Bersih-Rapi-Tertib-Teratur di Aksi Bela Islam III

Saya mau lanjutkan cerita tentang Unforgetable Moment kemarin. Sebenarnya bingung juga mau mulai dari mana atau mau mengambil bagian mana, karena semua moment sangat-sangat berkesan. Cerita saya terdahulu adalah tentang gemuruhnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan peserta Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016.

Baiklah, saya akan ceritakan tentang kegiatan bersih-bersih yang dilakukan peserta Aksi Bela Islam III.

Aksi harus bersih, rapi, tertib dan teratur saya kira sudah ada sejak dalam pikiran sebagian besar peserta Aksi Bela Islam III. Karena itulah ajaran Islam. Bahwa Islam mengajarkan kebersihan, kerapian, ketertiban dan keteraturan.
Karena prinsip itu pulalah maka Aksi Bela Islam digelar, karena ummat Islam adalah ummat yang tertib dan teratur. Mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Maka dari itulah ummat Islam menuntut penista agama agar dihukum dan dipenjara. Ummat Islam tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis yang inkonstitusional.
Dengan tergelarnya Aksi Bela Islam III yang Bersih-Rapi-Tertib-Teratur, dengan sendirinya mematahkan tudingan-tudingan fitnah sebelumnya.

Sejak di halaman Masjid Istiqlal sebelum bertolak ke Monas, saya sudah menemui tim bersih-bersih. Mereka menggunakan syal berwarna biru muda dengan tulisan BRTT (Bersih Rapi Tertib Teratur). Dengan gesit saudara-saudara saya itu membersihkan halaman Masjid Istiqlal sebelum bergerak ke Monas. Saya abadikan orang-orang shalih itu dengan bangga. Saya bangga dengan orang-orang shalih itu.

Masuk area Monas, saya kembali menjumpai tim lain –laki-laki dan perempuan– yang mengenakan syal yang sama, bertuliskan BRTT, Bersih-Rapi-Tertib-Teratur.
Shalihin/shalihat ini sudah bekerja bahkan sebelum acara dimulai. Subhanallah. Saya sempatkan mengambil foto syal yang dikenakan oleh salah satu anggota pasukan itu. Di bagian bawah tulisan TIM BRTT itu ada logo bulat dengan tulisan Dzikir-Fikir-Ikhtir mengelilingi logo, dan tulisan DT di bagian tengah bulatan. Usut punya usut, TIM BRTT ini adalah santri-santri Daarut Tauhid, asuhan Aa’ Gym.

Sepanjang acara, TIM BRTT ini keliling menyatroni jama’ah dengan membawa kantong plastik sambil memberikan semacam himbauan untuk mengumpulkan/membuang sampah pada tempatnya, “Sampah…sampah…. mana sampahnya….?”
Sampah-sampah dari jama’ah kemudian dikumpulkan pada satu tempat yang telah ditentukan hingga bertumpuk-tumpuk.
Begitupun ketika acara sudah selesai.

Sebelumnya, pembawa acara telah mengumumkan melalui panggung bahwa acara Aksi Bela Islam III akan usai setelah sholat Jum’at. Benar saja, setelah sholat Jum’at usai, seluruh peserta berdiri untuk meninggalkan Monas.
Diantara peserta yang mengabadikan kenangan dengan berfoto ria, TIM BRTT ini melaksanakan tugasnya untuk bersih-bersih.
Ada yang menyapu, ada yang memungut sampah dengan tangannya, ada yang membawa kantong plastik. Alhasil, Monas kinclong lagi, bahkan kinclongnya melebihi sebelum ada acara (pengakuan pengelola Monas).
Dan sampah yang ‘dihasilkan’ oleh peserta Aksi Bela Islam III ini kemudian dijadikan headline oleh media dengki dengan judul “Aksi 212 Menghasilkan 600 Ton Sampah”. Luar biasa bukan judulnya?
Bagi yang tidak tahu, maka orang akan mengira bahwa peserta Aksi Bela Islam III itu menyampah sedemikian banyaknya sehingga membebani petugas kebersihan.

Memang benar bahwa sampah yang dihasilkan ratusan ton. Tapi sampah-sampah itu dibersihkan oleh peserta sendiri dan ditumpuk di tempat-tempat yang telah ditentukan untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir.
Dan area Monas –menurut pengelolanya– telah bersih kembali hanya dalam waktu satu jam. Allahu Akbar…!!!
Ini beberapa link berita tentang kebersihan Monas setelah acara Aksi Bela Islam. Tak kurang Aa’ Gym dan Pengelola Monas turun langsung bersama para peserta untuk bersih-bersih Monas.

So… jangan tertipu dengan angle berita media yang menyoroti ratusan ton sampah yang dihasilkan, tapi lihatlah bahwa peserta Aksi Bela Islam III adalah shalihin/shalihat yang peduli dengan kebersihan. Karena KEBERSIHAN ADALAH BAGIAN DARIPADA IMAN.

whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-4 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-3 whatsapp-image-2016-12-05-at-1-57-29-pm-2

Gemuruh Indonesia Raya di Aksi Bela Islam III

“Mari kita semua berdiri, kita nyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya…!” Seru pembawa acara dari panggung Aksi Damai Bela Islam III.
Lalu serentak semua berdiri. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan secara gemuruh oleh jutaan orang yang hadir memenuhi Silang Monas dan meluber hingga bundaran HI.

