Mari Bercinta…

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji Allah, dan kita mohon pertolongan kepada Allah, dan kita mohon ampunan kepada Allah.
Dan kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan dari keburukan-keburukan ‘amal kita.

Ayyuhal shalihin-shalihat, sesungguhnya cinta tertinggi adalah Cinta kepada Allah SWT, kemudian cinta kepada Rasulullah SAW. Begitu cintanya Allah kepada kita, sampai-sampai Allah memerintahkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Lalu bagaimanakah kiranya manifestasi dari rasa cinta kita itu? Bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara mengungkapkannya? Apa yang harus kita lakukan untuk cinta kita itu?

Ada banyak cara. Salah satunya adalah dengan berinteraksi secara intensif dengan Al-Quran.
Dan Ramadhan, adalah momentum yang sangat baik untuk merawat cinta kepada Allah dan kepada Rasulullah SAW.
Dan Ramadhan, adalah momentum untuk membaca ‘surat-surat Cinta’ Allah kepada kita semua, yang dengan ‘surat-surat Cinta’ itu Allah berikan petunjuk; perintah dan larangan, kabar gembira tentang syurga dan peringatan tentang dahsyatnya siksa neraka.
Ya… Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai pembeda antara yang Hak dan yang Bathil.

Bagaimana kiranya shalihin-shalihat punya rasa, jika suatu ketika dulu, saat belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini, saat kita jauh dari orang-orang yang kita cintai -orang tua, anak, kekasih hati- dan tak ada cara untuk mengungkapkan kerinduan dan cinta selain saling berkirim surat?
Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa, saat menunggu surat-surat dari orang-orang tercinta?
Lalu kemudian datanglah surat yang kita tunggu-tunggu dari orang-orang terkasih itu.

Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa dalam dada? Berbunga-bunga? Kiranya rindu yang telah sekian lama ada terobati. Kiranya hati yang merana karena cinta, menjadi berbunga-bunga seolah cinta baru bersemi.

Dan semua itu tidaklah seberapa dibanding ‘Surat-surat Cinta’ yang telah dikirim oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dikirimkan melalui manusia agung yang tiada duanya sepanjang zaman, yang sangat mencintai dan dicintai Allah, Muhammad SAW.
Ya… semua surat-surat cinta dari orang-orang tercinta dan terkasih itu tidaklah seberapa dibanding Al-Quran. Yang bila membacanya, maka Allah berikan satu kebaikan di setiap hurufnya, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya.
Ya…, Al-Quran. Yang sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Wahai para pecinta kebaikan…!
Wahai para pecinta kebenaran…!

Mari rawat cinta kita, tumbuh bersemikan cinta kita, kepada Quran…!
Yang dengan cinta itu, semoga Allah sayangi kita, menjadikannya untuk kita pemimpin, cahaya, petunjuk dan kasih sayang.

Selamat bercinta di bulan Ramadhan….! Semoga istiqomah dalam cinta.
Cinta kepada Allah…,
Cinta kepada Rasulullah…,
Cinta kepada Quran…,
Cinta kepada orang-orang beriman…,
Cinta kepada kebenaran dan keadilan…,
Cinta kepada sesama makluq ciptaan Allah.

Wallahu a’lamu bishshawab….

LGBT, Perilaku dan Pembelanya Yang TIDAK NORMAL

“LGBT adalah perilaku seks TIDAK NORMAL, dan yang mendukung pikirannya TIDAK NORMAL.”
-KH. Cholil Nafis-

Kira-kira begitu pernyataan KH. Cholil Nafis, salah satu Pengurus MUI Pusat dalam menyikapi maraknya issu LGBT dan getolnya para pembela LGBT.

Sebagai muslim, maka pakemnya adalah memandang dan menyikapi segala keadaan dari sudut pandang Islam, sudut pandang Quran dan Sunnah Nabi. Itu yang pertama dan utama, karena tak pijakan yang lebih baik dari keduanya. Maka demikianlah seharusnya shalihin/shalihat memandang dan menyikapi issu penyakit perilaku yang saat ini sedang marak, LGBT.
Selanjutnya, memandang dan menyikapi keadaan tersebut berdasarkan ilmu-ilmu yang lain, diantaranya kajian ilmiah, kedokteran, psikologi dan sosial budaya.

