PANCASILA dan Ke-INDONESIA-an Kita

Beberapa hari ini saya menjumpai hashtag #SayaPancasila. Saya tidak tahu asal usulnya, tapi dugaan saya karena berkaitan dengan hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya.

Jika maksudnya adalah sebagai reminder kepada anak bangsa agar memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, maka saya nyatakan saya adalah salah satunya.
Tapi rupanya tidak demikian kiranya.

Yang membuat saya heran adalah ada apa sesungguhnya dengan rakyat Indonesia dan Pancasila?
Apakah ke-Indonesia-an rakyat Indonesia saat ini jauh dari nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara?
Inipun saya tidak tahu pasti. Karena akhir-akhir ini banyak orang atau pihak yang mengklaim paling Pancasila dan paling Bhineka Tunggal Ika dan menuduh orang atau pihak lain yang tak sekelompok dengannya sebagai anti Pancasila dan anti Bhineka Tunggal Ika.

Yaaa… berdasarkan pengamatan saya khususnya di media sosial klaim-klaim Pancasilais dan keBhinekaan itu justru muncul dari mereka yang justru jauh dari nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Merekalah yang selama ini bersekutu dengan kemaksiatan, membela prostitusi dan pornografi.
Merekalah yang selama ini justru menodai nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Apa yang mereka lakukan itu sebatas kamuflase, menutupi keaslian tabiat mereka.

Lihatlah…, orang yang dinobatkan sebagai duta Pancasila justru orang yang telah melecehkan Pancasila. Hanya karena orang tersebut public figure.
Lihatlah mereka yang mencoba menentang putusan pengadilan dengan cara semena-mena dan melanggar undang-undang dan ketentuan yang berlaku.
Lihatlah aksi-aksi lilin yang melanggar aturan itu.
Lihatlah aksi-aksi pemaksaan kehendak kepada orang atau pihak lain agar membebaskan terpidana penistaan agama.
Lihatlah aksi sekelompok orang yang bahkan menyebutkan sila ke-4 Pancasila saja belepotan.

Sejak kasus penistaan agama, kelompok pendukung dan pembela penista agama sangat gemar menuduh orang atau pihak lain sebagai anti Pancasila dan anti keBhinekaan.
Mereka menuduh ummat Islam sebagai rasis dan anti Pancasila, dan disaat yang sama, mereka -sadar atau tidak- justru mendukung dan membela orang yang melecehkan agama dan kitab suci Ummat Islam, yang berarti telah melanggar Pancasila dan UUD 45.

Mereka seperti George Bush, presiden Amerika yang meluluh lantakkan Afghanistan dengan kampanye war againts terrorism, melakukan terror kemanusiaan dan telah membunuh banyak orang, lalu menyatakan “With us or againts us”

Jika memang mengaku #SayaPancasila, maka tegakkan hukum dengan benar dan berkeadilan!
Jika memang mengaku #SayaPancasila maka manifestasikanlah butir-butir Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara!

Ketidakadilan hukum di negeri ini telahpun menyeruak secara kasar dan keji, mengusik nurani orang-orang yang mencintai ibu pertiwi.
Ketidakadilan hukum dipertontonkan secara vulgar dan memalukan, justru untuk membungkam orang atau pihak yang berusaha menyelamatkan negeri ini dari ulah para kapitalis dan ‘penjajah modern’ yang telah memporak porandakan bangunan persatuan dan kesatuan.

Lalu setelah itu mengkampanyekan #SayaPancasila? Yang benar saja…!!!

Itulah kiranya ujian Pancasila dan ke-Indonesia-an kita. Sejauhmana manifestasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mari Bercinta…

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji Allah, dan kita mohon pertolongan kepada Allah, dan kita mohon ampunan kepada Allah.
Dan kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan dari keburukan-keburukan ‘amal kita.

Ayyuhal shalihin-shalihat, sesungguhnya cinta tertinggi adalah Cinta kepada Allah SWT, kemudian cinta kepada Rasulullah SAW. Begitu cintanya Allah kepada kita, sampai-sampai Allah memerintahkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Lalu bagaimanakah kiranya manifestasi dari rasa cinta kita itu? Bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara mengungkapkannya? Apa yang harus kita lakukan untuk cinta kita itu?

Ada banyak cara. Salah satunya adalah dengan berinteraksi secara intensif dengan Al-Quran.
Dan Ramadhan, adalah momentum yang sangat baik untuk merawat cinta kepada Allah dan kepada Rasulullah SAW.
Dan Ramadhan, adalah momentum untuk membaca ‘surat-surat Cinta’ Allah kepada kita semua, yang dengan ‘surat-surat Cinta’ itu Allah berikan petunjuk; perintah dan larangan, kabar gembira tentang syurga dan peringatan tentang dahsyatnya siksa neraka.
Ya… Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai pembeda antara yang Hak dan yang Bathil.

Bagaimana kiranya shalihin-shalihat punya rasa, jika suatu ketika dulu, saat belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini, saat kita jauh dari orang-orang yang kita cintai -orang tua, anak, kekasih hati- dan tak ada cara untuk mengungkapkan kerinduan dan cinta selain saling berkirim surat?
Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa, saat menunggu surat-surat dari orang-orang tercinta?
Lalu kemudian datanglah surat yang kita tunggu-tunggu dari orang-orang terkasih itu.

Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa dalam dada? Berbunga-bunga? Kiranya rindu yang telah sekian lama ada terobati. Kiranya hati yang merana karena cinta, menjadi berbunga-bunga seolah cinta baru bersemi.

Dan semua itu tidaklah seberapa dibanding ‘Surat-surat Cinta’ yang telah dikirim oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dikirimkan melalui manusia agung yang tiada duanya sepanjang zaman, yang sangat mencintai dan dicintai Allah, Muhammad SAW.
Ya… semua surat-surat cinta dari orang-orang tercinta dan terkasih itu tidaklah seberapa dibanding Al-Quran. Yang bila membacanya, maka Allah berikan satu kebaikan di setiap hurufnya, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya.
Ya…, Al-Quran. Yang sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Wahai para pecinta kebaikan…!
Wahai para pecinta kebenaran…!

Mari rawat cinta kita, tumbuh bersemikan cinta kita, kepada Quran…!
Yang dengan cinta itu, semoga Allah sayangi kita, menjadikannya untuk kita pemimpin, cahaya, petunjuk dan kasih sayang.

Selamat bercinta di bulan Ramadhan….! Semoga istiqomah dalam cinta.
Cinta kepada Allah…,
Cinta kepada Rasulullah…,
Cinta kepada Quran…,
Cinta kepada orang-orang beriman…,
Cinta kepada kebenaran dan keadilan…,
Cinta kepada sesama makluq ciptaan Allah.

Wallahu a’lamu bishshawab….

Iman dan Ujian

Sebagaimana orang-orang shalih yang taat pada Allah dan RasulNya, kemudian mengajak amar ma’ruf nahi munkar, saling tolong menolong dalam urusan kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah, maka sesungguhnya begitu pula halnya dengan orang-orang jahat.

Orang-orang jahat akan saling tolong-menolong (tentunya bersama syetan) dalam dosa dan permusuhan (kepada Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman). Mereka (bersama syetan) mengajak kepada kemunkaran dan mencegah orang shalih untuk berbuat baik. Tujuannya?
Tentu mengajak untuk ingkar kepada Allah, Rasul dan Kitab Allah.

Begitulah keniscayaannya. Kebaikan dan orang-orang shalih tentu akan dapat musuh. Tentu akan mendapatkan ujian.
Jangan dikira, kalau kita sudah beriman kepada Allah, beramal shalih, suka dzikir dan sholawat, kita akan fine-fine only dan happy. No…
Tidak…, tidak begitu…

Orang beriman pasti akan diuji Allah, tidak cukup dengan hanya mengatakan, “Kami beriman”. Tidak cukup.
Kalau mau masuk syurga itu cobaannya berat, sebagaimana orang-orang beriman terdahulu sebelum kita.
Diantara ujian bagi orang beriman, salah satunya adalah adanya hiruk pikuk penistaan agama. Itu ujian bagi orang beriman, dimana dia berdiri. Bersama penista agama, atau bersama para ‘ulama dan orang-orang shalih yang membela Islam dan Quran, dan menuntut penista agama dihukum berat.
Itulah salah satu ujian keimanan.

Kalau ada yang bilang, Quran tak perlu dibela, Islam tak perlu dibela, Nabi Muhammad SAW tak perlu dibela maka katakan pada mereka, “Ya, Quran tak perlu dibela, karena Quran diturunkan Allah dan Allah pula yang mengajanya. Ya, Islam tak perlu dibela, karena Islam adalah tinggi dan tak ada lagi yang lebih tinggi darinya. Tapi saya yang perlu membela. Tapi saya yang mau membela, agar saya punya nilai di hadapan Allah. Agar saya menjadi tentara Allah untuk menjaga Quran dan meninggikan kalimat tauhid. Saya yang perlu membela, agar dengannya maruah Islam dan Quran terjaga. Agar saya pantas masuk surga Allah, karena membela Quran dan agama yang diridhoi”

Mengapa begitu?
Karena mereka -orang-orang jahat itu-, ingin sekali menjauhkan orang beriman dari agamanya. Mereka sangat ingin memadamkan cahaya Allah. Sangat ingin.
Akan tetapi Allah…., Allah yang menyempurnakan cahayaNya dan orang-orang kafir tidak menyukainya, kemudian mengerahkan berbagai macam upaya.
Secara terang-terangan, atau sembunyi-sembunyi dibalik jargon Pancasilais, keBhinnekaan, pluralis dan anti diskriminasi.

Lihatlah….
Mereka berusaha menjauhkan ummat Islam dari Allah dan Rasulnya, sejak dahulu kala sampai hari ini, memanfaatkan atau bekerja sama dengan orang-orang munafik yang bermulut manis namun berhati busuk. Merekalah yang kemudian membuat rekayasa-rekayasa, tuduhan-tuduhan dan berbagai macam cara licik dan kotor. Merekalah yang kemudian menguasai media-media, membombardir informasi dengan fitnah dan kedustaan, seolah mereka tidak akan mati dan tidak akan diminta pertanggung jawaban.

