Rihlah ke Jogjakarta [Bag-1]

11194918_10203952988413072_180947848_oPekan lalu, saya dan 13 orang sahabat saya rihlah ke Kota Pelajar, Jogjakarta. Pilihan weekend ke tlatah Kerajaan Mataram ini adalah hasil syuro saya dan para sahabat. Setelah sebelumnya rencana rihlah ini tertunda beberapa kali, akhirnya disepakati untuk berangkat ke Jogja pada Jumat 24 April 2015.

Take off jam 07.20 dari Balikpapan dengan maskapai yang menuliskan brand-nya dengan warna hijau, kami terlambat 30 menit landing di Adi Sucipto karena sedang ada latihan militer di runway airport.Selama 30 menit itu, pilot mengajak kami berkeliling, berputar-putar di udara Jogja.

Landing -/+ jam 08.00 WIB, kami sudah dijemput EO yang akan melayani dan meng-guide kami selama berada di tlatah kerajaan Mataram ini. Tentu saja, seperti  waktu hendak masuk ruang tunggu di bandara Balikpapan, kami pun berfoto bersama di Adi Sucipto sebelum meninggalkan bandara.

11118320_10203950002498426_1191759241_nDari Adi Sucipto International Airport, kami langsung menuju SGPC Bu Wiryo 1959, tempat sarapan nasi pecel yang cukup terkenal di Jogja. SGPC adalah singkatan dari SeGoPeCel, sego = nasi. Di tempat sarapan ini, kami dihibur oleh band sederhana yang cukup apik menyanyikan lagu-lagu lawas dan lagu-lagu masa kini. Mereka terdiri dari gitarist, bassist, drummer, pemain biola dan singer. Lagu pertama yg mereka persembahkan adalah Jogjakarta-nya KLA Project. Mereka  membawakannya dengan sangat apik. Gesekan biolanya manis sekali. Pun ketika mengiringi saya menyanyi Cinta Yang Tulus. Kami berkolaborasi dengan sangat indah.

Usai nyarap di SGPC, kami langsung menuju Borobudur. Waktu tempuh perjalanan ke candi kurang lebih satu jam. Ketika melewati daerah terdampak erupsi Merapi, pak sopir menjelaskan berbagai fenomena terkait. Salah satunya adalah adanya dua buah batu yang tidak bisa dipindahkan di daerah Jumoyo-Kali Putih-Muntilan.

Konon, kedua batu itu ada yang ‘menunggu’. Ada yang ditunggu oleh makhluk dengan kepala bercula, ada yang ditunggu oleh sosok berbaju serba putih. Teman di sebelah saya berbisik menyampaikan bahwa kisah-kisah mistis itu bisa mengakibatkan kesyirikan. Sementara saya, hanya mendengarkan saja penuturan kisah pak sopir, untuk mengambil hikmahnya.

11163542_10203948647704557_115036781_oKurang lebih pukul setengah dua belas kami tiba di pelataran Candi Borobudur. Oh ya, dalam perjalan ke Borobudur, teman saya sempat bercerita bahwa Candi Borobudur ini ada kaitannya dengan sejarah Islam. Konon ada yang menulis tentang Candi Borobudur dan menghubungkannya dengan Kerajaan Saba’ dengan Ratu Bilqis, serta mengkoneksikan dengan mukjizat Nabi Sulaiman yang memindahkan istana Ratu Bilqis dalam sekedip mata. Bahkan konon, nama kota Sleman di Jogjakarta pun dikaitkan dengan nama Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Saya menimpali cerita teman saya ini dengan pernyataan ringan saja, bahwa kisah Nabi Sulaiman, Kerajaan Saba’ dan Ratu Bilqis-nya semuanya ada di tanah Arab. Semua nabi-nabi yang diutus Allah dan tertulis kisahnya dalam Qur’an, kisahnya selalu di tanah Arab.

Lalu saya mencoba mencari tulisan tentang Nabi Sulaiman, Kerajaan Saba’ dan Ratu Bilqis. Hasilnya? Silakan baca disini, disini,  atau disini.  Sementara tulisan yang menghubungkan Nabi Sulaiman, Kerajaan Saba’ dan Ratu Bilqis dengan Borobudur, Sleman atau Wonosobo diantaranya ada disini.

Turun dari minibus di pelataran parkiran candi, kami langsung diserbu para pencari rizqi. Ada yang jualan topi dan berbagai macam assesoris, ada pula yang jualan minuman. Dan tentu saja, ada penyewaan payung untuk berkeliling candi karena memang cuaca sedang panas terik. Sebelum turun dari minibus, pak sopir sudah berpesan, kalau mau beli oleh-oleh agar melakukan penawaran kisaran 70% dari harga yang ditawarkan pembeli. Maka teringat itu, saya akhirnya membeli ‘topi rimba’ warna putih tulang dengan harga 20% dari yang ditawarkan.

11169031_10203949901975913_1725125072_nKami memasuki gate area candi, kami menggunakan pass card. Dan selanjutnya, kami sudah ‘ditunggu’ oleh para penjual souvenir yang dengan gigih menawarkan dagangannya. Oh iya, sebelum melanjutkan perjalanan menaiki tangga-tangga candi, kami sempatkan foto bersama di taman setelah keluar gate area candi.

Kami berada di area candi kurang lebih setengah jam lamanya. Dari lokasi paling atas –stupa Borobudur– kami melihat pemandangan yang terbentang indah mengelilingi candi. Hijau pepohonan, birunya langit, gugusan cakrawala di kejauhan adalah ciptaan Allah yang tidak sia-sia bagi manusia. Begitulah kiranya Allah menegaskan dalam Al-Qur’an. Semua ciptaannya adalah sebagai alat bantu berpikir bagi ulul albab.

11167450_10203952993733205_1692589387_oKunjungan ke candi Borobudur kami akhir dengan sholat zhuhur dan ‘ashar secara jama’ dan qashar dan tentu saja berjama’ah di masjid area candi.

“Rabbanaa maa khlaqta hadzaa baathilan, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar…”