langkah politik dalam dakwahnya. Saya sudah geregetan saja mau intercept ceramahnya, namun saya urungkan karena khawatir timbul keributan. Saya pikir, tak ada maslahat yang didapat dengan menghibah. Saya pun sudah ancang-ancang, jika nanti ada session tanya jawab, maka ghibahan ustadz itu akan saya tanyakan.

Dan akhirnya, sesi tanya jawab pun tiba. Saya mengangkat tangan tinggi-tinggi agar terlihat. Saya harus menanyakan melakukan tabayyun atas pernyataan-pernyataan yang asumtif dan imajiner itu.
Alhamdulillah, saya dapat kesempatan. Tanpa tedeng aling-aling, setelah menguap salam, kepada sang ustadz saya tanyakan seperti ini, “Tadi Anda menyebebut beberapa nama, dengan asumsi-asumsi, dengan cerita yang Anda karang. Pertanyaan saya, apakah Anda sudah bertanya orang-orang yang Anda sebut itu terkait apa yang dilakukannya? Ini penting agar tidak ada ghibah dan fitnah diantara kita disini”

Atas pertanyaan saya tersebut, sang ustadz mengakui telah khilaf, meski tetap mengetengahkan argumen yang sangat lemah. Saya tidak mau mendebatnya dan saya cukupkan saja.
Sebenarnya saya bisa dengan mudah membantah argumen lemahnya. Tapi objective saya memang tidak mau berbantah-bantah, apalagi di depan banyak orang. Mesej yang ingin saya sampaikan adalah, agar ghibahnya dalam menyampaikan dakwah tauhid tidak diulangi di kesempatan lain, dan agar jamaah juga sama-sama bersikap kritis, tidak manggut-manggut saja mengiyakan apapun yang disampaikan tanpa sikap kritis, apalagi ikut-ikutan mentertawakan jalan dakwah orang/pihak lain.

Saya share ini, untuk kita semua. Saya memohon kepada Allah agar tulisan ini bernilai amal shalih dan bermanfaat untuk kita semua. Aamiin…

Wallahu a’lamu bishshowab.

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Catatan Untuk Aswaja

Oleh: Eko Junianto, SE
Nahdhiyin, Pengusaha Jamur – Tinggal di Cilacap

Dalam acara silaturahim keluarga, biasanya kita akan dikenalkan dengan anggota keluarga lainnya. Dalam satu keluarga besar (bani fulan), kita bahkan akan dikenalkan silsilahnya sampai derajat ketujuh, baik keatas, kesamping maupun kebawah.

Dalam tingkat organisasi, hal itu lazim disebut sebagai orientasi kejama’ahan. Pengurus NU memperkenalkan badan otonom (banom) kepada warga nahdliyin, seperti Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, Maárif dan lain-lain. Dulu kyai kami malah mengenalkan struktur banom NU tersebut dengan sebuah syair lagu, sehingga mudah untuk dihafalkan.

Keluarga Besar Ahlus Sunnah
Sebagai keluarga besar NU, kaum nahdliyin cukup solid. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada keluarga besar ormas islam yang lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, FPI, Hidayatullah, Salafi dan lain-lain. Namun jika spektrumnya diperluas menjadi keluarga besar ahlus sunnah, kita masih melihat kegamangan dan gesekan disana sini.

Fenomena tersebut memang cukup mengherankan. Padahal jika diurut sampai keatas, secara keilmuan umumnya masih berkutat pada imam mazhab yang empat (imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Syafi’i dan Ahmad bin Hambal). Tidak ada yang menisbatkan diri ke imam Ja’far Shadiq maupun Muhammad bin Ismail. Artinya, mereka masih keluarga besar ahlus sunnah.

Jika dahulu persaingan antar mazhab sering diwarnai dengan hadits palsu, maka sekarang diramaikan dengan silsilah nasab dan ketersambungan sanad ilmu sebagai bumbunya. Intensitasnya memang sudah turun, namun tetap saja memprihatinkan. Karena forum lebih didominasi oleh hujatan dan caci maki ketimbang diskusi ilmiah.

