Melihat Kembali Pemahaman Bid’ah Kita

“O ya Pak, tradisi bid’ah dengan tradisi syirik, seringkali disamakan (dianggap sama-sama dholalah), padahal tradisi, yang sering disebut bid’ah itu, sering kali tidak ada unsur syiriknya, tetapi tetap saja dianggap bid’ah yang tidak dicontohkan oleh Nabi, jadi gimana tuh ya, apakah tradisi-tradisi itu harus dihentikan, termasuk berbagai acara selametan, mauludan, milad, dll ? supaya umat Islam ini seluruhnya kompak di jalur sunnah, gimana ya Pak ?
(kali ini saya belum menemukan jawaban yang tepat untuk dicopy paste)”

Pernyataan tersebut diatas dikemukakan teman saya dalam sebuah grup pengurus musholla yang saya berada di dalamnya. Dan inilah jawaban saya.

Dalam masalah bid’ah, maka sikap kita harus hati-hati. Janganlah setiap yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW dibilang bid’ah. Kita harus ketahui bahwa kullu bid’atin dholalatin wa kullu dholalatin finnaar. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan ada di neraka.
Maka ketika kita menjudge bid’ah, maka sesungguhnya kita telah menghukumi sesuatu ada di neraka.
Apakah semudah itu menghukumi orang masuk neraka?

Mari kita kembalikan pada dalil awal bahwa man jaa-a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaaliha. Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat dari yang semisalnya (kebaikan yg dilakukan itu). Dalam Quran terlalu banyak dalil umum tentang seruan iman dan perintah amal shalih. Bagi saya sesederhana itu.

Apakah syukuran itu keburukan? Apa, dimana, bagaimana buruknya?
Apakah Maulid-an itu keburukan? Apa, dimana, bagaimana buruknya?
Apakah shalawatan, Yaasin-an itu keburukan? Apa buruknya?
Apakah setiap hal yang tidak ada pada zaman Nabi SAW tidak boleh? Benarkah?
Bukankah kita hidup di kurun yang berbeda?

Namun memang, kita juga harus meluruskan bahwa dalam syariat Islam tidak ada ‘peringatan’ tiga harian tujuh hari empat puluh hari dan sejenisnya itu, yang kemudian jadi ritual Tahlilan.
Banyak referensi bahwa itu adalah hitungan-hitungan dalam agama hindu, namun pada saat dakwah Islam waktu itu, peringatan itu dijadikan sarana dakwah yang dimodifikasi kontennya dengan bacaan-bacaan yang sudah sama-sama kita ketahui. Alhasil sampai sekarang itu menjadi budaya.

Memang kemudian, peringatan itu dibuat pembenarannya dengan dalih sedekah. Namun saya melihat, sometime ummat yang tidak tahu kemudian memaksakan diri untuk melaksanakannya.
Sebagian yang lain, karena ketidaktahuannya dan menganggap bahwa itu bagian dari syariat, kadang ada tetangganya yang tidak tahlilan dijadikan bahan gunjingan yang tidak perlu.

Saya sepakat bahwa tradisi tahlilan ini bukan bagian syariat. Namun konten dalam tahlilan itu adalah bagian dari syariat. Bacaan-bacaan dalam tahlilan itu adalah kalimat-kalimat Thayibah, yang saya yakin bahwa pembacanya mendapatkan pahala, ketika syarat untuk mendapatkan pahala terpenuhi.

Ini pandangan saya. Jika baik dan benar maka itu karunia Allah.
Boleh jadi orang lain tidak sama dengan saya, namun saya yakin bahwa dalam urusan ini kita harus mempunyai ilmunya dan membutuhkan kelapangan dada.

Kira-kira begitu….

PANCASILA dan Ke-INDONESIA-an Kita

Beberapa hari ini saya menjumpai hashtag #SayaPancasila. Saya tidak tahu asal usulnya, tapi dugaan saya karena berkaitan dengan hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya.

Jika maksudnya adalah sebagai reminder kepada anak bangsa agar memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, maka saya nyatakan saya adalah salah satunya.
Tapi rupanya tidak demikian kiranya.