Eh…, sudah panjang yaa…
Udah dulu deh…

***DISCLAIMER:
Tidak menerima debat/diskusi. Mendebat tulisan ini akan saya abaikan. Yang boleh hanya Like atau Share.

Bersih-Rapi-Tertib-Teratur di Aksi Bela Islam III

Saya mau lanjutkan cerita tentang Unforgetable Moment kemarin. Sebenarnya bingung juga mau mulai dari mana atau mau mengambil bagian mana, karena semua moment sangat-sangat berkesan. Cerita saya terdahulu adalah tentang gemuruhnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan peserta Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016.

Baiklah, saya akan ceritakan tentang kegiatan bersih-bersih yang dilakukan peserta Aksi Bela Islam III.

Aksi harus bersih, rapi, tertib dan teratur saya kira sudah ada sejak dalam pikiran sebagian besar peserta Aksi Bela Islam III. Karena itulah ajaran Islam. Bahwa Islam mengajarkan kebersihan, kerapian, ketertiban dan keteraturan.
Karena prinsip itu pulalah maka Aksi Bela Islam digelar, karena ummat Islam adalah ummat yang tertib dan teratur. Mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Maka dari itulah ummat Islam menuntut penista agama agar dihukum dan dipenjara. Ummat Islam tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis yang inkonstitusional.
Dengan tergelarnya Aksi Bela Islam III yang Bersih-Rapi-Tertib-Teratur, dengan sendirinya mematahkan tudingan-tudingan fitnah sebelumnya.

Sejak di halaman Masjid Istiqlal sebelum bertolak ke Monas, saya sudah menemui tim bersih-bersih. Mereka menggunakan syal berwarna biru muda dengan tulisan BRTT (Bersih Rapi Tertib Teratur). Dengan gesit saudara-saudara saya itu membersihkan halaman Masjid Istiqlal sebelum bergerak ke Monas. Saya abadikan orang-orang shalih itu dengan bangga. Saya bangga dengan orang-orang shalih itu.

Masuk area Monas, saya kembali menjumpai tim lain –laki-laki dan perempuan– yang mengenakan syal yang sama, bertuliskan BRTT, Bersih-Rapi-Tertib-Teratur.
Shalihin/shalihat ini sudah bekerja bahkan sebelum acara dimulai. Subhanallah. Saya sempatkan mengambil foto syal yang dikenakan oleh salah satu anggota pasukan itu. Di bagian bawah tulisan TIM BRTT itu ada logo bulat dengan tulisan Dzikir-Fikir-Ikhtir mengelilingi logo, dan tulisan DT di bagian tengah bulatan. Usut punya usut, TIM BRTT ini adalah santri-santri Daarut Tauhid, asuhan Aa’ Gym.

Sepanjang acara, TIM BRTT ini keliling menyatroni jama’ah dengan membawa kantong plastik sambil memberikan semacam himbauan untuk mengumpulkan/membuang sampah pada tempatnya, “Sampah…sampah…. mana sampahnya….?”
Sampah-sampah dari jama’ah kemudian dikumpulkan pada satu tempat yang telah ditentukan hingga bertumpuk-tumpuk.
Begitupun ketika acara sudah selesai.

Sebelumnya, pembawa acara telah mengumumkan melalui panggung bahwa acara Aksi Bela Islam III akan usai setelah sholat Jum’at. Benar saja, setelah sholat Jum’at usai, seluruh peserta berdiri untuk meninggalkan Monas.
Diantara peserta yang mengabadikan kenangan dengan berfoto ria, TIM BRTT ini melaksanakan tugasnya untuk bersih-bersih.
Ada yang menyapu, ada yang memungut sampah dengan tangannya, ada yang membawa kantong plastik. Alhasil, Monas kinclong lagi, bahkan kinclongnya melebihi sebelum ada acara (pengakuan pengelola Monas).
Dan sampah yang ‘dihasilkan’ oleh peserta Aksi Bela Islam III ini kemudian dijadikan headline oleh media dengki dengan judul “Aksi 212 Menghasilkan 600 Ton Sampah”. Luar biasa bukan judulnya?
Bagi yang tidak tahu, maka orang akan mengira bahwa peserta Aksi Bela Islam III itu menyampah sedemikian banyaknya sehingga membebani petugas kebersihan.

Memang benar bahwa sampah yang dihasilkan ratusan ton. Tapi sampah-sampah itu dibersihkan oleh peserta sendiri dan ditumpuk di tempat-tempat yang telah ditentukan untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir.
Dan area Monas –menurut pengelolanya– telah bersih kembali hanya dalam waktu satu jam. Allahu Akbar…!!!
Ini beberapa link berita tentang kebersihan Monas setelah acara Aksi Bela Islam. Tak kurang Aa’ Gym dan Pengelola Monas turun langsung bersama para peserta untuk bersih-bersih Monas.

So… jangan tertipu dengan angle berita media yang menyoroti ratusan ton sampah yang dihasilkan, tapi lihatlah bahwa peserta Aksi Bela Islam III adalah shalihin/shalihat yang peduli dengan kebersihan. Karena KEBERSIHAN ADALAH BAGIAN DARIPADA IMAN.

whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-4 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-3 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-2

Gemuruh Indonesia Raya di Aksi Bela Islam III

“Mari kita semua berdiri, kita nyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya…!” Seru pembawa acara dari panggung Aksi Damai Bela Islam III.
Lalu serentak semua berdiri. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan secara gemuruh oleh jutaan orang yang hadir memenuhi Silang Monas dan meluber hingga bundaran HI.