Mesra dengan Musuh
Dimedan lain, kita menyaksikan banyak generasi muda islam mulai akrab dengan paham muktazilah, syiah dan khawarij. Padahal ketiganya bukanlah anggota keluarga besar ahlus sunnah. Khusus untuk NU, hal ini terlihat cukup menonjol. Kiranya siapa tokohnya, kita sama-sama sudah paham.

Sebagian dari mereka intens mengkaji tafsir hermeunetika, giat mempromosikan pluralisme dan akrab dengan filsafat perenial. Akibatnya kitab Bulughul Maram, Subulus Salam dan Riyadhus sShalihin terpinggirkan, alias kalah saingan.

Sebagian dari mereka kuat pembelaannya terhadap syiah tapi kerap mencibir jika nasib yang sama menimpa keluarga besar ahlus sunnah. Sebagian lain ada juga yang gelap mata dan terjebak pada paham-paham ekstrim yang senang mengkafirkan dan menumpahkan darah.

Sebagian dari mereka rajin mendatangi seminar di hotel tapi jarang menghadiri majelis ta’lim dan majelis dzikir di masjid. Bersemangat mengkaji pemikiran orientalis dan pakar islamologi dari barat tapi abai terhadap warisan turats para ulama.

Sulit memungkiri bahwa mereka mulai akrab dengan Huntington, John Hick, Nasr Hamid Abu Zaid, Hassan Hanafi, Ali Syari’ati dll. Disisi lain mereka seakan asing dengan Abdullah ibnu Al Mubarak, Ibnu Jauzi, Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Asqolani dll.

Salah Asuhan
Bisa jadi mereka seperti ini karena salah asuhan. Salah pendidikan, karena kita sebagai gurunya cenderung ‘ashobiyah dan terjebak fanatisme mazhab. Salah pengajaran, karena kita sebagai mentornya cenderung mengisolasi pemikiran dan suka menimpakan fitnah kepada kelompok lain.

Salah orientasi, karena kita selaku pemandu lebih sering berkiblat pada kemajuan barat tapi kadang minder terhadap identitas keislaman. Salah persepsi karena kita sering menggambarkan islam sebagai penyebab kemunduran, sumber pertikaian dan konflik sosial.

Atau bisa jadi karena salah pergaulan. Karena kita sebagai orang tuanya jarang mengadakan silaturahim keluarga besar ahlus sunnah. Sehingga mereka tidak kenal dengan siapa kawan yang harus dijadikan shahabat dan siapa lawan yang harus dijadikan musuh.

Khatimah
Dulu, kaum muslimin bersemangat untuk mewujudkan nubuwat kejayaan. Mereka ingin menjadi bagian dari pasukan yang menaklukkan konstantinopel. Tapi semangat yang sama belum terjadi secara massif demi mewujudkan nubuwat kejayaan akhir zaman, dimana akan tegak kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Di depan kita ada PR besar untuk mengharmoniskan keluarga besar ahlus sunnah. Dari sinilah kita bisa meratas jalan kejayaan Islam. Aku, kamu, dan kita semua semoga ikut bisa mengambil peranan tersebut. Menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Amin.

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah

Rasulullah SAW adalah seorang nabi dan rasul yang diutus untuk seluruh manusia. Beliau menjadi Al-Quran yang berjalan, sebab semua perintah  Allah SWT kepada umat manusia yang ada di dalam Al-Quran telah dipersonifikasikan dalam pribadi Rasulullah SAW.

Bahkan Al-Quran diturunkan seayat demi seayat seusai dengan sepak terjang kehidupan Rasulullah. Maka tiap ayat Al-Quran itu mewakili titik-titik episode dalam kehidupannya.

Bisa dikatakan tidak mungkin ada seorang yang mengaku memahami Al-Quran kalau tidak melihat peri hidup beliau. Sebab Al-Quran memang turun untuk mengiringi jalan hidup beliau. Ketika beliau wafat, maka wahyu dari langit pun berhenti turun untuk selama-lamanya.

Mustahil ada orang yang mengaku telah mengetahui semua apa yang dimaui oleh Allah SWT manakala dia belum lagi mengenal sosok beliau.

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, seorang ulama besar Syiria dalam kitabnya Fiqhus Sirah menyebutkan ada 5 hal utama yang terkait dengan urgensi mempelajari sirahnya. Kelimanya itu perlu diperhatikan oleh siapapun yang sedang belajar sejarah nabi yang agung itu. Agar  mengerti dan tahu tujuan dari usahanya dalam mendalami sejarah.

