PANCASILA dan Ke-INDONESIA-an Kita

Beberapa hari ini saya menjumpai hashtag #SayaPancasila. Saya tidak tahu asal usulnya, tapi dugaan saya karena berkaitan dengan hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya.

Jika maksudnya adalah sebagai reminder kepada anak bangsa agar memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, maka saya nyatakan saya adalah salah satunya.
Tapi rupanya tidak demikian kiranya.

Yang membuat saya heran adalah ada apa sesungguhnya dengan rakyat Indonesia dan Pancasila?
Apakah ke-Indonesia-an rakyat Indonesia saat ini jauh dari nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara?
Inipun saya tidak tahu pasti. Karena akhir-akhir ini banyak orang atau pihak yang mengklaim paling Pancasila dan paling Bhineka Tunggal Ika dan menuduh orang atau pihak lain yang tak sekelompok dengannya sebagai anti Pancasila dan anti Bhineka Tunggal Ika.

Yaaa… berdasarkan pengamatan saya khususnya di media sosial klaim-klaim Pancasilais dan keBhinekaan itu justru muncul dari mereka yang justru jauh dari nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Merekalah yang selama ini bersekutu dengan kemaksiatan, membela prostitusi dan pornografi.
Merekalah yang selama ini justru menodai nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Apa yang mereka lakukan itu sebatas kamuflase, menutupi keaslian tabiat mereka.

Lihatlah…, orang yang dinobatkan sebagai duta Pancasila justru orang yang telah melecehkan Pancasila. Hanya karena orang tersebut public figure.
Lihatlah mereka yang mencoba menentang putusan pengadilan dengan cara semena-mena dan melanggar undang-undang dan ketentuan yang berlaku.
Lihatlah aksi-aksi lilin yang melanggar aturan itu.
Lihatlah aksi-aksi pemaksaan kehendak kepada orang atau pihak lain agar membebaskan terpidana penistaan agama.
Lihatlah aksi sekelompok orang yang bahkan menyebutkan sila ke-4 Pancasila saja belepotan.

Sejak kasus penistaan agama, kelompok pendukung dan pembela penista agama sangat gemar menuduh orang atau pihak lain sebagai anti Pancasila dan anti keBhinekaan.
Mereka menuduh ummat Islam sebagai rasis dan anti Pancasila, dan disaat yang sama, mereka -sadar atau tidak- justru mendukung dan membela orang yang melecehkan agama dan kitab suci Ummat Islam, yang berarti telah melanggar Pancasila dan UUD 45.

Mereka seperti George Bush, presiden Amerika yang meluluh lantakkan Afghanistan dengan kampanye war againts terrorism, melakukan terror kemanusiaan dan telah membunuh banyak orang, lalu menyatakan “With us or againts us”

Jika memang mengaku #SayaPancasila, maka tegakkan hukum dengan benar dan berkeadilan!
Jika memang mengaku #SayaPancasila maka manifestasikanlah butir-butir Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara!

Ketidakadilan hukum di negeri ini telahpun menyeruak secara kasar dan keji, mengusik nurani orang-orang yang mencintai ibu pertiwi.
Ketidakadilan hukum dipertontonkan secara vulgar dan memalukan, justru untuk membungkam orang atau pihak yang berusaha menyelamatkan negeri ini dari ulah para kapitalis dan ‘penjajah modern’ yang telah memporak porandakan bangunan persatuan dan kesatuan.

Lalu setelah itu mengkampanyekan #SayaPancasila? Yang benar saja…!!!

Itulah kiranya ujian Pancasila dan ke-Indonesia-an kita. Sejauhmana manifestasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apakah Setiap Bid’ah Sesat?

Beberapa waktu lalu, saat rame-rame jelang ramadhan dan banyak broadcast ucapan di media sosial (FB, WA, Telegram, IG, Path) ada seorang teman saya yang dipermasalahkan ucapan minta maaf sebelum ramadhan-nya.
Yang mempermasalahkan ucapan atau aktivitas saling bermaafan sebelum ramadhan beralasan bahwa hadits tentang hal tersebut dihukumi dhoif/palsu. Lalu sampailah saya kemudian kepada hal tersebut.
Kepada teman saya tersebut kemudian saya minta agar menanyakan kepada orang yang mempermasalahkan ucapan atau ajakan saling memaafkan jelang ramadhan tersebut dengan pertanyaan, “Apakah saling memaafkan itu hal yang buruk? Bukankah salah satu ciri orang yang bersegera kepada ampunan Allah dan surga adalah saling memaafkan sesama manusia?”