Di sekitar tempat saya berdiri semuanya ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan hikmat dan semangat.
Tak ada yang duduk, tak ada yang diam. Semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sepanjang sejarah Indonesia, boleh jadi inilah momen menyanyikan lagu kebangsaan terbesar yang pernah ada. Indonesia Raya dinyanyikan oleh jutaan rakyat yang menuntut penista agama dipenjara. Yaa… ruhnya dapat.

Hingga ke bagian akhir “INDONESIA RAYA MERDEKA, MERDEKA. HIDUPLAH INDONESIA RAYAAA…..!! Lalu disusul dengan pekik TAKBIR yang membahana memenuhi angkasa Jakarta. ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! ALLAHU AKBAR…! Pekik takbir bergemuruh, memenuhi rongga-rongga dada. Membahana… mengangkasa… Menyesakkan, hingga membuat mata panas dan memaksa airmata tumpah.

Seumur hidup saya, boleh jadi inilah saat-saat dimana saya merasakan haru biru persaudaraan orang-orang beriman. Dalam sebuah kesempatan dan di tempat yang sama.
Inilah saat-saat saya bersama saudara-saudara saya dari berbagai pelosok negeri, bersatu padu dalam satu komando, bersatu padu dalam kesatuan hati dan tujuan. Berdzikir, berdoa dan bermunajat bersama. Memohon kekuatan pada Yang Maha Kuat. Memohon keadilan pada Yang Maha Adil. Untuk kejayaan Indonesia. Untuk Indonesia Raya yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Inilah saat-saat momen sejarah dimana ummat Islam Indonesia yang mencintai Allah, mencintai Rasulullah, mencintai Kitab Allah, mencintai ‘ulama dan ummat Islam, tidak rela negeri yang elok nan rupawan ini diacak-acak oleh orang atau pihak-pihak yang berusaha membuat kekacauan di negeri ini.
Sebagai bagian dari negeri ini, ummat Islam telah menunjukkan bahwa Ummat Islam adalah benteng pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka menjadi penting kemudian adalah, agar orang yang telah melakukan penistaan agama segera ditangkap dan dihukum sesuai undang-undang yang berlaku.
Ummat Islam telah menyatakan sikapnya, dengan cara yang baik dan damai. Semoga penegak hukum negeri ini tanggap dan bisa berlaku adil.
Mengutip Panglima TNI, “Jangan coba-coba membuat kekacauan dan memecah belah bangsa ini. Kalau itu terjadi, maka akan berhadapan dengan TNI”

Yaa… seluruh ummat Islam dan rakyat Indonesia akan bersama TNI menjaga dan merawat Indonesia…

Jadi ‘ADA RASA’ Disini…!! Hallow Pak…!!!

Ini adalah cuplikan pernyataan Aa’ Gym dalam acara ILC TVOne, hari selasa 8 Nopember 2016 kemaren.

Banyak yang aneh pak, ini bagaimana mengumpulkan orang sebanykan ini. Saya kira tidak ada partai manapun yang sanggup pak. Tidak ada tokoh manapun. Benar….?

Jadi kalo ada yang nanya apa yang menggerakkan orang? Saya juga mikir, kenapa saya ikut bergerak pak. Padahal rada kurang tertarik demo-demo selain demo masak pak, karena bisa dibagi.
Ternyata pak, saya periksa ke hati ini, oh…. ini bergerak ngongkos sendiri semuanya ini masalah hati pak. Jadi ada rasa disini yang mungkin tdk bisa dijelaskan. Dan orang yang tidak merasakannya tidak akan mengerti…!
Jadi ada rasa disini…!!

Ini ilustrasi sederhana pak yaa…. kalo ada….
Ini ilustrasi ‘ADA RASA’… ya?

Ada guru, ulama yang mengatakan gini, “Ibu-ibu jangan makan babi, karena bagi ummat Islam babi ini tidak boleh dimakan, yaa… Dalilnya Surat Al-Maidah ayat 3. Gitu ya Bu….”

Naah… Trus ada yang misalkan pedagang babi, mengatakan…, atau siapa yang beli babi, mengatakan… “Ibu-ibu jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah ayat 3!”

Oh…jadi heran kita nih…
Ini siapa…???
Kenapa pakai ngomong-ngomong Al-Maidah?
Kalau suka makan babi ya sudah silakan saja. Tapi ini wilayah yang beda.
Nyeell…kesini pak (sambil nunjuk ke hati).
Kenapa ustadz yang ngajarin dianggap bohong?
Kenapa Al-Maidah dianggap alat kebohongan? Itu sederhananya pak… yah…?

Halllooww…pak… (sambil lihat ke Kapolri) yah begitulah yang saya rasakan….

“Would The World Be Better Without Islam?”