Yang membuat saya heran adalah ada apa sesungguhnya dengan rakyat Indonesia dan Pancasila?
Apakah ke-Indonesia-an rakyat Indonesia saat ini jauh dari nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara?
Inipun saya tidak tahu pasti. Karena akhir-akhir ini banyak orang atau pihak yang mengklaim paling Pancasila dan paling Bhineka Tunggal Ika dan menuduh orang atau pihak lain yang tak sekelompok dengannya sebagai anti Pancasila dan anti Bhineka Tunggal Ika.

Yaaa… berdasarkan pengamatan saya khususnya di media sosial klaim-klaim Pancasilais dan keBhinekaan itu justru muncul dari mereka yang justru jauh dari nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Merekalah yang selama ini bersekutu dengan kemaksiatan, membela prostitusi dan pornografi.
Merekalah yang selama ini justru menodai nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Apa yang mereka lakukan itu sebatas kamuflase, menutupi keaslian tabiat mereka.

Lihatlah…, orang yang dinobatkan sebagai duta Pancasila justru orang yang telah melecehkan Pancasila. Hanya karena orang tersebut public figure.
Lihatlah mereka yang mencoba menentang putusan pengadilan dengan cara semena-mena dan melanggar undang-undang dan ketentuan yang berlaku.
Lihatlah aksi-aksi lilin yang melanggar aturan itu.
Lihatlah aksi-aksi pemaksaan kehendak kepada orang atau pihak lain agar membebaskan terpidana penistaan agama.
Lihatlah aksi sekelompok orang yang bahkan menyebutkan sila ke-4 Pancasila saja belepotan.

Sejak kasus penistaan agama, kelompok pendukung dan pembela penista agama sangat gemar menuduh orang atau pihak lain sebagai anti Pancasila dan anti keBhinekaan.
Mereka menuduh ummat Islam sebagai rasis dan anti Pancasila, dan disaat yang sama, mereka -sadar atau tidak- justru mendukung dan membela orang yang melecehkan agama dan kitab suci Ummat Islam, yang berarti telah melanggar Pancasila dan UUD 45.

Mereka seperti George Bush, presiden Amerika yang meluluh lantakkan Afghanistan dengan kampanye war againts terrorism, melakukan terror kemanusiaan dan telah membunuh banyak orang, lalu menyatakan “With us or againts us”

Jika memang mengaku #SayaPancasila, maka tegakkan hukum dengan benar dan berkeadilan!
Jika memang mengaku #SayaPancasila maka manifestasikanlah butir-butir Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara!

Ketidakadilan hukum di negeri ini telahpun menyeruak secara kasar dan keji, mengusik nurani orang-orang yang mencintai ibu pertiwi.
Ketidakadilan hukum dipertontonkan secara vulgar dan memalukan, justru untuk membungkam orang atau pihak yang berusaha menyelamatkan negeri ini dari ulah para kapitalis dan ‘penjajah modern’ yang telah memporak porandakan bangunan persatuan dan kesatuan.

Lalu setelah itu mengkampanyekan #SayaPancasila? Yang benar saja…!!!

Itulah kiranya ujian Pancasila dan ke-Indonesia-an kita. Sejauhmana manifestasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mari Bercinta…

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji Allah, dan kita mohon pertolongan kepada Allah, dan kita mohon ampunan kepada Allah.
Dan kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan dari keburukan-keburukan ‘amal kita.

Ayyuhal shalihin-shalihat, sesungguhnya cinta tertinggi adalah Cinta kepada Allah SWT, kemudian cinta kepada Rasulullah SAW. Begitu cintanya Allah kepada kita, sampai-sampai Allah memerintahkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Lalu bagaimanakah kiranya manifestasi dari rasa cinta kita itu? Bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara mengungkapkannya? Apa yang harus kita lakukan untuk cinta kita itu?