Lalu qadarullah, saya mendapatkan sharing tulisan ilmiah dibawah ini dari teman saya.

================================================================

Mari kita pelajari bersama, apa maksud dan kandungan hadits di bawah ini dengan mengunakan ilmu gramatika arab (Balaghoh & Nahwu shorof)

HADITS :

وَشَر الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Artinya : Sejelek-jelek perkara adalah yg di-ada2 kan, setiap yg diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An- Nasa’i).

Hadits diatas menjadi dasar utama untuk menolak segala bid’ah. Namun, dalam memahami bahasa Arab (sekalipun itu Al qur’an & Hadits) kita tidak bisa lepas dari menggunakn ilmu Nahwu agar terhidar dari kesalah pemahaman.

Dalam kitab Al-I’mrithiy diterangkan :

وكان مطلوبا اشــــدا الطلب
من الورى حفظ اللسان العربى

“Dan mendalami bahasa arab yg sangat penting bagi manusia
كى يــــفهموا معاني القران
والســـــنة الدقيقة الـــــمعانى

“Supaya mereka bisa memahami Al–qur’an dan as-sunah yg rumit kandungan maknanya”

والنحو اولى اولا ان يعلـما
اذ الكـــــلام دونه لن يفـــــهما

“Nahwu adalah ilmu yg paling utama dipelajari dahulu, karna kalam Arab tanpa ilmu nahwu tidak bisa difahami”.

Kembali pada Hadits diatas yang menjadi titik tekannya terdapat pada kata ‘kullu=كل’ yang mempunyai maksud “majmu’’ yg artinya semua/seluruh. Dalam memahami makna dari kata ‘kullu’ dalam hadits di atas, kita padukan/bandingkan dengan Surat Al-Kahfi Ayat 79 yg mana antara keduanya sama2 dihukumkan ke ‘kullu’ majmu maka akan di dapati pemahaman sebagai berikut :

Kata bid’ah (بدعة) dalam hadits diatas adalah kalimah isim (kata benda) yg mempunyai sifat; maka tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, dan mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis & tidak disebutkan dalam hadits diatas. NAMUN dalam Ilmu Balaghoh dikatakan :

حذف الصفة على الموصوف

Artinya “Membuang sifat dari benda yg bersifat”

Jikalau kita tulis sifatnya bid’ah maka terjadi dua kemungkinan :
1) Kemungkinan pertama :

كل بدعة اي حسنة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg baik) itu sesat, & semua yg sesat masuk neraka”.

*** Hal ini tidak mungkin, bagaimana bisa sifat baik & sesat berkumpul dalam satu kata benda & dalam waktu dan tempat yg sama, hal itu tentu mustahil.

2) Kemungkinan kedua :

كل بدعة اي سيئة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg jelek) itu sesat, & semua kesesatan itu masuk neraka”

*** Jelek & sesat sejalan (tidak bertentangan dan sejalan). Dan hal inilah yg sangat dimungkinkan.

Hal ini terjadi pula dlam Al-Qur’an, Alloh SWT juga membuang sifat kapal dalam Firman-Nya :

وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا (الأية ألكهف اية ٧٩) QS. Al kahfi ayat : 79

Artinya : “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”.

Keterangan pelengkap ada dalam tafsir Ash-Showi Juz 3 Hal 28 dimana kata “safinah” ditafsiri dengan memberikan sifatnya :

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة( تفسير الصاوي ج ٣ ص ٢٨)

“Dalam ayat tersebut Alloh SWT tidak menyebutkan kapal yg baik, namun hanya menyebut kapal saja. Hal ini sangat wajar seorang raja tidak mungkin merampas kapal yg jelek. Buktinya nabi Hidhir kemudian melubangi kapal tersebut tujuanya adalah agar kapal tersebut tidak ikut dirampas oleh raja. Seandainya yg dimaksud semua kapal adalah seluruh kapal tanpa pengecualian, yg baik ataupun yg jelek akan tetap saja dirampas, nantinya akan tidak berguna apa yg dilakukan oleh nabi Hidhir”.

Dalam permasalahan ini lafadz كل سفينة sama dengan كل بدعة. Alias sama2 tidak disebutkan sifatnya walaupun pasti punya sifat ialah kapal yg baik.