Di sekitar tempat saya berdiri semuanya ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan hikmat dan semangat.
Tak ada yang duduk, tak ada yang diam. Semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sepanjang sejarah Indonesia, boleh jadi inilah momen menyanyikan lagu kebangsaan terbesar yang pernah ada. Indonesia Raya dinyanyikan oleh jutaan rakyat yang menuntut penista agama dipenjara. Yaa… ruhnya dapat.

Hingga ke bagian akhir “INDONESIA RAYA MERDEKA, MERDEKA. HIDUPLAH INDONESIA RAYAAA…..!! Lalu disusul dengan pekik TAKBIR yang membahana memenuhi angkasa Jakarta. ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! Pekik takbir bergemuruh, memenuhi rongga-rongga dada. Membahana… mengangkasa… Menyesakkan, hingga membuat mata panas dan memaksa airmata tumpah.

Seumur hidup saya, boleh jadi inilah saat-saat dimana saya merasakan haru biru persaudaraan orang-orang beriman. Dalam sebuah kesempatan dan di tempat yang sama.
Inilah saat-saat saya bersama saudara-saudara saya dari berbagai pelosok negeri, bersatu padu dalam satu komando, bersatu padu dalam kesatuan hati dan tujuan. Berdzikir, berdoa dan bermunajat bersama. Memohon kekuatan pada Yang Maha Kuat. Memohon keadilan pada Yang Maha Adil. Untuk kejayaan Indonesia. Untuk Indonesia Raya yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Inilah saat-saat momen sejarah dimana ummat Islam Indonesia yang mencintai Allah, mencintai Rasulullah, mencintai Kitab Allah, mencintai ‘ulama dan ummat Islam, tidak rela negeri yang elok nan rupawan ini diacak-acak oleh orang atau pihak-pihak yang berusaha membuat kekacauan di negeri ini.
Sebagai bagian dari negeri ini, ummat Islam telah menunjukkan bahwa Ummat Islam adalah benteng pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka menjadi penting kemudian adalah, agar orang yang telah melakukan penistaan agama segera ditangkap dan dihukum sesuai undang-undang yang berlaku.
Ummat Islam telah menyatakan sikapnya, dengan cara yang baik dan damai. Semoga penegak hukum negeri ini tanggap dan bisa berlaku adil.
Mengutip Panglima TNI, “Jangan coba-coba membuat kekacauan dan memecah belah bangsa ini. Kalau itu terjadi, maka akan berhadapan dengan TNI”

Yaa… seluruh ummat Islam dan rakyat Indonesia akan bersama TNI menjaga dan merawat Indonesia…

Jadi ‘ADA RASA’ Disini…!! Hallow Pak…!!!

Ini adalah cuplikan pernyataan Aa’ Gym dalam acara ILC TVOne, hari selasa 8 Nopember 2016 kemaren.

Banyak yang aneh pak, ini bagaimana mengumpulkan orang sebanykan ini. Saya kira tidak ada partai manapun yang sanggup pak. Tidak ada tokoh manapun. Benar….?

Jadi kalo ada yang nanya apa yang menggerakkan orang? Saya juga mikir, kenapa saya ikut bergerak pak. Padahal rada kurang tertarik demo-demo selain demo masak pak, karena bisa dibagi.
Ternyata pak, saya periksa ke hati ini, oh…. ini bergerak ngongkos sendiri semuanya ini masalah hati pak. Jadi ada rasa disini yang mungkin tdk bisa dijelaskan. Dan orang yang tidak merasakannya tidak akan mengerti…!
Jadi ada rasa disini…!!

Ini ilustrasi sederhana pak yaa…. kalo ada….
Ini ilustrasi ‘ADA RASA’… ya?

Ada guru, ulama yang mengatakan gini, “Ibu-ibu jangan makan babi, karena bagi ummat Islam babi ini tidak boleh dimakan, yaa… Dalilnya Surat Al-Maidah ayat 3. Gitu ya Bu….”

Naah… Trus ada yang misalkan pedagang babi, mengatakan…, atau siapa yang beli babi, mengatakan… “Ibu-ibu jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah ayat 3!”

Oh…jadi heran kita nih…
Ini siapa…???
Kenapa pakai ngomong-ngomong Al-Maidah?
Kalau suka makan babi ya sudah silakan saja. Tapi ini wilayah yang beda.
Nyeell…kesini pak (sambil nunjuk ke hati).
Kenapa ustadz yang ngajarin dianggap bohong?
Kenapa Al-Maidah dianggap alat kebohongan? Itu sederhananya pak… yah…?

Halllooww…pak… (sambil lihat ke Kapolri) yah begitulah yang saya rasakan….

LGBT, Perilaku dan Pembelanya Yang TIDAK NORMAL

“LGBT adalah perilaku seks TIDAK NORMAL, dan yang mendukung pikirannya TIDAK NORMAL.”
-KH. Cholil Nafis-

Kira-kira begitu pernyataan KH. Cholil Nafis, salah satu Pengurus MUI Pusat dalam menyikapi maraknya issu LGBT dan getolnya para pembela LGBT.