Ada banyak cara. Salah satunya adalah dengan berinteraksi secara intensif dengan Al-Quran.
Dan Ramadhan, adalah momentum yang sangat baik untuk merawat cinta kepada Allah dan kepada Rasulullah SAW.
Dan Ramadhan, adalah momentum untuk membaca ‘surat-surat Cinta’ Allah kepada kita semua, yang dengan ‘surat-surat Cinta’ itu Allah berikan petunjuk; perintah dan larangan, kabar gembira tentang syurga dan peringatan tentang dahsyatnya siksa neraka.
Ya… Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai pembeda antara yang Hak dan yang Bathil.

Bagaimana kiranya shalihin-shalihat punya rasa, jika suatu ketika dulu, saat belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini, saat kita jauh dari orang-orang yang kita cintai -orang tua, anak, kekasih hati- dan tak ada cara untuk mengungkapkan kerinduan dan cinta selain saling berkirim surat?
Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa, saat menunggu surat-surat dari orang-orang tercinta?
Lalu kemudian datanglah surat yang kita tunggu-tunggu dari orang-orang terkasih itu.

Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa dalam dada? Berbunga-bunga? Kiranya rindu yang telah sekian lama ada terobati. Kiranya hati yang merana karena cinta, menjadi berbunga-bunga seolah cinta baru bersemi.

Dan semua itu tidaklah seberapa dibanding ‘Surat-surat Cinta’ yang telah dikirim oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dikirimkan melalui manusia agung yang tiada duanya sepanjang zaman, yang sangat mencintai dan dicintai Allah, Muhammad SAW.
Ya… semua surat-surat cinta dari orang-orang tercinta dan terkasih itu tidaklah seberapa dibanding Al-Quran. Yang bila membacanya, maka Allah berikan satu kebaikan di setiap hurufnya, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya.
Ya…, Al-Quran. Yang sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Wahai para pecinta kebaikan…!
Wahai para pecinta kebenaran…!

Mari rawat cinta kita, tumbuh bersemikan cinta kita, kepada Quran…!
Yang dengan cinta itu, semoga Allah sayangi kita, menjadikannya untuk kita pemimpin, cahaya, petunjuk dan kasih sayang.

Selamat bercinta di bulan Ramadhan….! Semoga istiqomah dalam cinta.
Cinta kepada Allah…,
Cinta kepada Rasulullah…,
Cinta kepada Quran…,
Cinta kepada orang-orang beriman…,
Cinta kepada kebenaran dan keadilan…,
Cinta kepada sesama makluq ciptaan Allah.

Wallahu a’lamu bishshawab….

Maka BERGEMBIRALAH….!!!

Bagaimanakah kiranya jika rumah kita akan kedatangan walikota? Atau gubernur? Atau menteri? Atau presiden?
Perasaan apakah gerangan yang kemudian ada?
Tentu saja bukan ‘rasa yang pernah ada’.
Senang..?
Tentu saja. Siapa yang tidak senang dikunjungi oleh tamu-tamu agung itu.
Bangga…?
Tentu saja. Siapa yang tidak bangga. Diantara sekian warga rumah kita yang dipilih untuk dikunjungi.
 
Ramadhan, yang sebentar lagi menyapa kita, mendatangi kita semua, adalah tamu agung yang tentu lebih mulia dari walikota, gubernur, menteri, presiden atau siapapun makhluq yang saat ini menghuni bumi. Ramadhan adalah tamu agung, karena Allah menurunkan Al-Quran di bulan itu. 
Marhaban Ya Ramadhan…!!!
 
Maka berGEMBIRAlah…!!!
 
Karena satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan seperti saya sebutkan diatas, maka mari kita persiapkan segalanya dengan hati yang sangat senang tamu Ramadhan akan datang.
 
Maka berGEMBIRAlah…!!!
 
Karena Ramadhan datang bersama ‘rombongan’ keberkahan, keutamaan, kemulian, ampunan Allah dan perlindungan Allah dari neraka.
Bersama Ramadhan, Allah bukakan pintu-pintu surga. Allah tutup pintu-pintu neraka. Allah belenggu setan-setan.
Bersama Ramadhan pula, hadir ditengah-tengah kita satu malam yang lebih baik dari SERIBU BULAN.
 