Uraian lebih lanjut tentang hadits di atas :

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“setiap yang di-ada2kan itu adlh bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan & setiap kesesatan tempatnya di neraka”.

Dalam Hadits tersebut rancu sekali kalau kita maknai SETIAP bid’ah dengan makna KESELURUHAN, bukan SEBAGIAN. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munawroq’ karya Imam Al-Akhdhori yg telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi & dalam kitab Nubdzatul Bayan karangan KH. Abdul Majid pamelasan Madura, santrinya KH. Kholil Bangkalan tertulis :

الكل حكمنا على المجموع * ككل ذاك ليس ذا وقوع
وحيثما لكل فرد حكما * فإنه كلية قد علما
( شرح السلم الملوي ص ٧٨ حتى ٨٠ نبذة البيان ص ٤٩ حتى ٥٠)

“Kullu” itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian/sekelompok) seperti sebagian itu tidak pernah terjadi, Dan jika kita hukumkan untuk tiap2 satuan maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi”

Seperti contoh lain ada dalam Al-qur’an :
وخعلنا من الماء كل شيء حي
Dan kami jadikan segala sesuatu yg hidup itu dari air (Q.S Al Anbiya’ : 30)

Namun dalam kenyataannya tidak semua diciptakan dari air, jin diciptakan dari api. (Itu menunjukkan, bahwa tidak semua lafal ‘kullu’ berarti “semua atau seluruh”).

Buktinya dalam ayat yg lain disebutkan :
وخلق الجان من مارج من نار
“Dan Alloh SWT menciptakan jin dari percikan api yg menyala”.
(Q.S Al rohmn :15)

Mari perhatikan dengan seksama & cermat kalimat hadits tersebut. Jika memang ‘kullu’ yg maksud Rosululloh saw adalah SELURUH, kenapa beliau berputar-putar / berbelit-belit dalam haditsnya (itu tidak mungkin)?
Kenapa Rosululloh tidak langsung saja mengatakan “كل محدثة في النار = Kullu Muhdatsatin Finnar” (setiap yg diada-adakan itu di neraka), kan malah lebih jlas.

“* Kenapa Rosululloh Saw malah menentukan yg akhir yakni “kullu dholalatin fin naar” bahwa yg Sesat itulah yg masuk Neraka ?

Selanjutnya, kalimat bid’ah di sini adalah bentuk Isim (kata benda) bukan Fi’il (kata kerja). Dalam ilmu Nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakiroh (umum). Isim Ma’rifat terbagi menjadi 6 :

1. Isim Dhomir (kata ganti)
2. Isim ‘Alam (kata nama)
3. Isim Isyaroh (kata tunjuk)
4. Isim Maushul (kata sambung)
5. Isim yg kemasukan (ال) ta’rif.
6. Isim yg diidhofahkan (disandarkan) kpd salah satu 5 isim ma’rifat yg diatas.

Dan kata “BID’AH (بدعة) ” disini bukanlah yg merupakan bagian dari isim ma’rifat. Jadi kalimat bid’ah di sini adalah isim Nakiroh & KULLU (كل) di sini berarti tidak beridhofah (bersandar) kpd salah satu dari yang 5 diatas.

Seandainya KULLU beridhofah kepada salah 1 yg 5 diatas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada lafal ‘KULLU BID’AH‘ (كل بدعة) pada hadits tersebut, ia beridhofah kepada isim Nakiroh. Sehingga dilalah-nya (petunjuk maknanya) adalah bersifat ‘AM (umum). Sedangkan setiap hal yg bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dngan pndapat Imam Nawawi yg mnerangkan :

قوله وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع

“Sabda Nabi Saw, “semua bid’ah adalah sesat (كل بدعة ضلالة= kullu bid’atin dlolalah)” ini adalah kata-kata umum yg dibatasi jangkauanya. Jadi maksudnya lafal “Kullu bid’aatin…”, adalah “sebagian besar bid’ah itu sesat”, bukannya seluruhnya”
(Syarh Shohih Muslim, juz 6 hal :154).

Lalu apakah SAH kalimat ‘Kullu bid’atin’ di atas itu dikatakan (dijadikan) MUBTADA’ (awal kalimat) ? Padahal dalam kitab Alfiyah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu) tertulis :

ولا يجوز الابتداء بالنكراة * ما لم تفد كعند زيد نمرة

“Mubtada’ tidak boleh terbuat dari isim nakiroh selama tidak berfaidah”

Jadi sudah jelas bhwa isim Nakiroh tidak mungkin bisa mnjadi mubtada’ (prmulaan kalimat bila tidak berfaidah). Slah satu cara agar isim nakiroh bisa berfaidah dan bisa dijadikan mubtada’ adlah dengan cara disifati.