1. Memahami Kepribadian Rosul

Urgensi yang utama dalam membedah sirah nabawiyah adalah agar kita bisa mengenal lebih dekat dengan sosok dan pribadi Rasul mulia ini. Sebab dengan pendekatan sejarah pribadinya, kita bisa ikut tenggelam merasakan suka duka apa yang beliau alami.

Seolah kita masuk ke sebuah mesin waktu dan berpindah ke masa 15 abad yang lalu hadir bersama para shahabat duduk bersimpuh di sekeliling sosok manusia termulia di dunia. Apalagi ternyata yang namanya sirah itu disusun berdasarkan urutan waktu, sehingga tahap demi tahap dari episode kehidupan beliau bisa kita hadirkan dalam ingata kita.

Apa yang kita lihat dari sosok seorang Muhammad Rasulullah SAW itu bila kita proyeksikan pada diri kita sekarang ini akan menjadi pemandu hidup yang tidak ada tandingannya.

Sebuah pribadi yang muliai, pemurah, penyayang, mengasihi sesama, berani, optimis, siap sedia untuk berkorban dan tidak pernah merasa putus asa dari rahmat Allah. Beliau yang sejak lahir dalam keadaan yatim, hidup dari hasil keringat sendiri dengan menggembalakan kambing atau pergi berdagang, namun berkepribadian yang sejak dini teramat mulia, amanah dan peduli kepada siapapun.

Ketika beliau diangkat menjadi rasul, betapa berat ujian yang beliau terima, seolah tidak ada sedikit pun rasa iba dari kaumnya yang sebelumnya menggelarinya Al-Amien itu. Lemparan batu bahkan kotoran unta tak jarang mendarat di wajah yang mulia itu. Tak terhidung caci maki dan hinaan bahkan tuduhan gila beliau terima dengan lapang dada. Tak pernah beliau merasa dendam atau ingin membalas pelakunya. Ketika ada kesempatan untuk melakukan balasan pun beliau malah memafkannya. Baginya, orang mau ikut apa yang dibawanya jauh lebih indah dari pada sekedar memuaskan amarah.

Ciri yang paling khas dari pribadi belilau adalah akhlaq yang mulia yang telah ditetapkan ayat Al-quran al-Kariem

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. Al-Qalam : 4)

Semua sifat mulia itu tidak akan bisa kita rasakan bila kita tidak tenggelam dalam sirah nabawiyah.

2. Mendapatkan Gambaran Sosok Panutan dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Allah telah mentakdirkan bahwa pribadi Rasulullah SAW itu pribadi yang multi dimensi. Beliau bisa berperan menjadi banyak sosok sekaligus. Beliau adalah seorang peimpin umat, sekaligus menjadi seorang tentara yang gagah berani. Di rumah, beliau adalah seorang ayah yang mengasihi dan seorang suami yang amat mencintai istrinya. Beliau pandai mengatur ekonomi, dekat kepada orang lemah dan tidak takut menghadapi para raja.

Beliau bisa berbicara dengan sekian banyak jenis elemen masyarakat, mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Bahkan para jin yang dimensi kehidupannya jauh berbeda dari manusia pun memerlukan berguru kepada beliau.

Katakanlah : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin , lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang mena’jubkan,(QS. Al-Jin : 1)

Siapapun ilmuwan yang ingin menulis tentang beragam disiplin ilmu, bisa menengok sosok nabi SAW. KArena pada pribadi itu ada sumber ilmu yang tidak pernah kering. Seolah-olah Allah telah menjadikannya sosok yang merupakan gabungan dari sekian banyak ilmuwan, ahli, cendikiawan dan negarawan sekaligus. Bahkan para seniman dan sastrawan pun tidak pernah bisa melepaskan diri dari sosok beliau.

Hal itu dikuatkan oleh kesaksian dari Al-Quran bahwa memang benar dalam diri beliau ada suri tauladan utama yang bisa dijadikan sosok panutan semua kalangan.