Sebagai muslim, maka pakemnya adalah memandang dan menyikapi segala keadaan dari sudut pandang Islam, sudut pandang Quran dan Sunnah Nabi. Itu yang pertama dan utama, karena tak pijakan yang lebih baik dari keduanya. Maka demikianlah seharusnya shalihin/shalihat memandang dan menyikapi issu penyakit perilaku yang saat ini sedang marak, LGBT.
Selanjutnya, memandang dan menyikapi keadaan tersebut berdasarkan ilmu-ilmu yang lain, diantaranya kajian ilmiah, kedokteran, psikologi dan sosial budaya.

Bagi muslim, cukuplah kiranya bahwa Allah telah menerangkan pengharaman LGBT –khususnya hubungan sesama laki-laki– dalam Quran, dimana Allah telah menghukum kaum Nabi Luth.
Mari kita perhatikan peringatan Allah dalam Quran Surah Al-A’raf:80-84 berikut :

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” [80]

Sesunggguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian adalah kaum yang melampaui batas.’ [81]

Kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” [82]

’Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [83]

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [84]

Tolak LGBT1Abaikan saja orang yang menantang Allah, yang mengatakan “Jika benar Allah menghukum kaum Nabi Luth karena hubungan sejenis, mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama kepada negeri yang saat ini melegalkan LGBT?” misalnya. Mengapa? Karena pernyataan ini jelas permainan kata-kata yang menyesatkan dan hendak melawan hukum Allah.

Mengapa menolak atau anti LGBT? Karena Allah mengharamkannya. Just TAKE IT…!!! Begitu…
Itulah Iman dan taqwa. Adapun sebab-sebab yang lain, ia hanyalah pendukung dan pelengkap dari pengharaman ini.

Mau lihat dari sudut pandang mana?

– Adakah ‘produksi’ manusia yang menghasilkan keturunan itu adalah bertemunya sperma dengan sperma, atau bertemunya sel telur dengan sel telur? 

– Adakah laki-laki atau pejantan yang pernah melahirkan bayi?

– Adakah perkembangbiakan –binatang sekalipun– yang bisa terjadi karena pejantan membuahi pejantan atau betina dibuahi betina?

– Adakah binatang yang ‘menikah’ sesama jenis mereka sendiri? Kalau binatang saja ‘menikah’ dengan lawan jenis, bukankah perilaku LGBT lebih hina dari binatang?

– Dari sudut pandang agama, tak satupun agama yang ada di muka bumi ini ‘menghalalkan’ LGBT?

– Dari sudut pandang sosial budaya, adakah orang normal yang mau atau rela anak keturunannya berperilaku LGBT? Tidak ada!

– LGBT adalah perilaku kejiwaan yang menyimpang, begitulah sudut pandang psikologi.

Maka yang penting dipahami adalah bahwa LGBT itu adalah propaganda untuk menghalang-halangi laju peradabanan manusia. LGBT adalah upaya agar peradaban manusia punah, tak ada lagi manusia yang berkembang biak, menciptakan peradaban yang gemilang. Amat jelas dan terang benderang kiranya bahwa LGBT adalah propaganda untuk merusak generasi negeri ini.

Lalu bagaimana dengan pembelaan aktivis HAM terhadap LGBT?

Itulah yang disebut oleh KH. Cholil Nafis sebagai pikiran tidak normal. Mengapa? Ya karena LGBT itu menyalahi fitrah manusia, nabrak pakem agama dan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip manusia dan bersosial dan berbudaya. Hak Asasi Manusia, dalam prakteknya haruslah tidak melanggar Hak Asasi Manusia yang lain. Propaganda LGBT adalah melanggar hak asasi manusia lain, karena dalam prakteknya LGBT adalah penularan penyakit perilaku. Targetnya? Orang-orang normal.

Tolak LGBT4Sementara itu, issu HAM yang dikaitkan dengan LGBT tidak jauh-jauh dari urusan duit. Ada dana besar yang digelontorkan –bahkan oleh lembaga dunia– untuk mengkampanyekan LGBT dengan membawa issu HAM atau anti diskriminasi. Kiranya tautan ini sudah cukup bagi kita, orang-orang yang mencintai negeri ini untuk memahami bahwa LGBT adalah sebuah gerakan yang diorganisir untuk merusak negeri ini. Silakan baca disini Being LGBTI in Asia

Lalu kita harus bagaimana?

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tugas kita adalah mengajak pada kebaikan dan ikut serta memerangi kejahatan. Marilah kita renungi firman Allah dalam Quran Surah Fushshilat ayat 33, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?

Kita bisa menjadi bagian dari para penyeru kebaikan. Kita bisa menjadi bagian orang-orang yang menyampaikan kebenaran bahwa LGBT adalah perilaku TIDAK NORMAL dan mengajak orang yang mengalami masalah tersebut kembali kepada aturan Allah. Kembali kepada fithrah sebagai manusia.

Kita bisa menjadi bagian para penyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik, bukan dengan cara-cara kasar dan kotor yang tak santun. Tentu akan ada penentangan dari para pelaku kemaksiatan, dan itulah ujian atas kesabaran dalam jalan kebenaran. Kita harus tetap on the track dalam dakwah kepada Allah.
Mari kita renungi firman Allah dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:An-Nahl :125)

Dalam rangka itu pula kiranya, tulisan saya ketengahkan, sebagai ikhtiar dalam kebaikan, mengajak manusia kepada jalan Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Maka dimanakah kita berada? Menjadi bagian dari kebaikan dengan melawan propaganda para perusak –pelaku dan pendukung LGBT— itu, atau menjadi bagian dari mereka, yang tentu saja menjadikan Anda –berdasarkan kriteria KH. Cholil Nafis—punya pikiran TIDAK NORMAL.