Maka bergembiralah…!!!
Sambut Ramadhan dengan riang gembira…!!!
 
ARE YOU READY…???
 

Iman dan Ujian

Sebagaimana orang-orang shalih yang taat pada Allah dan RasulNya, kemudian mengajak amar ma’ruf nahi munkar, saling tolong menolong dalam urusan kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah, maka sesungguhnya begitu pula halnya dengan orang-orang jahat.

Orang-orang jahat akan saling tolong-menolong (tentunya bersama syetan) dalam dosa dan permusuhan (kepada Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman). Mereka (bersama syetan) mengajak kepada kemunkaran dan mencegah orang shalih untuk berbuat baik. Tujuannya?
Tentu mengajak untuk ingkar kepada Allah, Rasul dan Kitab Allah.

Begitulah keniscayaannya. Kebaikan dan orang-orang shalih tentu akan dapat musuh. Tentu akan mendapatkan ujian.
Jangan dikira, kalau kita sudah beriman kepada Allah, beramal shalih, suka dzikir dan sholawat, kita akan fine-fine only dan happy. No…
Tidak…, tidak begitu…

Orang beriman pasti akan diuji Allah, tidak cukup dengan hanya mengatakan, “Kami beriman”. Tidak cukup.
Kalau mau masuk syurga itu cobaannya berat, sebagaimana orang-orang beriman terdahulu sebelum kita.
Diantara ujian bagi orang beriman, salah satunya adalah adanya hiruk pikuk penistaan agama. Itu ujian bagi orang beriman, dimana dia berdiri. Bersama penista agama, atau bersama para ‘ulama dan orang-orang shalih yang membela Islam dan Quran, dan menuntut penista agama dihukum berat.
Itulah salah satu ujian keimanan.

Kalau ada yang bilang, Quran tak perlu dibela, Islam tak perlu dibela, Nabi Muhammad SAW tak perlu dibela maka katakan pada mereka, “Ya, Quran tak perlu dibela, karena Quran diturunkan Allah dan Allah pula yang mengajanya. Ya, Islam tak perlu dibela, karena Islam adalah tinggi dan tak ada lagi yang lebih tinggi darinya. Tapi saya yang perlu membela. Tapi saya yang mau membela, agar saya punya nilai di hadapan Allah. Agar saya menjadi tentara Allah untuk menjaga Quran dan meninggikan kalimat tauhid. Saya yang perlu membela, agar dengannya maruah Islam dan Quran terjaga. Agar saya pantas masuk surga Allah, karena membela Quran dan agama yang diridhoi”

Mengapa begitu?
Karena mereka -orang-orang jahat itu-, ingin sekali menjauhkan orang beriman dari agamanya. Mereka sangat ingin memadamkan cahaya Allah. Sangat ingin.
Akan tetapi Allah…., Allah yang menyempurnakan cahayaNya dan orang-orang kafir tidak menyukainya, kemudian mengerahkan berbagai macam upaya.
Secara terang-terangan, atau sembunyi-sembunyi dibalik jargon Pancasilais, keBhinnekaan, pluralis dan anti diskriminasi.

Lihatlah….
Mereka berusaha menjauhkan ummat Islam dari Allah dan Rasulnya, sejak dahulu kala sampai hari ini, memanfaatkan atau bekerja sama dengan orang-orang munafik yang bermulut manis namun berhati busuk. Merekalah yang kemudian membuat rekayasa-rekayasa, tuduhan-tuduhan dan berbagai macam cara licik dan kotor. Merekalah yang kemudian menguasai media-media, membombardir informasi dengan fitnah dan kedustaan, seolah mereka tidak akan mati dan tidak akan diminta pertanggung jawaban.

Eh…, sudah panjang yaa…
Udah dulu deh…

***DISCLAIMER:
Tidak menerima debat/diskusi. Mendebat tulisan ini akan saya abaikan. Yang boleh hanya Like atau Share.

Kelar Hidup Loe…?

