Apakah Setiap Bid’ah Sesat?

Beberapa waktu lalu, saat rame-rame jelang ramadhan dan banyak broadcast ucapan di media sosial (FB, WA, Telegram, IG, Path) ada seorang teman saya yang dipermasalahkan ucapan minta maaf sebelum ramadhan-nya.
Yang mempermasalahkan ucapan atau aktivitas saling bermaafan sebelum ramadhan beralasan bahwa hadits tentang hal tersebut dihukumi dhoif/palsu. Lalu sampailah saya kemudian kepada hal tersebut.
Kepada teman saya tersebut kemudian saya minta agar menanyakan kepada orang yang mempermasalahkan ucapan atau ajakan saling memaafkan jelang ramadhan tersebut dengan pertanyaan, “Apakah saling memaafkan itu hal yang buruk? Bukankah salah satu ciri orang yang bersegera kepada ampunan Allah dan surga adalah saling memaafkan sesama manusia?”

Lalu qadarullah, saya mendapatkan sharing tulisan ilmiah dibawah ini dari teman saya.

================================================================

Mari kita pelajari bersama, apa maksud dan kandungan hadits di bawah ini dengan mengunakan ilmu gramatika arab (Balaghoh & Nahwu shorof)

HADITS :

وَشَر الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Artinya : Sejelek-jelek perkara adalah yg di-ada2 kan, setiap yg diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An- Nasa’i).

Hadits diatas menjadi dasar utama untuk menolak segala bid’ah. Namun, dalam memahami bahasa Arab (sekalipun itu Al qur’an & Hadits) kita tidak bisa lepas dari menggunakn ilmu Nahwu agar terhidar dari kesalah pemahaman.

Dalam kitab Al-I’mrithiy diterangkan :

وكان مطلوبا اشــــدا الطلب
من الورى حفظ اللسان العربى

“Dan mendalami bahasa arab yg sangat penting bagi manusia
كى يــــفهموا معاني القران
والســـــنة الدقيقة الـــــمعانى

“Supaya mereka bisa memahami Al–qur’an dan as-sunah yg rumit kandungan maknanya”

والنحو اولى اولا ان يعلـما
اذ الكـــــلام دونه لن يفـــــهما

“Nahwu adalah ilmu yg paling utama dipelajari dahulu, karna kalam Arab tanpa ilmu nahwu tidak bisa difahami”.

Kembali pada Hadits diatas yang menjadi titik tekannya terdapat pada kata ‘kullu=كل’ yang mempunyai maksud “majmu’’ yg artinya semua/seluruh. Dalam memahami makna dari kata ‘kullu’ dalam hadits di atas, kita padukan/bandingkan dengan Surat Al-Kahfi Ayat 79 yg mana antara keduanya sama2 dihukumkan ke ‘kullu’ majmu maka akan di dapati pemahaman sebagai berikut :

Kata bid’ah (بدعة) dalam hadits diatas adalah kalimah isim (kata benda) yg mempunyai sifat; maka tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, dan mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis & tidak disebutkan dalam hadits diatas. NAMUN dalam Ilmu Balaghoh dikatakan :

حذف الصفة على الموصوف

Artinya “Membuang sifat dari benda yg bersifat”

Jikalau kita tulis sifatnya bid’ah maka terjadi dua kemungkinan :
1) Kemungkinan pertama :

كل بدعة اي حسنة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg baik) itu sesat, & semua yg sesat masuk neraka”.

*** Hal ini tidak mungkin, bagaimana bisa sifat baik & sesat berkumpul dalam satu kata benda & dalam waktu dan tempat yg sama, hal itu tentu mustahil.

2) Kemungkinan kedua :

كل بدعة اي سيئة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg jelek) itu sesat, & semua kesesatan itu masuk neraka”

*** Jelek & sesat sejalan (tidak bertentangan dan sejalan). Dan hal inilah yg sangat dimungkinkan.

Hal ini terjadi pula dlam Al-Qur’an, Alloh SWT juga membuang sifat kapal dalam Firman-Nya :

وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا (الأية ألكهف اية ٧٩) QS. Al kahfi ayat : 79

Artinya : “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”.

Keterangan pelengkap ada dalam tafsir Ash-Showi Juz 3 Hal 28 dimana kata “safinah” ditafsiri dengan memberikan sifatnya :

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة( تفسير الصاوي ج ٣ ص ٢٨)

“Dalam ayat tersebut Alloh SWT tidak menyebutkan kapal yg baik, namun hanya menyebut kapal saja. Hal ini sangat wajar seorang raja tidak mungkin merampas kapal yg jelek. Buktinya nabi Hidhir kemudian melubangi kapal tersebut tujuanya adalah agar kapal tersebut tidak ikut dirampas oleh raja. Seandainya yg dimaksud semua kapal adalah seluruh kapal tanpa pengecualian, yg baik ataupun yg jelek akan tetap saja dirampas, nantinya akan tidak berguna apa yg dilakukan oleh nabi Hidhir”.

Dalam permasalahan ini lafadz كل سفينة sama dengan كل بدعة. Alias sama2 tidak disebutkan sifatnya walaupun pasti punya sifat ialah kapal yg baik.

Uraian lebih lanjut tentang hadits di atas :

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“setiap yang di-ada2kan itu adlh bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan & setiap kesesatan tempatnya di neraka”.