Sebuah catatan tentang film BulanTerbelah di Langit Amerika

“Would the world be better without Islam?”
NO…!!!
Dunia pasti akan kacau balau tanpa Islam.

Saya rasa itulah konklusi dari Film Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang bagi saya adalah pesan yang sangat penting. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab “NO” oleh orang yang mengalami langsung tragedi 9/11, seorang tokoh yang bernama Philips Brown. Pertanyaan itu pula kiranya, yang membuat Philips Brown mau diwawancarai oleh Rangga, meski kemudian wawancara batal.
Philips Brown menjawab NO dengan sangat mantab, karena dia tahu persis bagaimana akhlaq seorang muslim yang baik ketika meletus peristiwa tersebut.

Adalah Ibrahim Hussein –yang sebelumnya dia kenal sebagai Hasan– orang yang kemudian merubah pandangannya tentang Islam dan orang Islam. Ibrahim Hussein yang bahkan oleh istrinya sendiri dianggap terlibat dalam peristiwa 9/11, yang kemudian menjadikan Azima (Julia Collins) menjadi inferior dan menanggalkan hijabnya. Hassan yang sebelumnya ditolak oleh Philips Brown saat minta donasi untuk anak-anak Suriah sebelum kejadian 9/11, karena kebaikannya –dan itu adalah akhlaq seorang muslim– telah menginspirasi Philips Brown sebagai seorang yang dermawan setelah kejadian 9/11.

Secara keseluruhan, pesan kedamaian yang ingin disampaikan oleh Hanum Salsabila, berhasil. Pesan bahwa Islam dan orang Islam adalah keselamatan dan kedamaian, bukanlah pembuat terror.
Pesan ini penting karena pasca kejadian 9/11, yang dalam film tersebut dicitrakan pelakunya adalah muslim –tanpa memperhatikan muatan konspirasi di dalamnya– mengakibatkan gelombang Islamphobia yang sedemikian dahsyat di Amerika dan Eropa, hingga sampai ke negeri-negeri yang lain.

Tentu saja media berperan dalam menciptakan Islamphobia ini, sehingga Azima (Julia Collins) pun enggan diwawancara terkait kejadian yang diduga melibatkankan suaminya. Meski akhirnya, Julia Collins bersedia diwawancara oleh setelah Hanum meyakinkan Julia Collins dan tetangganya bagaimana akhlaq seorang muslim.
Di film ini memang tidak ditampilkan unsur konspirasi, yang saya yakin penulisnya pun telah sedikit banyak mengetahui keberadaannya. Entah mengapa, di film ini secara vulgar diketengahkan bahwa penyebab tragedi 9/11 adalah muslim, meski di ujungnya ada semacam rehabilitasi terhadap citra muslim.

Namun tentu saja, selalu ada kritik untuk sebuah kebaikan. Bagaimanapun juga, ada beberapa bagian dalam film ini, meskipun dikemas dengan jenaka, namun perlu diluruskan. Apa gerangan itu?
Ia ada dalam dialog antara Rangga dan Stefan tentang bagaimana seseorang masuk Islam. Rangga yang berkawan akrab dengan Stefan menyarankan agar Stefan masuk Islam saja, biar hidupnya gak ribet. Mari kita simak dialog mereka.
Stefan: “Bagaimana cara masuk Islam?”
Rangga: “Cukup ucapkan dua kalimat syahadat”
Stefan: “Itu saja?”
Rangga: “Ya itu saja. Tapi belum tentu masuk syurga”
Jawaban santai dan dengan mimik jenaka Rangga itu menurut saya kurang tepat, karena dengan mengucap syahadat, seseorang telah mengucapkan kalimat tauhid La ilaha illa Allah, yang dengannya ada jaminan syurga. Saya berharap itu hanyalah accident dialog.

Hal lain yang menurut saya patut dikritik adalah tentang Rianti Cartwrite, yang memerankan seorang muslimah bernama Azima (Julia Collins). Memang pesan moral kedamaian Islam tersampaikan, namun dalam waktu yang bersamaan, filem tersebut telah ‘mempermainkan’ hijab. Peran wanita muslimah, akan lebih baik kalau diperankan oleh seorang muslimah juga. Jikapun ada alur cerita Azima yang inferior atas keislamannya lalu melepas hijabnya, saya yakin ada cara lain untuk mengetengahkannya. Sehingga urusan ‘cabut pasang’ hijab itu tak secara vulgar ditampilkan.
Meski saya maklum itu dilakukan karena pemerannya non muslim, tapi tetap saja, bagi saya itu mereduksi kualitas film ini.
Secara umum saya menilai, film ini bukan film yang Islami. Namun saya mengapresiasi bahwa film ini telah mengetengahkan wajah damai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana pesan terakhir dalam film ini.

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Catatan Untuk Aswaja

Oleh: Eko Junianto, SE
Nahdhiyin, Pengusaha Jamur – Tinggal di Cilacap

Dalam acara silaturahim keluarga, biasanya kita akan dikenalkan dengan anggota keluarga lainnya. Dalam satu keluarga besar (bani fulan), kita bahkan akan dikenalkan silsilahnya sampai derajat ketujuh, baik keatas, kesamping maupun kebawah.