Assalaamu’alaikum ayyuhal shalihin/shalihat…
Alhamdulillah, al-shalatu wa al-salamu ‘ala Rasulillah…

Ijinkan saya bertanya kepada kita semua.
Apa itu?

“Kapan terakhir kali kita membaca Al-Quran?”

Tadi pagi?
Tadi malam?
Kemarin?
Beberapa hari yang lalu?
Seminggu yang lalu?
Dua minggu yang lalu?
Sebulan yang lalu?
Atau…?

Saya berharap, kita adalah ahlul Quran, yang senantiasa membasahi bibir kita dengan bacaan Quran. Yang senantiasa mengharu biru dalam kesyahduan jika membaca Quran.
Mengapa?

Karena Al-Quran adalah CAHAYA yang diturunkan Allah, sebagai penerang yang menerangi kehidupan agar manusia tidak terkungkung dalam kejahiliyahan.
“Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.” (QS. an-Nisaa’: 174)

Karena Al-Quran adalah PETUNJUK yang akan menunjukkan arah mana yang akan kita tuju. Dengan berpegang teguh pada Quran, maka manusia tak akan sesat selama-lamanya.
“Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2).
“Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).

Karena Al-Quran adalah RAHMAT & OBAT yang dengannya Allah akan memberikan rahmat dan memberikan obat dari segala macam penyakit. Membaca Quran adalah sarana dzikrullah, yang dengannya Allah menjadikan hati kita tenang dan tenteram.
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa’: 82)

Karena Al-Quran adalah PERNIAGAAN YANG MENGUNTUNGKAN. Setiap huruf yang kita baca Allah memberikan balasan 1 kebaikan, dan 1 kebaikan itu dilipatgandakan Allah menjadi 10 kebaikan. Kalau masih mau untung lagi, membaca Al-Quran adalah kebaikan, yang dengannya Allah hapuskan keburukan-keburukan.
Siapapun dia –jika muslim– yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah.

Maka, nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan…???

Mari selalu memohon pertolongan kepada Allah, agar kita selalu dzikrullah, selalu bersyukur atas nikmat Allah dan memperbaiki ‘ibadah kita kepada Allah, termasuk -namun tidak terbatas didalamnya- adalah membaca Al-Quran.

Dengan demikian, kita terhindar dari orang-orang yang “KELAR HIDUP LOE…” karena jauh dari Allah, jauh dari Rasululullah, jauh dari Al-Quran. Na’udzubillah…..

Bersih-Rapi-Tertib-Teratur di Aksi Bela Islam III

Saya mau lanjutkan cerita tentang Unforgetable Moment kemarin. Sebenarnya bingung juga mau mulai dari mana atau mau mengambil bagian mana, karena semua moment sangat-sangat berkesan. Cerita saya terdahulu adalah tentang gemuruhnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan peserta Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016.

Baiklah, saya akan ceritakan tentang kegiatan bersih-bersih yang dilakukan peserta Aksi Bela Islam III.

Aksi harus bersih, rapi, tertib dan teratur saya kira sudah ada sejak dalam pikiran sebagian besar peserta Aksi Bela Islam III. Karena itulah ajaran Islam. Bahwa Islam mengajarkan kebersihan, kerapian, ketertiban dan keteraturan.
Karena prinsip itu pulalah maka Aksi Bela Islam digelar, karena ummat Islam adalah ummat yang tertib dan teratur. Mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Maka dari itulah ummat Islam menuntut penista agama agar dihukum dan dipenjara. Ummat Islam tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis yang inkonstitusional.
Dengan tergelarnya Aksi Bela Islam III yang Bersih-Rapi-Tertib-Teratur, dengan sendirinya mematahkan tudingan-tudingan fitnah sebelumnya.