Bagi muslim, cukuplah kiranya bahwa Allah telah menerangkan pengharaman LGBT –khususnya hubungan sesama laki-laki– dalam Quran, dimana Allah telah menghukum kaum Nabi Luth.
Mari kita perhatikan peringatan Allah dalam Quran Surah Al-A’raf:80-84 berikut :

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” [80]

Sesunggguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian adalah kaum yang melampaui batas.’ [81]

Kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” [82]

’Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [83]

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [84]

Tolak LGBT1Abaikan saja orang yang menantang Allah, yang mengatakan “Jika benar Allah menghukum kaum Nabi Luth karena hubungan sejenis, mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama kepada negeri yang saat ini melegalkan LGBT?” misalnya. Mengapa? Karena pernyataan ini jelas permainan kata-kata yang menyesatkan dan hendak melawan hukum Allah.

Mengapa menolak atau anti LGBT? Karena Allah mengharamkannya. Just TAKE IT…!!! Begitu…
Itulah Iman dan taqwa. Adapun sebab-sebab yang lain, ia hanyalah pendukung dan pelengkap dari pengharaman ini.

Mau lihat dari sudut pandang mana?

– Adakah ‘produksi’ manusia yang menghasilkan keturunan itu adalah bertemunya sperma dengan sperma, atau bertemunya sel telur dengan sel telur? 

– Adakah laki-laki atau pejantan yang pernah melahirkan bayi?

– Adakah perkembangbiakan –binatang sekalipun– yang bisa terjadi karena pejantan membuahi pejantan atau betina dibuahi betina?

– Adakah binatang yang ‘menikah’ sesama jenis mereka sendiri? Kalau binatang saja ‘menikah’ dengan lawan jenis, bukankah perilaku LGBT lebih hina dari binatang?

– Dari sudut pandang agama, tak satupun agama yang ada di muka bumi ini ‘menghalalkan’ LGBT?

– Dari sudut pandang sosial budaya, adakah orang normal yang mau atau rela anak keturunannya berperilaku LGBT? Tidak ada!

– LGBT adalah perilaku kejiwaan yang menyimpang, begitulah sudut pandang psikologi.

Maka yang penting dipahami adalah bahwa LGBT itu adalah propaganda untuk menghalang-halangi laju peradabanan manusia. LGBT adalah upaya agar peradaban manusia punah, tak ada lagi manusia yang berkembang biak, menciptakan peradaban yang gemilang. Amat jelas dan terang benderang kiranya bahwa LGBT adalah propaganda untuk merusak generasi negeri ini.

Lalu bagaimana dengan pembelaan aktivis HAM terhadap LGBT?

Itulah yang disebut oleh KH. Cholil Nafis sebagai pikiran tidak normal. Mengapa? Ya karena LGBT itu menyalahi fitrah manusia, nabrak pakem agama dan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip manusia dan bersosial dan berbudaya. Hak Asasi Manusia, dalam prakteknya haruslah tidak melanggar Hak Asasi Manusia yang lain. Propaganda LGBT adalah melanggar hak asasi manusia lain, karena dalam prakteknya LGBT adalah penularan penyakit perilaku. Targetnya? Orang-orang normal.

Tolak LGBT4Sementara itu, issu HAM yang dikaitkan dengan LGBT tidak jauh-jauh dari urusan duit. Ada dana besar yang digelontorkan –bahkan oleh lembaga dunia– untuk mengkampanyekan LGBT dengan membawa issu HAM atau anti diskriminasi. Kiranya tautan ini sudah cukup bagi kita, orang-orang yang mencintai negeri ini untuk memahami bahwa LGBT adalah sebuah gerakan yang diorganisir untuk merusak negeri ini. Silakan baca disini Being LGBTI in Asia

Lalu kita harus bagaimana?

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tugas kita adalah mengajak pada kebaikan dan ikut serta memerangi kejahatan. Marilah kita renungi firman Allah dalam Quran Surah Fushshilat ayat 33, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?

Kita bisa menjadi bagian dari para penyeru kebaikan. Kita bisa menjadi bagian orang-orang yang menyampaikan kebenaran bahwa LGBT adalah perilaku TIDAK NORMAL dan mengajak orang yang mengalami masalah tersebut kembali kepada aturan Allah. Kembali kepada fithrah sebagai manusia.