Dalam tingkat organisasi, hal itu lazim disebut sebagai orientasi kejama’ahan. Pengurus NU memperkenalkan badan otonom (banom) kepada warga nahdliyin, seperti Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, Maárif dan lain-lain. Dulu kyai kami malah mengenalkan struktur banom NU tersebut dengan sebuah syair lagu, sehingga mudah untuk dihafalkan.

Keluarga Besar Ahlus Sunnah
Sebagai keluarga besar NU, kaum nahdliyin cukup solid. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada keluarga besar ormas islam yang lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, FPI, Hidayatullah, Salafi dan lain-lain. Namun jika spektrumnya diperluas menjadi keluarga besar ahlus sunnah, kita masih melihat kegamangan dan gesekan disana sini.

Fenomena tersebut memang cukup mengherankan. Padahal jika diurut sampai keatas, secara keilmuan umumnya masih berkutat pada imam mazhab yang empat (imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Syafi’i dan Ahmad bin Hambal). Tidak ada yang menisbatkan diri ke imam Ja’far Shadiq maupun Muhammad bin Ismail. Artinya, mereka masih keluarga besar ahlus sunnah.

Jika dahulu persaingan antar mazhab sering diwarnai dengan hadits palsu, maka sekarang diramaikan dengan silsilah nasab dan ketersambungan sanad ilmu sebagai bumbunya. Intensitasnya memang sudah turun, namun tetap saja memprihatinkan. Karena forum lebih didominasi oleh hujatan dan caci maki ketimbang diskusi ilmiah.

Mesra dengan Musuh
Dimedan lain, kita menyaksikan banyak generasi muda islam mulai akrab dengan paham muktazilah, syiah dan khawarij. Padahal ketiganya bukanlah anggota keluarga besar ahlus sunnah. Khusus untuk NU, hal ini terlihat cukup menonjol. Kiranya siapa tokohnya, kita sama-sama sudah paham.

Sebagian dari mereka intens mengkaji tafsir hermeunetika, giat mempromosikan pluralisme dan akrab dengan filsafat perenial. Akibatnya kitab Bulughul Maram, Subulus Salam dan Riyadhus sShalihin terpinggirkan, alias kalah saingan.

Sebagian dari mereka kuat pembelaannya terhadap syiah tapi kerap mencibir jika nasib yang sama menimpa keluarga besar ahlus sunnah. Sebagian lain ada juga yang gelap mata dan terjebak pada paham-paham ekstrim yang senang mengkafirkan dan menumpahkan darah.

Sebagian dari mereka rajin mendatangi seminar di hotel tapi jarang menghadiri majelis ta’lim dan majelis dzikir di masjid. Bersemangat mengkaji pemikiran orientalis dan pakar islamologi dari barat tapi abai terhadap warisan turats para ulama.

Sulit memungkiri bahwa mereka mulai akrab dengan Huntington, John Hick, Nasr Hamid Abu Zaid, Hassan Hanafi, Ali Syari’ati dll. Disisi lain mereka seakan asing dengan Abdullah ibnu Al Mubarak, Ibnu Jauzi, Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Asqolani dll.

Salah Asuhan
Bisa jadi mereka seperti ini karena salah asuhan. Salah pendidikan, karena kita sebagai gurunya cenderung ‘ashobiyah dan terjebak fanatisme mazhab. Salah pengajaran, karena kita sebagai mentornya cenderung mengisolasi pemikiran dan suka menimpakan fitnah kepada kelompok lain.

Salah orientasi, karena kita selaku pemandu lebih sering berkiblat pada kemajuan barat tapi kadang minder terhadap identitas keislaman. Salah persepsi karena kita sering menggambarkan islam sebagai penyebab kemunduran, sumber pertikaian dan konflik sosial.

Atau bisa jadi karena salah pergaulan. Karena kita sebagai orang tuanya jarang mengadakan silaturahim keluarga besar ahlus sunnah. Sehingga mereka tidak kenal dengan siapa kawan yang harus dijadikan shahabat dan siapa lawan yang harus dijadikan musuh.

Khatimah
Dulu, kaum muslimin bersemangat untuk mewujudkan nubuwat kejayaan. Mereka ingin menjadi bagian dari pasukan yang menaklukkan konstantinopel. Tapi semangat yang sama belum terjadi secara massif demi mewujudkan nubuwat kejayaan akhir zaman, dimana akan tegak kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Di depan kita ada PR besar untuk mengharmoniskan keluarga besar ahlus sunnah. Dari sinilah kita bisa meratas jalan kejayaan Islam. Aku, kamu, dan kita semua semoga ikut bisa mengambil peranan tersebut. Menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Amin.

Islam Rising, Berita Gembira Dunia Islam

Islam RisingMeski di negara terbelakang dan berkembang, Islam mendapatkan tantangan, di negara maju, Islam melaju. Syawal adalah bulan peningkatan. Yuk share berita-berita menggembirakan dunia Islam di kanal media sosialmu. Posting di Instagram, Path, Pinterest, Google+, Facebook dan Twittermu. Sebar juga di BBM, LINE, Wechat, Kakao dan Whatsapp.