Sejak di halaman Masjid Istiqlal sebelum bertolak ke Monas, saya sudah menemui tim bersih-bersih. Mereka menggunakan syal berwarna biru muda dengan tulisan BRTT (Bersih Rapi Tertib Teratur). Dengan gesit saudara-saudara saya itu membersihkan halaman Masjid Istiqlal sebelum bergerak ke Monas. Saya abadikan orang-orang shalih itu dengan bangga. Saya bangga dengan orang-orang shalih itu.

Masuk area Monas, saya kembali menjumpai tim lain –laki-laki dan perempuan– yang mengenakan syal yang sama, bertuliskan BRTT, Bersih-Rapi-Tertib-Teratur.
Shalihin/shalihat ini sudah bekerja bahkan sebelum acara dimulai. Subhanallah. Saya sempatkan mengambil foto syal yang dikenakan oleh salah satu anggota pasukan itu. Di bagian bawah tulisan TIM BRTT itu ada logo bulat dengan tulisan Dzikir-Fikir-Ikhtir mengelilingi logo, dan tulisan DT di bagian tengah bulatan. Usut punya usut, TIM BRTT ini adalah santri-santri Daarut Tauhid, asuhan Aa’ Gym.

Sepanjang acara, TIM BRTT ini keliling menyatroni jama’ah dengan membawa kantong plastik sambil memberikan semacam himbauan untuk mengumpulkan/membuang sampah pada tempatnya, “Sampah…sampah…. mana sampahnya….?”
Sampah-sampah dari jama’ah kemudian dikumpulkan pada satu tempat yang telah ditentukan hingga bertumpuk-tumpuk.
Begitupun ketika acara sudah selesai.

Sebelumnya, pembawa acara telah mengumumkan melalui panggung bahwa acara Aksi Bela Islam III akan usai setelah sholat Jum’at. Benar saja, setelah sholat Jum’at usai, seluruh peserta berdiri untuk meninggalkan Monas.
Diantara peserta yang mengabadikan kenangan dengan berfoto ria, TIM BRTT ini melaksanakan tugasnya untuk bersih-bersih.
Ada yang menyapu, ada yang memungut sampah dengan tangannya, ada yang membawa kantong plastik. Alhasil, Monas kinclong lagi, bahkan kinclongnya melebihi sebelum ada acara (pengakuan pengelola Monas).
Dan sampah yang ‘dihasilkan’ oleh peserta Aksi Bela Islam III ini kemudian dijadikan headline oleh media dengki dengan judul “Aksi 212 Menghasilkan 600 Ton Sampah”. Luar biasa bukan judulnya?
Bagi yang tidak tahu, maka orang akan mengira bahwa peserta Aksi Bela Islam III itu menyampah sedemikian banyaknya sehingga membebani petugas kebersihan.

Memang benar bahwa sampah yang dihasilkan ratusan ton. Tapi sampah-sampah itu dibersihkan oleh peserta sendiri dan ditumpuk di tempat-tempat yang telah ditentukan untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir.
Dan area Monas –menurut pengelolanya– telah bersih kembali hanya dalam waktu satu jam. Allahu Akbar…!!!
Ini beberapa link berita tentang kebersihan Monas setelah acara Aksi Bela Islam. Tak kurang Aa’ Gym dan Pengelola Monas turun langsung bersama para peserta untuk bersih-bersih Monas.

So… jangan tertipu dengan angle berita media yang menyoroti ratusan ton sampah yang dihasilkan, tapi lihatlah bahwa peserta Aksi Bela Islam III adalah shalihin/shalihat yang peduli dengan kebersihan. Karena KEBERSIHAN ADALAH BAGIAN DARIPADA IMAN.

whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-4 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-3 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-2

Gemuruh Indonesia Raya di Aksi Bela Islam III

“Mari kita semua berdiri, kita nyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya…!” Seru pembawa acara dari panggung Aksi Damai Bela Islam III.
Lalu serentak semua berdiri. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan secara gemuruh oleh jutaan orang yang hadir memenuhi Silang Monas dan meluber hingga bundaran HI.