Kita bisa menjadi bagian para penyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik, bukan dengan cara-cara kasar dan kotor yang tak santun. Tentu akan ada penentangan dari para pelaku kemaksiatan, dan itulah ujian atas kesabaran dalam jalan kebenaran. Kita harus tetap on the track dalam dakwah kepada Allah.
Mari kita renungi firman Allah dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:An-Nahl :125)

Dalam rangka itu pula kiranya, tulisan saya ketengahkan, sebagai ikhtiar dalam kebaikan, mengajak manusia kepada jalan Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Maka dimanakah kita berada? Menjadi bagian dari kebaikan dengan melawan propaganda para perusak –pelaku dan pendukung LGBT— itu, atau menjadi bagian dari mereka, yang tentu saja menjadikan Anda –berdasarkan kriteria KH. Cholil Nafis—punya pikiran TIDAK NORMAL.

Allahu a’lamu bishshawaab…..

Happy Birthday Sweetheart, Azzam Al-Ghozy

1 Februari 2004

12 tahun yang lalu, Allah tambah rizqi yang juga amanah buat kami. Semoga Allah hindarkan kami dari fitnahnya.
Karena memang sesungguhnya istri dan anak itu bisa jadi fitnah.

Sekarang, anak kami itu sudah kelas 6 SD.
Dua hari kemaren, berturut-turut dia memberikan kepada kami, orang tuanya, hadiah spesial. Proud of you sweetheart….

Hari sabtu 30 Januari 2016, anak saya itu diterima sebagai calon santri di Pondok Pesantren Ibnu Abbas – Klaten Jawa Tengah, salah satu ma’had tahfizhul Quran terbaik yang saya tahu.
Hari minggu 31 Januari 2016, kembali anak saya menorehkan prestasi sebagai tiga besar dalam munaqosyah.
Saya sendiri yang mengantar dan menungguinya, karena saya juga harus tahu kualitas anak saya.

Tidak lama lagi, dia akan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren di Klaten.
Dia anak kedua kami yang akan jauh dari mata kami, meski tetap dekat di hati. Kakaknya yang sulung, telah mendahului untuk ‘berpisah’ dengan kami juga dalam rangka menuntut ilmu.
Kami akan jarang bertemu, tapi kami yakin kami tetap ‘selalu bersama’.
Bersama dalam ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, yang kepadaNya kami semua akan kembali.

Ketaqwaan kepada Allah, itulah yang selalu saya tekankan kepada anak-anak kami. Menjadi apapun, harus dalam rangka ketaqwaan kepada Allah.
Termasuklah menuntut ilmu. Ia adalah dalam rangka ketaqwaan kepada Allah, yang dengan ilmu itu, kelak akan digunakan untuk sebanyak-banyaknya maslahat bagi ummat.
Menolong agama Allah, yang karenanya Allah akan menolong kita.
Ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, adalah kunci kebahagiaan.

Happy birthday my lovely son, Abdullah ‘Azzam al-Ghozy.
Semoga Allah karuniakan keutamaan padamu dalam ilmu.
Tetap semangat ya sayang…

We love you, tentu karena Allah semata.

Ibu…, Ibu…, Ibu…, Ayah

“Ya Rasul, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”, tanya seorang laki-laki.
“Ibumu”, jawab Rasulullah SAW.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu mengulang pertanyaannya.
“Ibumu”, jaawab Rasulullah SAW lagi.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu bertanya lagi.
“Ibumu?” kembali Rasulullah SAW memberi jawaban yang sama.
“Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu lagi.
“Kemudian ayahmu”, jawab Rasulullah SAW.

Percakapan tersebut diatas termuat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang sebagian besar kita telahpun sering mendengarnya. Ia adalah hadits tentang keutamaan, kemuliaan seorang ibu bagi anak-anaknya.

Atau barangkali diantara kita pernah mendengar sebuah lagu yang berjudul “Keramat”, yang diciptakan liriknya dan dinyanyikan oleh Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama.

Hai manusia…!!!
Hormati ibumu, yang melahirkan dan membesarkanmu.
Darah dagingmu dari air susunya, jiwa ragamu dari kasih sayangnya.
Dialah manusia satu-satunya, yang menyayangimu tanpa ada batasnya.
Do’a ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan.
Ridho Ilahi karena ridhonya, murka Ilahi karena murkanya.