Ini dia 13 daftar berita gembira dari dunia Islam. Mau nambahin? Boleh bingitssss

PEW RESEARCH : Mengapa Islam menjadi agama yang tumbuh paling cepat saat ini : http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/04/23/why-muslims-are-the-worlds-fastest-growing-religious-group/ #IslamRising

TIME : Bagaimana Islam menjadi agama yang tumbuh paling cepat di Eropa : http://time.com/3671514/islam-europe/ #IslamRising

Islam tumbuh pesat di semua negara di dunia http://learningenglish.voanews.com/content/islam-fastest-growing-religion/2733147.html #IslamRising

CNN : Islam akan tumbuh dari 1,6 Milyar menjadi 2,76 Milyar pada 2050 http://edition.cnn.com/2015/04/02/living/pew-study-religion/ #IslamRising

FORBES : Russia segera menjadi negara Muslim? http://www.forbes.com/sites/markadomanis/2013/10/23/is-russia-turning-muslim/ #IslamRising

VIDEO : Russia menjadi negara dengan pertumbuhan Islam paling cepat https://www.youtube.com/watch?v=-6ZmGnz73sU #IslamRising

100.000 wanita yang akhirnya memeluk Islam di Inggris rata-rata berusia 27 tahun http://www.dailymail.co.uk/news/article-1343954/100-000-Islam-converts-living-UK-White-women-keen-embrace-Muslim-faith.html #IslamRising

VIDEO : Islam tumbuh pesat di Inggris, agama lain turun
https://www.youtube.com/watch?v=QmqrFK4-OfQ #IslamRising

TELEGRAPH : Jumlah bayi Muslim naik 2x lipat dalam 1 dekade terakhir di Inggris http://www.telegraph.co.uk/news/religion/11406700/Number-of-Muslim-children-in-Britain-doubles-in-a-decade.html #IslamRising

GATESTONE INSTITUTE : Tak terbantahkan, Islam tumbuh paling pesat di Inggris Raya http://www.gatestoneinstitute.org/3500/islam-growing-religion-britain #IslamRising

NEW YORK TIMES : Pertumbuhan Islam di Perancis Fantastis http://www.nytimes.com/2013/02/04/world/europe/rise-of-islamic-converts-challenges-france.html?_r=0 #IslamRising

Sejak 2012, Islam ternyata telah menjadi agama terbesar di Perancis http://www.gatestoneinstitute.org/3426/islam-overtaking-catholicism-france #IslamRising

THE DIPLOMAT : Pada 2050, 1,5 Milyar Muslim ada di Asia http://thediplomat.com/2015/04/1-5-billion-muslims-may-live-in-asia-in-2050/ #IslamRising

“Sang Kyai di Dadaku”, Refleksi Muktamar NU Ke-33

11707994_445481165634491_8940725852877761125_oNabi Ibrahim menempati posisi yang sangat istimewa. Kaum Yahudi, Nashrani dan Muslimin senang dengan sosok Ibrahim dan menisbatkan diri sebagai penerus asli millah Ibrahim. Bahkan kaum musyrik Makkah juga sering mengklaim hal yang sama.

Politik klaim seperti itu terjadi dimana saja, termasuk juga di NU. Mereka yang masuk “darah biru” pendiri NU merasa paling sah sebagai pewarisnya. Mereka yang berada dalam struktur merasa paling memiliki otoritas. Mereka yang mengkaji pemikiran dan ajarannya merasa paling memiliki legitimasi.

Dalam konteks perjuangan, mereka yang dianggap sebagai pewaris lebih ditekankan pada pihak yang konsisten mengikuti jejak langkahnya dan meneruskan cita–cita perjuangannya. Karena itulah Rasulullah SAW pernah berseru “Kita lebih berhak atas Musa daripada kaum yahudi”.

Mengenal Sang Kyai
Bisa jadi kita termasuk kaum nahdliyin kelas akar rumput, bahkan sering pula diingkari sebagai warga nahdliyin. Bukan karena tidak yasinan, tahlilan, shalawatan dan ziarah kubur, tapi lebih karena tidak berkiprah di suatu partai politik tertentu atau karena menolak paham Syiah, Pluralis, Liberal dan Sekuler.

Tidak perlu berkecil hati dengan semua itu. Mari terus kita pelajari kisah hidupnya, teruskan perjuangannya dan mempraktikkan ajaran – ajarannya. Sungguh, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari adalah salah seorang ulama Rabbani. Semoga dengan itu, kita bisa dipertemukan dengan beliau di akherat kelak. Amin.