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab : 21)

3. Memahami Al-Quran, merasakan Ruh dan Menjelaskan Maksudnya

Sebagaimana kami sebutkan bahwa Al-Quran itu diturunkan ayat per ayat sesuai dengan episode kehidupan Rasulullah. Maka setiap kita masuk ke dalam sirah nabawiyah, otomatis kita pun akan merasakan bagaimana jiwa Al-Quran itu diturunkan. Seolah-olah ayat demi ayat itu turun kepada kita juga manakala kita merasakan kebersamaan dengan sosok beliau di dalam lembar-lembar sejarah.

Akan sulit kita merasakan bagaimana agungnya kitab suci al-quran manakala kita tidak ikut hanyut dalam suasana ketika ayat demi ayat itu mengalir turun. Dan suasana itu adanya hanya di dalam sirah nabawiyah.

Disinilah letak titik perbedaan antara kita dengan para shahabat Rasulullah dalam interaksi mereka terhadap Al-Quran. Mereka saat itu mengalami langsung bagaimana Al-Quran membimbing mereka dalam setiap kesempatan. Mereka mengalami kesan yang sangat kuat terhadap setiap potong ayat yang turun kepada mereka juga. Sehingga wajar bila mereka begitu menghafalnya, menghayatinya dan benar paham apa maksud dari tiap ayat itu.

Sedangkan kita yang hidup di masa sekarang ini, melihat Al-Quran tiba-tiba sudah berbentuk sebuah buku yang tebal, berbahasa arab, terdiri dari 30 juzu’ dan tidak paham makna dan isinya. Maka wajar pula bila apresiasi kita saat ini dengan Al-Quran menjadi jauh di bawah para shahabat. Bahkan lebih parah lagi, kita tidak tahu mengapa dan pada situasi bagaimana tiap ayat itu turun.

Untuk menjembatani semua hal itu, menenggelamkan diri ke dasar sirah nabawiyah bisa membantu kita mendapatkan ruh dari Al-quran pada saat-saat turun. Sebab dengan menetahuinya suasana dan konteksnya, kita pun akan semakin paham apa makna dan latar belakang dari tiap ayat itu. Maka seorang yang menguasai sirah nabawiyah tentunya punya rasa yang sedikit berbeda dengan mereka yang tidak menguasainya. Perasaan bersama dengan ruh Al-quran, semangat dan kehangatannya.

Sebab atmosfir sirah nabawiyah memang masih menyimpang suasana romantisme bersama Al-quran serrta meninggalkan jejak-jejak yang teramat jelas tentang ilmu-ilmu yang dikandung Al-Quran.

4. Memperluas Cakrawala Keilmuan dan Tsaqofah Islamiyah

Sirah nabawiyah juga menyimpang berjuta ilmu pengetahuan ajaran Islam, sebab sirah merupakan sumber ajaran Islam dalam konteks sebuah kehidupan masyarakat yang utuh.

Rasulullah adalah nabi yang mendapatkan wahyu langsung dari Allah. Tiap detik kehidupannya menyimpan berjuta ilmu pengetauan dan tsaqafah yang tidak pernah kering untuk terus ditimba.

Semakin mendalam seseorang meresapi sirah nabawiyah, maka akan semakin banyak dia bisa menambang ilmu tsaqafah Islamiyah.

Dan untuk itu, para ulama, cendekia, tokoh dan ilmuwan muslim tidak bisa melepaskan diri dari sirah nabawiyah, agar tidak kehilangan sumber ilmu pengetahuan yang amat padat itu.

5. Contoh Perjalanan Dakwah, Tarbiyah dan Taklim bagi Aktifis Dakwah

Pergerakan dakwah di dunia saat ini sedang mengalami masa surut, setelah dahulu mengalami masa jaya. Rezim Barat sebagai musuh bebuyutan pergerakan Islam saat ini sudah berhasil menguasai berbagai sendiri kehidupan di negeri Islam.

Maka tidak ada jalan bagi para tokoh pergerakan kecuali kembali membuka lembar-lembar sejarah Rasulullah SAW untuk menemukan formula dan manhaj pergerakan yang bisa mengembalikan mereka kepada kejayaan masa lalu.

Sebab tiap episode dakwah Rasulullah memang menyimpang banyak kita dan metode serta pengalaman emas yang amat bermanfaat bagi para tokoh pergerakan, aktifis dakwah dan juga seluruh elemen umat Islam.

Source: cahayahati.org