Lirik lagu Keramat ini tentu bukan lirik sembarangan. Sumber inspirasi lirik tersebut adalah Kitab Suci Yang Agung, yang tak ada keraguan di dalamnya, Al-Quranul Karim, dan juga hadits Nabi SAW.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang membicarakan tentang berbakti kepada ibu bapak, bahkan secara khusus menyebutkan bagaimana perjuangan ibu. Mari kita perhatikan Surah Luqman ayat 13-14 berikut,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 13-14)

Mari kita perhatikan pula riwayat berikut,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam)

Kita tentunya juga pernah membaca atau mendengar, bagaimana seorang pemuda yang kesulitan dalam sakaratul maut. Ia tidak bisa mengucapkan kalimah syahadat, meski telah ditalqin oleh sahabat utusan Rasulullah. Jangan kira ia adalah pemuda yang jahat. Tidak. Ia adalah pemuda yang taat beribadah. Rajin sholat, rajin puasa, rajin bersedekah.
Lalu apa kiranya yang membuat dia sulit mengucapkan kalimat tauhid saat ajal datang menjemput?
Kemarahan ibunya.

Ya… kemarahan ibunya lah yang menyebabkan Al-Qomah, nama pemuda itu tidak bisa mengucap kalimat tauhid saat sakaratul maut. Ibunya marah karena ia telah durhaka pada ibunya, lebih mengutamakan istrinya dibanding ibunya.
Rasulullah pun sampai-sampai hendak membakar Al-Qomah, karena ibunya tidak mau memaafkan anaknya. Rasulullah SAW menyampaikan kepada ibu Alqomah bahwa adzab Allah itu pedih dan lama. Sholat, puasa, sedekah dan semua kebaikan Alqomah tak akan memberikan manfaat sedikitpun pada Alqomah, jika ibunya masih marah dan tidak ridho pada anaknya.

Setelah mendengar tentang hal tersebut dari Rasulullah SAW, ibu Al-qomah kemudian memaafkan dan merelakan anaknya. Barulah kemudian Al-Qomah bisa mengucapkan kalimah syahat sebelum akhirnya meninggal dunia.
Rasulullah kemudian melihatnya, memerintahkan penyelenggaraan jenazah dan menshalatinya.

Setelah proses penguburan selesai, Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah azza wa jalla tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah azza wa Jalla tergantung pada kemarahannya.”

Semoga Allah karuniakan kepada kita semua ketaqwaan, yang dengannya kita berbakti kepada orang tua kita, selalu menyayangi dan mendoakan keduanya sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kita masih kecil.

Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayani shaghiran….. Aamiin….

Rabbanaghfirli wa liwalidayya wa lil mu’minina yauma yaqumul hisab…. Aammin…

*saya tulis ini untuk orang-orang yang saya cintai, ibu/bapak saya, istri dan anak-anak saya, adik-adik saya dan semua sahabat serta handai taulan*

Jangan Kecewa, Jangan pula Dendam

Sakit hati dan kecewa kadang membuat orang gelap mata.
Lalu timbullah berbagai syak wasangka, zhon, dugaan-dugaan.
Menduga bahwa pihak-pihak yang membuat sakit hati atau kecewa akan selalu mengulang hal yang sama. Seolah tak ada lagi kebaikan yang bisa dilihat.

Yang lebih parah adalah timbulnya rasa, yang menginginkan pihak terkait merasakan sakit yang sama bahkan lebih menyakitkan.
Itulah dendam kesumat.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah prasangka- prasangka dan dendam itu bermanfaat? Tentu tidak.
Apakah dengan prasangka2 dan dendam itu sesuatu yang telah terjadi bisa dibatalkan? Juga tentu tidak.

So, what should we do?

Orang-orang beriman mustinya tak kurang cara dalam menyikapinya.
Yang pertama adalah RIDHO atas segala kejadian atas dirinya. Karena kalaupun tidak ridho juga tidak akan membatalkan keadaan yang membuat sakit hati atau kecewa. Sia-sia kan?
Kalo ridho, Allah karuniakan ketenangan dan kebaikan tentunya.

Yang kedua adalah jangan mempersulit diri.
Berbagai prasangka dan dendam kesumat itu adalah justru mempersulit diri dan keadaan.
Ia akan mempertebal debu-debu kebencian. Itulah ajakan syetan.