Pertama, Guru yang Bijak
Beliau benar – benar memiliki toleransi yang tinggi. Meski menjadi Rais Syuriyah NU, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya di Ponpes Tebu Ireng untuk menjadi orang NU. Meski menganut thoriqoh, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya untuk mengikuti jejaknya. Beliau juga sangat dekat dan akrab dengan KH Ahmad Dhalan, karena sama – sama sebagai santrinya Kyai Saleh Darat Semarang dan Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah. Dan, daftarnya masih banyak…

Hal ini mengingatkan kita dengan Imam Malik bin Anas, gurunya imam Syafi’i. Beliau kan mengarang kitab Al Muwaththa’. Kitabnya menjadi rujukan standar bagi para ulama salaf maupun khalaf saat mereka mulai belajar islam (mondok), mulai dari Imam Syafi’i, Imam Nawawi sampai seorang Ibnu Hazm (mahzhab zhahiri) sekalipun. Namun, ia menolak saat kitabnya akan dijadikan standar yang dilegitimasi melalui kekuatan negara.

Bahkan ia menolak tawaran dari Harun Al Rasyid yang meminta Al Muwaththa di gantung di Ka’bah (demi menyatukan ilmu umat islam). “Sesungguhnya para shahabat telah banyak berselisih dalam masalah cabang (fiqih), mereka telah tersebar di banyak negara dan masing – masing telah berfatwa kepada kaumnya” jawabnya. Padahal, Kitab Al Muwaththa’ adalah kitab paling shahih dimasanya.

Kedua, Ilmu yang Shahih
Ilmunya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari benar – benar shahih. Selepas nyantri ke Syaikh Khalil Bangkalan dan Kyai Saleh Darat Semarang, beliau melanjutkan petualangannya nyantri sampai ke Makkah. Diantaranya ke Syaikh Mahfuzh At Turmusi sampai diijazahi untuk mengajarkan kitab Shahih Bukhari. Beliau seorang ahli hadits terkemuka. Santri yang mondok ke Tebu Ireng, karena ingin belajar hadits. Hadist yang shahih, bukan yang dhaif apalagi mursal.

Beliau juga nyantri ke Syaikh Khatib Al Minangkabawi. Harap diingat, Syaikh Khatib Al Minangkabawi adalah salah satu ulama dari nusantara yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram. Dulu, imam Masjidil Haram bisa siapa saja dan dari mana saja, pokoknya yang paling faqih dimasanya. Sekarang oleh pemerintah Arab Saudi, Imam Masjidil Haram dipatok harus berasal dari orang arab.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga berani meluruskan banyak hal dari praktek thariqah yang menyimpang. Kita jadi ingat dengan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah, santrinya Imam Ibnu Taimiyah. Meski beliau juga mengikuti thariqah, tapi tetap kritis meluruskan praktek yang menyimpang. Kita bisa membaca koreksinya dalam kitab Madarijus Salikin.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga mampu memberikan panduan mana paham yang harus diikuti dan mana paham yang harus dijauhi. Golongan mana yang harus dijadikan kawan dan golongan mana yang harus dilawan. Alhamdulillah beliau mewariskan risalah qanun asasi kepada kita semua sebagai pegangan.

Ketiga, Pejuang Sejati
Beliau ini meneruskan semangat dan perjuangannya Imam Bonjol yang memimpin perang Paderi di Sumatra. Meskipun tidak tampil seheroik Imam Bonjol yang langsung terjun di medan juang, tapi fatwa jihad yang disampaikan mampu menggerakkan arek – arek Surabaya untuk maju ke medan laga. Mungkin karena faktor usia dan fisiknya. Yap, tiap – tiap orang ada medan jihadnya sendiri. Dan medan jihad yang paling menonjol dari “Sang Kyai” adalah jihad ma’rifah, tanpa menafikan kontribusinya dibidang yang lain.

Namanya juga ulama rabbani, maka dia tidak tunduk dengan tekanan maupun rayuan. Karena dipundaknya ada tugas besar sebagai penyambung lidah rasulullah saw.

Khatimah
Saat dakwahnya ditolak oleh penduduk kota Thoif, Rasulullah SAW tidak berkecil hati. Bahkan beliau mendoakan agar diantara tulang sulbi meraka semoga bisa dibangkitkan generasi yang beriman kepada Allah.

Karena itu, jangan pula kita kehilangan harapan terhadap NU. Mari kita berdoa agar kelak akan lahir pengurus yang benar – benar meneladani jejak “Sang Kyai” di dadanya. Bukan sekedar di spanduk dan balihonya. Amin.

Penulis: Eko Junianto, SE
Nahdhiyin, tinggal di Cilacap

NO…!!! Tilawah Qur’an Dengan Langgam Jawa

Assalaamu’alaikum…., semangat hari senin ayyuhal sahabat.

Produsen suatu produk, dalam me-launch produknya biasanya dilengkapi dengan Standart Operating Procedure sebagai panduan konsumen dalam menggunakan produk tersebut. Maksudnya kurang lebih adalah untuk keamanan, kenyamanan dan ketahanan.
Maka, produsen kendaraan bermotor menyertakan petunjuk penggunaan dan petunjuk perawatan, yang harus dipatuhi oleh konsumen agar kendaraannya aman, nyaman dan awet.