Allahu a’lamu bishshawaab…..

“Would The World Be Better Without Islam?”

Sebuah catatan tentang film BulanTerbelah di Langit Amerika

“Would the world be better without Islam?”
NO…!!!
Dunia pasti akan kacau balau tanpa Islam.

Saya rasa itulah konklusi dari Film Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang bagi saya adalah pesan yang sangat penting. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab “NO” oleh orang yang mengalami langsung tragedi 9/11, seorang tokoh yang bernama Philips Brown. Pertanyaan itu pula kiranya, yang membuat Philips Brown mau diwawancarai oleh Rangga, meski kemudian wawancara batal.
Philips Brown menjawab NO dengan sangat mantab, karena dia tahu persis bagaimana akhlaq seorang muslim yang baik ketika meletus peristiwa tersebut.

Adalah Ibrahim Hussein –yang sebelumnya dia kenal sebagai Hasan– orang yang kemudian merubah pandangannya tentang Islam dan orang Islam. Ibrahim Hussein yang bahkan oleh istrinya sendiri dianggap terlibat dalam peristiwa 9/11, yang kemudian menjadikan Azima (Julia Collins) menjadi inferior dan menanggalkan hijabnya. Hassan yang sebelumnya ditolak oleh Philips Brown saat minta donasi untuk anak-anak Suriah sebelum kejadian 9/11, karena kebaikannya –dan itu adalah akhlaq seorang muslim– telah menginspirasi Philips Brown sebagai seorang yang dermawan setelah kejadian 9/11.

Secara keseluruhan, pesan kedamaian yang ingin disampaikan oleh Hanum Salsabila, berhasil. Pesan bahwa Islam dan orang Islam adalah keselamatan dan kedamaian, bukanlah pembuat terror.
Pesan ini penting karena pasca kejadian 9/11, yang dalam film tersebut dicitrakan pelakunya adalah muslim –tanpa memperhatikan muatan konspirasi di dalamnya– mengakibatkan gelombang Islamphobia yang sedemikian dahsyat di Amerika dan Eropa, hingga sampai ke negeri-negeri yang lain.

Tentu saja media berperan dalam menciptakan Islamphobia ini, sehingga Azima (Julia Collins) pun enggan diwawancara terkait kejadian yang diduga melibatkankan suaminya. Meski akhirnya, Julia Collins bersedia diwawancara oleh setelah Hanum meyakinkan Julia Collins dan tetangganya bagaimana akhlaq seorang muslim.
Di film ini memang tidak ditampilkan unsur konspirasi, yang saya yakin penulisnya pun telah sedikit banyak mengetahui keberadaannya. Entah mengapa, di film ini secara vulgar diketengahkan bahwa penyebab tragedi 9/11 adalah muslim, meski di ujungnya ada semacam rehabilitasi terhadap citra muslim.

Namun tentu saja, selalu ada kritik untuk sebuah kebaikan. Bagaimanapun juga, ada beberapa bagian dalam film ini, meskipun dikemas dengan jenaka, namun perlu diluruskan. Apa gerangan itu?
Ia ada dalam dialog antara Rangga dan Stefan tentang bagaimana seseorang masuk Islam. Rangga yang berkawan akrab dengan Stefan menyarankan agar Stefan masuk Islam saja, biar hidupnya gak ribet. Mari kita simak dialog mereka.
Stefan: “Bagaimana cara masuk Islam?”
Rangga: “Cukup ucapkan dua kalimat syahadat”
Stefan: “Itu saja?”
Rangga: “Ya itu saja. Tapi belum tentu masuk syurga”
Jawaban santai dan dengan mimik jenaka Rangga itu menurut saya kurang tepat, karena dengan mengucap syahadat, seseorang telah mengucapkan kalimat tauhid La ilaha illa Allah, yang dengannya ada jaminan syurga. Saya berharap itu hanyalah accident dialog.

Hal lain yang menurut saya patut dikritik adalah tentang Rianti Cartwrite, yang memerankan seorang muslimah bernama Azima (Julia Collins). Memang pesan moral kedamaian Islam tersampaikan, namun dalam waktu yang bersamaan, filem tersebut telah ‘mempermainkan’ hijab. Peran wanita muslimah, akan lebih baik kalau diperankan oleh seorang muslimah juga. Jikapun ada alur cerita Azima yang inferior atas keislamannya lalu melepas hijabnya, saya yakin ada cara lain untuk mengetengahkannya. Sehingga urusan ‘cabut pasang’ hijab itu tak secara vulgar ditampilkan.
Meski saya maklum itu dilakukan karena pemerannya non muslim, tapi tetap saja, bagi saya itu mereduksi kualitas film ini.
Secara umum saya menilai, film ini bukan film yang Islami. Namun saya mengapresiasi bahwa film ini telah mengetengahkan wajah damai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana pesan terakhir dalam film ini.