Dalam Hadits tersebut rancu sekali kalau kita maknai SETIAP bid’ah dengan makna KESELURUHAN, bukan SEBAGIAN. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munawroq’ karya Imam Al-Akhdhori yg telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi & dalam kitab Nubdzatul Bayan karangan KH. Abdul Majid pamelasan Madura, santrinya KH. Kholil Bangkalan tertulis :

الكل حكمنا على المجموع * ككل ذاك ليس ذا وقوع
وحيثما لكل فرد حكما * فإنه كلية قد علما
( شرح السلم الملوي ص ٧٨ حتى ٨٠ نبذة البيان ص ٤٩ حتى ٥٠)

“Kullu” itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian/sekelompok) seperti sebagian itu tidak pernah terjadi, Dan jika kita hukumkan untuk tiap2 satuan maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi”

Seperti contoh lain ada dalam Al-qur’an :
وخعلنا من الماء كل شيء حي
Dan kami jadikan segala sesuatu yg hidup itu dari air (Q.S Al Anbiya’ : 30)

Namun dalam kenyataannya tidak semua diciptakan dari air, jin diciptakan dari api. (Itu menunjukkan, bahwa tidak semua lafal ‘kullu’ berarti “semua atau seluruh”).

Buktinya dalam ayat yg lain disebutkan :
وخلق الجان من مارج من نار
“Dan Alloh SWT menciptakan jin dari percikan api yg menyala”.
(Q.S Al rohmn :15)

Mari perhatikan dengan seksama & cermat kalimat hadits tersebut. Jika memang ‘kullu’ yg maksud Rosululloh saw adalah SELURUH, kenapa beliau berputar-putar / berbelit-belit dalam haditsnya (itu tidak mungkin)?
Kenapa Rosululloh tidak langsung saja mengatakan “كل محدثة في النار = Kullu Muhdatsatin Finnar” (setiap yg diada-adakan itu di neraka), kan malah lebih jlas.

“* Kenapa Rosululloh Saw malah menentukan yg akhir yakni “kullu dholalatin fin naar” bahwa yg Sesat itulah yg masuk Neraka ?

Selanjutnya, kalimat bid’ah di sini adalah bentuk Isim (kata benda) bukan Fi’il (kata kerja). Dalam ilmu Nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakiroh (umum). Isim Ma’rifat terbagi menjadi 6 :

1. Isim Dhomir (kata ganti)
2. Isim ‘Alam (kata nama)
3. Isim Isyaroh (kata tunjuk)
4. Isim Maushul (kata sambung)
5. Isim yg kemasukan (ال) ta’rif.
6. Isim yg diidhofahkan (disandarkan) kpd salah satu 5 isim ma’rifat yg diatas.

Dan kata “BID’AH (بدعة) ” disini bukanlah yg merupakan bagian dari isim ma’rifat. Jadi kalimat bid’ah di sini adalah isim Nakiroh & KULLU (كل) di sini berarti tidak beridhofah (bersandar) kpd salah satu dari yang 5 diatas.

Seandainya KULLU beridhofah kepada salah 1 yg 5 diatas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada lafal ‘KULLU BID’AH‘ (كل بدعة) pada hadits tersebut, ia beridhofah kepada isim Nakiroh. Sehingga dilalah-nya (petunjuk maknanya) adalah bersifat ‘AM (umum). Sedangkan setiap hal yg bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dngan pndapat Imam Nawawi yg mnerangkan :

قوله وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع

“Sabda Nabi Saw, “semua bid’ah adalah sesat (كل بدعة ضلالة= kullu bid’atin dlolalah)” ini adalah kata-kata umum yg dibatasi jangkauanya. Jadi maksudnya lafal “Kullu bid’aatin…”, adalah “sebagian besar bid’ah itu sesat”, bukannya seluruhnya”
(Syarh Shohih Muslim, juz 6 hal :154).

Lalu apakah SAH kalimat ‘Kullu bid’atin’ di atas itu dikatakan (dijadikan) MUBTADA’ (awal kalimat) ? Padahal dalam kitab Alfiyah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu) tertulis :

ولا يجوز الابتداء بالنكراة * ما لم تفد كعند زيد نمرة

“Mubtada’ tidak boleh terbuat dari isim nakiroh selama tidak berfaidah”

Jadi sudah jelas bhwa isim Nakiroh tidak mungkin bisa mnjadi mubtada’ (prmulaan kalimat bila tidak berfaidah). Slah satu cara agar isim nakiroh bisa berfaidah dan bisa dijadikan mubtada’ adlah dengan cara disifati.

Kesimpulannya, bahwa kata ‘Kullu bid’atun’ tidak bisa dipahami dngan semua bid’ah atau seluruh bid’ah adlah sesat. Berdasarkan argumentasi diatas, kalimat ‘kullu bid’atin’ harus mempunyai sifat. Dan tentunya sifat yg sesuai adlah bid’ah yg sayyiah (jelek) karna secara nalar ilmiah bid’ah yg baik tidak mungkin sesat berdasarkan analogi & prbandingan dengan ayat 79 surat Al Kahfi.

JADI JANGAN TAKUT DIKATAKAN BID’AH…!

“Wallohu a’lam bish shawab”.
Semoga bermanfaat.

*Copas from Telegram DR. FATH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>