Lalu bagaimana dengan kita, manusia?
Yang harus kita pahami bersama adalah bahwa :
– Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya
– Allah menurunkan Qur’an sebagai panduan, SOP bagi manusia dalam menjalani hidupnya, agar aman, nyaman dan bahagia dunia dan akhirat
Di dalamnya terdapat kabar gembira bagi orang-orang beriman, dan peringatan akan adzab Allah jika ingkar.
– Lalu melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW, kita mendapatkan panduan bagaimana melaksanakan syari’at Allah.

alquranAl-Quran, ia adalah kitab yang kebenarannya mutlak, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Ia bisa menjadi obat. Ia bisa menjadi penenang hati. Ia bisa jadi pembela.
Allah menjanjikan berbagai macam keutamaan untuk para pembaca Qur’an, apalagi bagi para penghafalnya. Setiap huruf dalam Qur’an, adalah satu kebaikan, dari setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat kebaikan.

Maka sebagai Kalamullah, ada ketentuan-ketentuan yang baku dalam membacanya. Membaca Quran itu ada syari’atnya. Ada hukum-hukum yang harus dipenuhi. Ada adab dan tata caranya. Termasuk dalam hal melagukan bacaan Quran.
Ada ketentuan-ketentuan dan adab yang harus dijaga. Tidak bisa diutak-atik agar mathuk dan gathuk. Tidak bisa.

Lalu bagaimana dengan qira’ah Qur’an dengan langgam Jawa dan diiringi orkestra?

Meskipun saya orang Jawa, saya tidak bangga dengan kelakuan orang yang melagukan Qur’an dengan langgam Jawa. Saya ndak ada urusan dengan orang yang sok-sokan membaca Qur’an dengan langgam Jawa. Membaca Qur’an dengan langgam Jawa adalah upaya utak-atik gathuk orang-orang liberalis/pluralis, tentu mengaitkannya dengan kearifan lokal. Pengkaitan yang menyalahi syari’at, yang ujung-ujungnya menjauhkan ummat Islam dari agama dan kitabnya. Qur’an yang Mulia.

Upaya-upaya liberalisasi Islam ini memang sudah dan akan selalu ada. Orang-orang kafir yang tidak rela kepada Islam, orang-orang munafik yang akan menghancurkan Islam, mereka bahu-membahu dalam melakukan aksinya.

Tidak ada pilihan bagi ummat Islam, kecuali MELAWAN…!!!
MELAWAN kebathilan orang-orang yang mengacak-acak syari’at Islam.
MELAWAN upaya-upaya orang kafir dan munafik yang berusaha menjauhkan ummat Islam dari agamanya.

Bagaimana caranya?
PEGANG DENGAN KUAT QUR’AN DAN HADITS.
Begitulah pesan Rasulullah, Muhammad SAW kepada kita ummatnya, agar selamat dunia dan akhirat.

AMAZING…!!! Gejolak Arab di Arabs Got Talent

“Ini negeri Arab !! Jangan sekali2 kalian menghancurkan kehormatannya !! Hati2 terhadap akibatnya”

SnapCrab_NoName_2015-5-9_9-23-26_No-00Pernyataan ini diucapkan ‘Amru ‘Amrusi pada saat audisi Arabs Got Tallent setelah melakukan perform di hadapan para juri dan audien. Video berdurasi 6 menit 55 detik ini diunggah ke Youtube oleh Juba pada 28 Desember 2014 dan telah dilihat ratusan ribu kali. Saya mendapatkan video ini setelah teman saya mengirimkan video yang sama tapi dengan durasi yang lebih pendek yang tidak ada dialog antara peserta dan juri. Penasaran dengan penampilan dalam video tersebut, saya kemudian mencari video yang terkait dengan durasi yang lebih panjang. Dan alhamdulillah saya bisa menemukannya.

Sebelum melakukan aksinya, peserta dari Mesir ini menyatakan bahwa penampilannya kali ini ada kaitannya dengan permasalahan bangsa Arab yang sangat penting sejak ia kecil.

“Aku punya sebuah pandangan, ingin ku tampilkan dlm sebuah penampilan. Dan ini adalah sebuah permasalahan yang sangat penting, yang aku alami dalam hidupku sejak aku masih kecil dulu. Pesan yang ada dalam penampilan ini memiliki nilai yang sangat dalam, menyentuh tapi kini telah sirna dalam hidup kita. Aku berjanji akan menampilkan sebuah persembahan yang sangat bernilai buat bangsa Arab” demikian ‘Amrusi.

Di awal penampilannya, para juri terkesan belum tahu maksud dari ‘Amrusi hingga satu menit berlalu. Mungkin para juri hanya melihat wajah lucu dan seperti menganggap sepele, hingga mereka tertawa. Perhatian para juri mulai terlihat di menit-menit kedua hingga akhir. Wajah-wajah larut dalam persembahan dan keharuan, jelas terlihat pada raut wajah para juri. ‘Amrusi menutup persembahannya dengan merobek penutup kaos yang kemudian memperlihatkan gambar bendera negara-negara Arab. Dengan mimik serius dan sambil mengarahkan telunjuk ke depan, ‘Amrusi menutup persembahannya dengan mengatakan, “Ini negeri Arab !! Jangan sekali2 kalian menghancurkan kehormatannya !! Hati2 terhadap akibatnya”.