Yang ketiga adalah INSTROPEKSI. Bahasa halusnya Muhasabah.
Boleh jadi, sesuatu yang mengakibatkan sakit hati atau kecewa itu adalah karena ulah atau sikap kita, lalu Allah peringatkan kita. Maka mengaca diri adalah keniscayaan

Yang keempat adalah menyandarkan segala urusan kepada Allah.
Tak ada kejadian yang luput dari ketentuan Allah. Pun selembar daun yang jatuh ke bumi.
Seandainya seluruh makhluq bersekutu untuk menolak keburukan, ia tak akan mampu jika Allah telah menentukan. Begitu juga sebaliknya.

Dan begitulah kira-kira…

Selamat Ulang Tahun Cintaku, I Love You

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, yang kepadaNya kami menyembah, memohon pertolongan dan perlindungan, bahwa kami berdua dikaruniakan nikmat Iman dan Islam. Nikmat yang tak ada tandingannya dalam kehidupan kami. Alhamdulillah….

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, yang kepadaNya kami menyembah, memohon pertolongan dan perlindungan, bahwa kami berdua dikaruniakan kesehatan, kemurahan rizqi dan anak-anak yang shalih/shalihah. Alhamdulillah….

Hari ini, 31 Juli 2015, saya genap berusia 46 tahun. Kekasih saya, Umi Icha genap berusia 38 tahun. Loh…?
Ya…kami ditaqdirkan Allah memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama.

Buat istriku, buah hatiku, cinta dan kasihku, maafkan atas kekurangan diriku.
Maafkan jika ada laku lampah dan kataku yang mungkin menyakiti hatimu.
Kamu adalah karunia Allah yang sangat indah untukku.
Di ‘kakimu’ ada syurga untuk anak-anak kita, buah hatiku dan juga kamu.
Terima kasih atas kasih sayangmu, cintamu.
Terima kasih atas segala pengabdianmu.
Tak ada yang bisa menandingimu dalam mencintaiku, menyayangiku.

Semoga Allah menjagaku, kamu dan anak-anak kita
Dalam cinta dan kasih sayang, karena Allah semata.
Semoga Allah melindungiku, kamu dan anak-anak kita.
Dari segala keburukan dan kejahatan juga fitnah dan tipu daya.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kasih sayang dan cinta, untuk tulus ikhlash mengabdi padaNya.
Beroleh limpahan pahala yang dengannya, Allah karuniakan syurga dengan rahmatNya.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kemampuan dan kemudahan untuk bertamu.
Menunaikan Umrah dan Haji di Baitullah, Makkatul Mukarromah.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kemampuan dan kemudahan untuk bertamu.
Di Masjid Nabi Muhammad SAW, Madinatul Munawaroh.

Aamiin…aamiin…aamiin…

Aku tulis dengan penuh rasa cinta
Untukmu istriku tercinta dan tersayang

Selamat Ulang Tahun Cintaku
I Love You

“Surga Yang Tak Dirindukan”, Sebuah Ibrah

“Aku akan menikahimu. Malam ini juga. Pegang kuat tanganku, naiklah…!” ujar Prasetya meyakinkan Meirose agar tidak bunuh diri, lalu menariknya agar tidak terjatuh dari gedung rumah sakit.
Malam itu juga mereka menikah.

Dialog diatas adalah cuplikan adegan dalam filem Surga Yang Tak Dirindukan ‪#‎SYTD‬, yang diangkat dari novel karya Asma Nadia, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia tulis menulis Indonesia.
Dialog diatas itu pula awal konflik serius dalam filem #SYTD.

Catatan saya setelah menonton filem #SYTD yang menceritakan tentang poligami kurang lebih sebagai berikut :