Di sekitar tempat saya berdiri semuanya ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan hikmat dan semangat.
Tak ada yang duduk, tak ada yang diam. Semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sepanjang sejarah Indonesia, boleh jadi inilah momen menyanyikan lagu kebangsaan terbesar yang pernah ada. Indonesia Raya dinyanyikan oleh jutaan rakyat yang menuntut penista agama dipenjara. Yaa… ruhnya dapat.

Hingga ke bagian akhir “INDONESIA RAYA MERDEKA, MERDEKA. HIDUPLAH INDONESIA RAYAAA…..!! Lalu disusul dengan pekik TAKBIR yang membahana memenuhi angkasa Jakarta. ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! Pekik takbir bergemuruh, memenuhi rongga-rongga dada. Membahana… mengangkasa… Menyesakkan, hingga membuat mata panas dan memaksa airmata tumpah.

Seumur hidup saya, boleh jadi inilah saat-saat dimana saya merasakan haru biru persaudaraan orang-orang beriman. Dalam sebuah kesempatan dan di tempat yang sama.
Inilah saat-saat saya bersama saudara-saudara saya dari berbagai pelosok negeri, bersatu padu dalam satu komando, bersatu padu dalam kesatuan hati dan tujuan. Berdzikir, berdoa dan bermunajat bersama. Memohon kekuatan pada Yang Maha Kuat. Memohon keadilan pada Yang Maha Adil. Untuk kejayaan Indonesia. Untuk Indonesia Raya yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Inilah saat-saat momen sejarah dimana ummat Islam Indonesia yang mencintai Allah, mencintai Rasulullah, mencintai Kitab Allah, mencintai ‘ulama dan ummat Islam, tidak rela negeri yang elok nan rupawan ini diacak-acak oleh orang atau pihak-pihak yang berusaha membuat kekacauan di negeri ini.
Sebagai bagian dari negeri ini, ummat Islam telah menunjukkan bahwa Ummat Islam adalah benteng pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka menjadi penting kemudian adalah, agar orang yang telah melakukan penistaan agama segera ditangkap dan dihukum sesuai undang-undang yang berlaku.
Ummat Islam telah menyatakan sikapnya, dengan cara yang baik dan damai. Semoga penegak hukum negeri ini tanggap dan bisa berlaku adil.
Mengutip Panglima TNI, “Jangan coba-coba membuat kekacauan dan memecah belah bangsa ini. Kalau itu terjadi, maka akan berhadapan dengan TNI”

Yaa… seluruh ummat Islam dan rakyat Indonesia akan bersama TNI menjaga dan merawat Indonesia…

Fokus…!!! Kawal FATWA MUI…!!!

Dear sahabat, mari kita tetap fokus yaa….

TETAP FOKUS…!!!
KAWAL FATWA MUI…!!!

Masalah pokok dari PENISTAAN AGAMA oleh Basuki Tjahaya Purnama (BTP) adalah :

1. BTP menuduh orang yang menyampaikan al-maidah:51 membohongi orang lain. ‘Orang’ ini berarti semua orang Islam yang menyampaikan ayat tersebut kepada saudaranya yang lain sebagai nasehat dan peringatan dari Allah.

2. BTP menuduh Quran al-maidah:51 sebagai alat untuk membohongi. Sesuai pernyataannya, BTP menyampaikan sejak berpolitik tahun 2003, bahkan menuduh RASIS dan PENGECUT pada orang yang menyampaikan ayat tersebut. Dia menuduh ayat tersebut digunakan orang untuk mempengaruhi orang lain agar tidak memilih dirinya.

3. Urusan menyampaikan ayat al-maidah:51 adalah urusan internal ummat Islam. Ia adalah bagian dari dakwah Islam, untuk menyampaikan Quran, menyampaikan ayat2 Allah, sebagai kabar gembira dan pemberi peringatan.
BTP tidak punya hak sedikitpun, untuk membuat interpretasi atas ayat Quran, yang tidak ia imani, apalagi dikaitkan dengan merugikan dirinya.

TETAP FOKUS…!!!
KAWAL FATWA MUI…!!!