Nazwa Karam, salah satu juri terlihat tak kuasa menahan air matanya untuk jatuh. Dalam komentarnya, dengan mata yang berkaca-kaca larut dalam penampilan, ia berkata, “Aku ingin mengatakan kalau semua orang Arab miliki rasa nasionalisme seperti yang kamu rasakan, maka tidak akan ada yang namanya perang di Arab. Walaupun ini sebuah penampilan, tapi persembahanmu betul-betul fakta nyata. Fakta nyata yg menyentuh jiwa…!!!”

Tidak hanya Nazwa Karam yang terpukau dan terharu oleh penampilan ‘Amrusi, juri yang lain, Ahmad Helmi sampai melakukan standing applause dan menyatakan apresiasinya dengan penuh haru, “Engkau telah membuat aku menangis bersamamu. Bravo untukmu”

Sementara juri yang lain, Nashir, menyatakan bahwa penampilan ‘Amrusi tidak semua orang bisa melakukannya. Nashir menilai “Terlihat Ada ketegasan yang sebenarnya dalam dirimu, bukan sesuatu yg kamuflase. Penampilanmu memang sebuah penampilan yang sangat susah, tidak semua org bisa melakukannya. Terus terang aku merasa kasihan padamu. Salute, tapi penampilanmu sangat OK”

Senada dengan juri yang lain, Ali -sepertinya juri senior, ed-  mengungkapkan apresiasinya pada persembahan ‘Amrusi. “Perfect, tak ada yang kurang dari penampilanmu. Betul-betul penampilan seorang pakar. Kehebatan sebuah penampilan itu ditinjau dari pengaruh yang dirasakan. Betul-betul hebat. Selamat untukmu…!!!

Gemuruh tepuk tangan audien selalu menyertai setiap komentar juri, dan ‘Amrusi selalu menyambut komentar dan tepuk tangan para penonton dengan meletakkan tangan di kepala, sebagai ungkapan terima kasih. Hasil akhir dari persembahan ‘Amrusi, semua juri menyatakan ‘Na’am‘, YES. Dan juri Ali, dengan keempat jari seperti lambang Rabia, menyatakan “Arba’ Na’am”, yang kemudian disambut gemuruh tepuk tangan penonton.

Inilah video persembahan ‘Amru ‘Amrusi itu. Untuk melihatnya di laman Youtube, bisa dilihat disini.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyaksikan video penampilan ‘Amru ‘Amrusi ini. Karenanya, saya kemudian mengirimkannya kepada teman saya yang berada di Kairo untuk menterjemahkan dialog dalam video tersebut. Yang membuat saya heran, ternyata link video di Youtube yang saya kirimkan tidak bisa dibuka di Kairo, dengan reason “This video contains content from MBC group, who has blocked it in your country on copyright grounds”. Saya terpaksa mengunduh dan kemudian mengirimkan video ini dengan email.

Semoga tulisan bermanfaat untuk sahabat semua. Insya Allah…

Balikpapan, Ahad 9 Mei 2015

Perombakan Kabinet dan Penggantian Putra Mahkota Arab Saudi

SnapCrab_NoName_2015-4-29_13-41-17_No-00Waktu dini hari tampaknya menjadi waktu pilihan bagi Raja Salman bin Abdulaziz untuk keluarkan keputusan-keputusan kerajaan (awamir malakiyah) yang strategis.

Pada dini hari Rabu ini, 29/4, Raja Salman kembali lakukan reshufle kabinet. Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz dihentikan jabatannya sebagai putera mahkota atas permintaan yang bersangkutan. Sebagai penggantinya, pangeran Muhamad bin Nayef bin Abdulaziz diangkat sebagai putera mahkota. Sedangkan pangeran Muhamad bin Salman bin Abdulaziz yang juga menteri pertahanan diangkat sebagai wakil putera mahkota.

Di sisi lain, menteri luar negeri yang sudah menjabat sebagai menlu selama 40 tahun, Suud bin Faishal bin Abdulaziz, diganti oleh Adil Al Jubair, mantan dubes Saudi di Amerika. Masih banyak lagi beberapa jabatan kementrian dan lembaga negara yang direshufle.

Keputusan ini oleh para pengamat dianggap sebagai kelanjutan dari kebijakan Raja Salman untuk lakukan perubahan-perubahan politik Saudi yang sudah dia lakukan sejak mulai naik tahta, baik dalam maupun luar negeri. Sejauh ini memang dirasakan ada nuansa baru dari langkah-langkah politik raja Salman yang dianggap membawa harapan lebih baik.

Keputusan ini juga menandakan dimulainya peralihan kepemimpinan Saudi kepada generasi muda. Karena kedua putera mahkota ini terbilang masih muda dibanding umumnya para putera mahkota sebelumnya.

Maka, setelah Raja Salman, kepemimpinan Saudi dipastikan mulai berpindah ke generasi cucu dari sang pendiri kerajaan Saudi moderen; Raja Abdulaziz.

Semoga kepemimpinan Saudi berjalan damai dan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Maraji’ :
– https://www.facebook.com/abdullahhaidir.haidir

– https://instagram.com/p/2CsDMLwrnL/