– Bahwa poligami adalah bagian tak terpisahkan dari syari’at Islam, ia adalah aturan yang berasal dari Allah. Menentangnya, seperti menganggap poligami adalah penindasan terhadap perempuan, poligami bertentangan dengan hak asasi perempuan, maka berarti itu menentang syari’at Allah. Saya menyebutnya dengan Well Belief.
– Bahwa Poligami harus dilihat sebagai bagian (meski bukan satu-satunya) solusi yang disediakan Allah. Oleh karenanya, ilmu tentangnya haruslah diketahui secara baik. Bagaimana ‘adil yang dimaksud syari’at, bagaimana memenuhinya. Bagaimana jika sudah berusaha adil namun tetap dianggap tidak adil. Ini harus dipelajari.
Karenanya pula, bila tanpa ilmu, maka poligami yang seharusnya menjadi solusi akan menjadi bagian dari problem rumah tangga. Saya menyebutnya dengan Well Educated.
– Selanjutnya, agar syari’at Allah tentang poligami ini teraplikasi dengan baik, maka harus ada persiapan yang matang dari pelakunya. Persiapan yang paling utama -menurut saya- adalah kemampuannya untuk menafkahi lahir dan bathin. Saya menyebutnya dengan Well Prepared.
Termasuk dalam mempersiapkan ini adalah, bagaimana kita memahamkan syariat Islam kepada anak-anak, agar kelak jika dewasa tidak gagap terhadap syari’at.
– Hal berikutnya adalah, melakukan komunikasi dengan hikmah kepada pihak-pihak terdampak poligami. Istri, anak, mertua dan keluarga. Semua keluarga yang memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.
Ini penting agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Paling tidak, meminimize sakit hati utamanya dari istri. Hehehe…
Diberitahu akan lebih baik daripada tahu sendiri seperti Arini dalam filem #SYTD. Saya menyebutnya dengan Well Communicated.
–Betapa hancur hati Arini, suami yang dicintainya, yang telah berjanji pada ayahnya utk tidak menyakitinya, ternyata menikah lagi tanpa lebih dulu memberitahunya.– Ini karena tidak ada komunikasi yang baik.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari filem #SYTD adalah tentang IKHLASH.
Ikhlash atas taqdir Allah. Seperti sikap yang ditunjukkan ibunya Arini, setelah dikomplen Arini karena menyembunyikan fakta bahwa ayah Arini ternyata poligami, yang diketahui Arini saat ayah Arini wafat dan anak istrinya datang takziah.
Ikhlash itu tidak berarti tidak ada sakit hati. Ada rasa sakit hati pada ibu Arini saat ayah Arini menikah lagi. Tapi demi Arini, sang ibu betusaha ikhlash.

Hal yang sangat ditekankan dalam poligami adalah mampu berlaku ADIL. Ini memang sulit, meskipun kita sangat menginginkannya. Adil itu belum tentu tidak menyakiti. Kalau sudah emosi yang bicara, maka tidak akan ada rasa diperlakukan adil. Maka, kalau sudah diperlakukan adil, tapi masih juga sakit hati, ya derita loe, hehehe…

Kiranya itulah pandangan saya. Kalo yg mau nikah lagi, pasti sepakat dengan saya. Sementara buat para istri, termasuk istri saya, boleh jadi tidak sepakat dengan saya.
Namun sekali lagi, ini bukan tentang sepakat atau tidak. Ini tentang syari’at, ini tentang ilmu. Begitu…

Dan kata para istri shalihah, “Surga tidak hanya bisa didapat dengan ikhlash dimadu”

Nah…!!!

Marhaban Yaa Ramadhan…..!!!

marhaban-yaa-ramadhanH-2 menuju Ramadhan, bulan yang diawalnya penuh rahmat Allah, ditengahnya penuh dengan ampunan Allah dan di penghujungnya ada janji Allah untuk orang beriman dihindarkan dari api neraka.

Sudah sepatutnya sebagai orang beriman kepada Allah dan hari akhir, kita menyiapkan diri karena ada ‘tamu agung’ yang akan datang. Kalau untuk menyambut kunjungan pejabat saja kita memantaskan diri dalam segala hal, apakah lagi untuk menyambut Ramadhan? Bulan yang dengannya ‘amal sunnah dinilai sama dengan ‘amal wajib, dan ‘amal wajib dilipatgandakan balasan kebaikannya hingga tujuh puluh kali lipat.

Marhaban Yaa Ramadhan…
Mari kita sambut dengan gembira bulan yang suci dan dimuliakan Allah ini.
Pantang bagi orang-oran beriman untuk melewatkan kesempatan emas ‘bercinta’ dengan Ramadhan. Pantang pula bagi orang-orang beriman untuk mengabaikan kehadirannya.
Apatah lagi berkeluh kesah akan kehadirannya. Na’udzubillah…

Sudah bersiapkah kita?
Sudah memantaskan dirikah kita?