***yang mau SHARE silakan. Ndak perlu ijin. Kita sebarkan kebaikan***

AYAH dan IBU KEKASIHKU

Oleh: Ustadz Salim A. Fillah (@salimafillah)

Jika beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat dicintainya, “Dia di neraka”, dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang dirasanya saat kalimat itu bergema?

Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, “Ayahku dan Ayahmu di neraka”, untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?

Dan jika perbedaan pendapat para ‘ulama tentang siapa yang dimaksud “Ayah” dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?

Kumohon, hentikan.

Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para ‘ulama lain telah mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?

Bukankah Abu Dzar benar ketika memanggil Bilal, “Hai anak budak hitam!”? Tapi bukankah dia ditegur Sang Nabi ﷺ dengan tudingan ke wajah, “Kau, dalam dirimu masih terdapat jahiliah?” Dan Abu Dzarpun menyungkur ke tanah, menaburkan pasir ke wajah, serta meminta Bilal menginjak kepalanya, yang tentu ditolak oleh si kebanggaan Habasyah.

Sebagaimana pula dengan penuh ta’zhim Imam As Suyuthi telah berpanjang menjelaskan masa fatrah dan kedudukan surgawi Ayah-Bunda Rasulillah ﷺ.
Dan bahwa sebagaimana Azar ternyata adalah Paman Ibrahim, tak dapat tempatkah ta’wil bahwa “Ayah'” di dalam hadits itu adalah orang yang membesarkan Al Musthafa sejak dia ditinggal Kakeknya, yang memanggilnya “Anakku” dan lebih mencintai beliau dibanding putra-putra kandungnya, yang melindunginya dengan segala punya?

Kumohon hentikan. Di kala hujjah sudah bertemu hujjah, sesungguhnya hujat tiada lagi mendapat tempat. Perbedaan ini jangan menghalangi kita dari ilmu, ‘ulama, dan mencintai guru-guru.

Apalagi ini tentang Ayah-Ibu Kekasihku.

Bukan, bukan karena engkau berpegang pada sesuatu yang benar lalu engkau tercela. Sebab memang yang benar lebih berhak untuk dihiasi akhlaq mulia. Izinkan aku sejenak mengajakmu berkaca, kepada para salafush shalih dalam menakar cinta.

“Sungguh keislamanmu wahai Paman Rasulillah ﷺ”, ujar ‘Umar kepada ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib saat mereka bersua menjelang Fathu Makkah, “Lebih aku cintai dari keislaman Al Khaththab ayahku.”

Ini bukan karena cintanya pada sang Ayah kurang; ini semata sebab ‘Umar mengukur sikapnya dari hati manusia yang paling dicintainya, Muhammad ﷺ.
‘Abbas adalah Paman yang paling mengasihi Rasulullah setelah Abu Thalib.

“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya kelak, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”

“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu, “Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu.” Lagi-lagi ‘Umar mengukur sikapnya dari hati yang paling dia muliakan, hati Muhammad ﷺ.

Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Sang Nabi ﷺ melihat Abu Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada beliau?’

“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya”. Rasulullah ﷺ mendudukkan Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.

Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji setia pada Rasulillah ﷺ,
Abu Bakr malah menangis. Sesenggukan sedunya hingga mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah?

Namun Ash Shiddiq yang agung berkata pada Sang Nabi ﷺ, “Demi Allah. Aku lebih suka jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”

Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa mengerti Abu Bakr akan isi dada Rasulillah ﷺ.
Sahabat sejati, selalu mengukur sikapnya dari hati sang kekasih.

Lalu kini, jika kita menyebut-nyebut dengan santainya tentang neraka atau surgakah orang yang disayanginya, tak hendakkah kita sejenak bertanya, “Di mana kita dari Adab Abu Bakr dan ‘Umar itu dalam menakar cinta?”

Mari belajar menghadirkan sudut pandang Rasulillah ﷺ, bukan hanya pengetahuan tapi juga rasa; dalam setiap isi dada, kata-kata, dan perilaku kita. Inilah jalan sunnah yang penuh cinta.

Source: Instagram Ustadz Salim A. Fillah