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Ayo Nonton #KMGPTheMovie

“Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”

Alhamdulillah, tadi malam nonton Ketika Mas Gagah Pergi #KMGPTheMovie, yang diproduseri langsung oleh penulis novelnya, Helvy Tiana Rosa, salah satu novelis terbaik Indonesia. Filem ini dibiayai oleh banyak orang dengan gerakan “Patungan Bikin Filem”, bahasa kerennya Crowdfunding Film, yang digagas oleh Helvy Tiana Rosa dan para pembaca novelnya. Mottonya, “Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”
Kira-kira begitu.

Semula saya mengira bahwa #KMGP akan bersetting tahun saat novel itu dibuat, 20 tahun yang lalu. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. #KMGP bersetting present day, masa kini.
Dan saya juga baru tahu kalo #KMGP yang semalam kami tonton adalah part one, akan ada lanjutannya. Sepertinya KMGP part two akan lebih ramai dan menegangkan jika diliat dari cuplikannya.

KMGP seperti yang pernah saya baca, penyuguhannya diluar dugaan saya.
Saya tidak mendapatkan yang saya harapkan, karena saya mengira cara pembuatan filmnya seperti Tausiyah Cinta. Hamas Syahid, yang memerankan tokoh Mas Gagah, saat persiapan tampil di catwalk, saya lihat diurusi oleh penata rias perempuan. Itu salah satunya. Saya berharap -seperti dalam Tausiyah Cinta- interaksi Hamas dengan non muhrim bisa terjaga. Sebagai penghafal Quran, Hamas harus sangat berhati-hati tentang hal ini. Tapi memang, KMGP ini bukan seperti film Tausiyah Cinta yang sarat dgn dakwah dalam pembuatannya, meski pesan dakwahnya juga tetap ada.

Hal lain yang terasa aneh bagi saya adalah jenggot Gagah. Kesan tempelannya sangat kelihatan. Padahal, jika diperhatikan, Hamas adalah tipe orang berbulu. Saya yakin dia punya jenggot asli. Tapi ini view subyektif saya. Boleh jadi orang lain punya view yang berbeda, dan itu sah-sah saja. Dan ternyata, setelah saya kasak kusuk sana sini, ternyata benar. Jenggot Gagah itu tempelan. Dan itu diakui oleh Helvy. Sebabnya tak lain dan tak bukan, karena timing yang gak pas dengan tumbuhnya jenggot asli Gagah pas syuting pilem.

Secara konten, ‘bintang’ dalam KMGP menurut saya adalah Gita dan Yudistira (Yudi).
Tokoh Gita ini, sangat menarik bagi saya. Bukan karena cantiknya. Tapi karena tipikalnya. Tipikal Islamphobia dan baper. Semua orang harus sejalan dengan dia. Dan tipikal Gita itu, begitu banyak dalam dunia nyata. Sekarang ini. Saat ini. Tipikal yang menantang buat para aktivis dakwah.

Sementara Yudi, tokoh satu ini membuat saya surprise, perasaan saya berkecamuk saling berantem. Saya bangga, tapi nyaris gak percaya, weird dan tapi juga malu. Bangga karena ada orang yang gigih berdakwah, bahkan anti mainstream. Dakwah dalam angkutan. Tapi sekaligus gak percaya, apakah ada di dunia nyata kota metropolitan orang kek Yudi itu. Weird, rasanya aneh cara yang dilakukan Yudi. Mengada-ada. Malu, bahwa saya tidak bisa seperti Yudi itu.

Issu Palestina juga dibawa dalam filem ini, dengan mengetengahkan sejarah bahwa Palestina adalah yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Saat ini, penjajahan Israel atas Palestina telah banyak membawa korban dan melanggar hak asasi manusia. Pertanyaan terkait Palestina, “Mengapa kita jauh-jauh mengurusi negara orang lain, disini saja banyak masalah yang harus kita selesaikan” misalnya, bisa dijawab dalam adegan terkait issu Palestina dalam film ini.

Untuk diketahui saja, mengapa kemudian filem ini di-producer-i oleh Helvy sendiri, karena Production House yang semula bersedia menerima KMGP ternyata mensyaratkan cerita tentang Palestina itu tidak ada. Adalah wajar bahwa producer punya mau ini dan itu atas film yang diproduksi. Dan Helvy tetap pada pendirian, cerita tentang Palestina harus tetap ada. Untuk itu harus diproduksi sendiri.
Qadarullah, dengan kegigihan usaha untuk mewujudkan film bermutu akhirnya filem KMGP berhasil diproduksi meski dengan patungan, istilah kerennya Crowdfunding Film. Allahu Akbar…

Issu kemanusian lainnya juga dikemas secara apik. Bagaimana Gagah membantu para preman yang mengelola banyak anak-anak tapi dengan cara yang tidak benar, akhirnya karena pertolongan Gagah dan teman-temannya, para preman itu kemudian bisa memperbaiki hidupnya. Bisa memperbaiki kehidupan anak-anak di kawasan yang kumuh.
Lalu berdirilah “Rumah Cinta”.
Ini pula yang menyebabkan Gita sangat marah kepada Gagah karena uang yang semula akan digunakan untuk backpacker-an, semuanya disumbangkan Gagah untuk penghijaun, modal kerajinan dan mendirikan Rumah Cinta. Gita pun memperbandingkan kasih sayang kakaknya, karena menurut Gita, Gagah lebih memilih membantu orang lain, daripada menyenangkan adik sendiri. Tapi memang tipikal Gita yang mau menang sendiri, penjelasan Gagah bahwa awal bulan depan bisa backpackeran sudah gak laku lagi.