Berprestasi dan Berkarir

Berprestasi itu keniscayaan dari sebuah ikhtiar yang optimal. Orang berprestasi, dalam dunia human resource biasanya masuk dalam talent pool, yang karenanya kemudian menghubungkannya dengan karir. Sah-saja dengan prestasinya itu orang kemudian mengejar karir. Berprestasi dalam bekerja keniscayaannya adalah amanah yang lebih besar, dalam bahasa SDM ya karir itu. Namun harus pula tetap berhati-hati agar tidak meminta-minta jabatan.

Memang, sebagian kita terkadang hanya menghubungkan prestasi atau talent dengan karir. Kita kadang abai bahwa Allah yang paling tahu kebutuhan kita.

downloadKunci bagi orang beriman adalah taqwa. Orang bertaqwa adalah orang yang bersungguh-sungguh. Orang bertaqwa adalah orang yang berprestasi. Karena sesungguhnya orang bertaqwa sadar sepenuhnya bahwa Allah telah menjadikannya sebagai “fii ahsani taqwim” sebaik-baik penciptaan. Dengan taqwa, Allah mudahkan urusan kita, memberikan rizqi yang datang dari arah mana saja yang tidak kita duga, mengampuni dosa kita, menghapuskan keburukan kita, dan segala karunia yang lain.

Maka yang harus disadari kemudian adalah, bahwa kita bekerja sebagai ‘ibadah kepada Allah. Sementara karir adalah bertemunya ikhtiar yang maksimal dengan taqdir Allah.

Jika Allah belum mentaqdirkan, yakinlah bahwa ada karunia yang ditunda pemberiannya oleh Allah, diantara karunia-karunia lain yang telah kita nikmati lain dan kita tak akan mampu untuk menghitungnya.

Selamat hari Jum’at…. :)

Menutup Aurat adalah Qodrat

jilbab-1Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS:An-nur:31)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [1233] ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS:Al-Ahzab:59)

Pernahkah sahabat sekalian memperhatikan presenter atau host wanita di sebuah acara televisi? Pernahkah sahabat sekalian memperhatikan bagaimana presenter atau host wanita itu terlihat kikuk, ribet, salah tingkah, karena pakaiannya yang ‘kurang bahan’.

Kalau belum pernah, cobalah sesekali perhatikan bagaimana para presenter/host wanita itu kikuk, ribet, karena pakaian yang dikenakannya.

Yang saya maksudkan adalah, ketika sang presenter/host memakai rok pendek, dia akan kikuk, ribet ketika akan duduk, sementara di depan banyak audien atau penonton. Yang terjadi kemudian adalah, sang presenter/host tersebut sibuk menarik-narik roknya ke bawah, sebelum duduk. Atau kemudian setelah duduk, dia akan kikuk bagaimana harus memposisikan kaki, menghadap ke lawan bicara, miring, duduk di ujung kursi, atau sibuk melipat-lipat atau menyelip-nyelipkan roknya untuk meminimalisir bagian diatas lutut agar tidak terlihat.

Atau coba perhatikan, presenter yang menggunakan blus/baju/atasan yang berpotensi memperlihatkan aurat. Perhatikan ketika mereka akan menunduk, sudah bisa dipastikan mereka akan meletakkan tangan di dadanya. Untuk apa? Ya untuk meminimalisir bagian dadanya yang berpotensi terlihat ketika dia menunduk.

Lalu coba perhatikan, presenter/host yang memakai kaos atau baju yang perbatasan ujung bawah dan celana/roknya minim. Atau kalau pas sedang di jalanan, mungkin kita semua sering terjumpa wanita yang dibonceng motor yang sibuk menarik-narik bagian bawah baju/kaosnya, agar pinggangnya tidak terlihat.

Fenomena itu saya ketengahkan, untuk menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya menutup aurat itu keniscayaan. Bahwa sebenarnya, para wanita tidak ingin bagian tubuhnya -terutama yang sensitif- terlihat oleh orang lain yang tidak punya hak melihat.

Anda, sahabat muslimah saya, jika Anda belum menutup aurat/berjilbab, atas nama cinta saya karena Allah, saya serukan tutuplah aurat Anda, jaga maruah dan ‘izzah Anda, harga diri dan kemuliaan Anda. Karena menutup aurat Anda, semoga rahmat Allah meliputi Anda, keluarga dan orang tua Anda. Aamiin…