Tapi saya sedih, filem bermutu yang sarat pendidikan dan pesan kebaikan seperti Tausiyah Cinta dan KMGP ini, sepi penonton. Meski setahu saya, Helvy telah jauh-jauh hari mengabarkan produksi film ini. Bahkan ada kampanye donasi untuk membuat film ini. Disini saya melihat, harus ada upaya yang benar-benar serius untuk memasarkan film-film seperti ini. Harus ada orang-orang shalih yang dermawan untuk mensponsori agar film ini ramai penonton. Karena jika tidak, produksi film yang berbiaya besar ini kurang maksimal manfaatnya.

Mari kita serbu KMGP. Kita perlu ‘show of force’, agar filem-filem dakwah lainnya nanti bisa mewarnai jagat cinema negeri kita. Yang dikaruniakan Allah kecukupan, keluarkanlah barang satu tiket, sebagai hadiah buat saudara yang lain. Niatkan sebagai sarana dakwah kepada Allah.

Ibu…, Ibu…, Ibu…, Ayah

“Ya Rasul, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”, tanya seorang laki-laki.
“Ibumu”, jawab Rasulullah SAW.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu mengulang pertanyaannya.
“Ibumu”, jaawab Rasulullah SAW lagi.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu bertanya lagi.
“Ibumu?” kembali Rasulullah SAW memberi jawaban yang sama.
“Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu lagi.
“Kemudian ayahmu”, jawab Rasulullah SAW.

Percakapan tersebut diatas termuat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang sebagian besar kita telahpun sering mendengarnya. Ia adalah hadits tentang keutamaan, kemuliaan seorang ibu bagi anak-anaknya.

Atau barangkali diantara kita pernah mendengar sebuah lagu yang berjudul “Keramat”, yang diciptakan liriknya dan dinyanyikan oleh Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama.

Hai manusia…!!!
Hormati ibumu, yang melahirkan dan membesarkanmu.
Darah dagingmu dari air susunya, jiwa ragamu dari kasih sayangnya.
Dialah manusia satu-satunya, yang menyayangimu tanpa ada batasnya.
Do’a ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan.
Ridho Ilahi karena ridhonya, murka Ilahi karena murkanya.

Lirik lagu Keramat ini tentu bukan lirik sembarangan. Sumber inspirasi lirik tersebut adalah Kitab Suci Yang Agung, yang tak ada keraguan di dalamnya, Al-Quranul Karim, dan juga hadits Nabi SAW.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang membicarakan tentang berbakti kepada ibu bapak, bahkan secara khusus menyebutkan bagaimana perjuangan ibu. Mari kita perhatikan Surah Luqman ayat 13-14 berikut,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 13-14)

Mari kita perhatikan pula riwayat berikut,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam)

Kita tentunya juga pernah membaca atau mendengar, bagaimana seorang pemuda yang kesulitan dalam sakaratul maut. Ia tidak bisa mengucapkan kalimah syahadat, meski telah ditalqin oleh sahabat utusan Rasulullah. Jangan kira ia adalah pemuda yang jahat. Tidak. Ia adalah pemuda yang taat beribadah. Rajin sholat, rajin puasa, rajin bersedekah.
Lalu apa kiranya yang membuat dia sulit mengucapkan kalimat tauhid saat ajal datang menjemput?
Kemarahan ibunya.

Ya… kemarahan ibunya lah yang menyebabkan Al-Qomah, nama pemuda itu tidak bisa mengucap kalimat tauhid saat sakaratul maut. Ibunya marah karena ia telah durhaka pada ibunya, lebih mengutamakan istrinya dibanding ibunya.
Rasulullah pun sampai-sampai hendak membakar Al-Qomah, karena ibunya tidak mau memaafkan anaknya. Rasulullah SAW menyampaikan kepada ibu Alqomah bahwa adzab Allah itu pedih dan lama. Sholat, puasa, sedekah dan semua kebaikan Alqomah tak akan memberikan manfaat sedikitpun pada Alqomah, jika ibunya masih marah dan tidak ridho pada anaknya.

Setelah mendengar tentang hal tersebut dari Rasulullah SAW, ibu Al-qomah kemudian memaafkan dan merelakan anaknya. Barulah kemudian Al-Qomah bisa mengucapkan kalimah syahat sebelum akhirnya meninggal dunia.
Rasulullah kemudian melihatnya, memerintahkan penyelenggaraan jenazah dan menshalatinya.

Setelah proses penguburan selesai, Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah azza wa jalla tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah azza wa Jalla tergantung pada kemarahannya.”

Semoga Allah karuniakan kepada kita semua ketaqwaan, yang dengannya kita berbakti kepada orang tua kita, selalu menyayangi dan mendoakan keduanya sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kita masih kecil.

Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayani shaghiran….. Aamiin….

Rabbanaghfirli wa liwalidayya wa lil mu’minina yauma yaqumul hisab…. Aammin…

*saya tulis ini untuk orang-orang yang saya cintai, ibu/bapak saya, istri dan anak-anak saya, adik-adik saya dan semua sahabat serta handai taulan*