Kesimpulannya, bahwa kata ‘Kullu bid’atun’ tidak bisa dipahami dngan semua bid’ah atau seluruh bid’ah adlah sesat. Berdasarkan argumentasi diatas, kalimat ‘kullu bid’atin’ harus mempunyai sifat. Dan tentunya sifat yg sesuai adlah bid’ah yg sayyiah (jelek) karna secara nalar ilmiah bid’ah yg baik tidak mungkin sesat berdasarkan analogi & prbandingan dengan ayat 79 surat Al Kahfi.

JADI JANGAN TAKUT DIKATAKAN BID’AH…!

“Wallohu a’lam bish shawab”.
Semoga bermanfaat.

*Copas from Telegram DR. FATH

Mari Bercinta…

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji Allah, dan kita mohon pertolongan kepada Allah, dan kita mohon ampunan kepada Allah.
Dan kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan dari keburukan-keburukan ‘amal kita.

Ayyuhal shalihin-shalihat, sesungguhnya cinta tertinggi adalah Cinta kepada Allah SWT, kemudian cinta kepada Rasulullah SAW. Begitu cintanya Allah kepada kita, sampai-sampai Allah memerintahkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Lalu bagaimanakah kiranya manifestasi dari rasa cinta kita itu? Bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara mengungkapkannya? Apa yang harus kita lakukan untuk cinta kita itu?

Ada banyak cara. Salah satunya adalah dengan berinteraksi secara intensif dengan Al-Quran.
Dan Ramadhan, adalah momentum yang sangat baik untuk merawat cinta kepada Allah dan kepada Rasulullah SAW.
Dan Ramadhan, adalah momentum untuk membaca ‘surat-surat Cinta’ Allah kepada kita semua, yang dengan ‘surat-surat Cinta’ itu Allah berikan petunjuk; perintah dan larangan, kabar gembira tentang syurga dan peringatan tentang dahsyatnya siksa neraka.
Ya… Ramadhan adalah bulan diturunkannya Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai pembeda antara yang Hak dan yang Bathil.

Bagaimana kiranya shalihin-shalihat punya rasa, jika suatu ketika dulu, saat belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini, saat kita jauh dari orang-orang yang kita cintai -orang tua, anak, kekasih hati- dan tak ada cara untuk mengungkapkan kerinduan dan cinta selain saling berkirim surat?
Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa, saat menunggu surat-surat dari orang-orang tercinta?
Lalu kemudian datanglah surat yang kita tunggu-tunggu dari orang-orang terkasih itu.

Bagaimanakah kiranya shalihin-shalihat punya rasa dalam dada? Berbunga-bunga? Kiranya rindu yang telah sekian lama ada terobati. Kiranya hati yang merana karena cinta, menjadi berbunga-bunga seolah cinta baru bersemi.

Dan semua itu tidaklah seberapa dibanding ‘Surat-surat Cinta’ yang telah dikirim oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dikirimkan melalui manusia agung yang tiada duanya sepanjang zaman, yang sangat mencintai dan dicintai Allah, Muhammad SAW.
Ya… semua surat-surat cinta dari orang-orang tercinta dan terkasih itu tidaklah seberapa dibanding Al-Quran. Yang bila membacanya, maka Allah berikan satu kebaikan di setiap hurufnya, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya.
Ya…, Al-Quran. Yang sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Wahai para pecinta kebaikan…!
Wahai para pecinta kebenaran…!

Mari rawat cinta kita, tumbuh bersemikan cinta kita, kepada Quran…!
Yang dengan cinta itu, semoga Allah sayangi kita, menjadikannya untuk kita pemimpin, cahaya, petunjuk dan kasih sayang.

Selamat bercinta di bulan Ramadhan….! Semoga istiqomah dalam cinta.
Cinta kepada Allah…,
Cinta kepada Rasulullah…,
Cinta kepada Quran…,
Cinta kepada orang-orang beriman…,
Cinta kepada kebenaran dan keadilan…,
Cinta kepada sesama makluq ciptaan Allah.

Wallahu a’lamu bishshawab….

Maka BERGEMBIRALAH….!!!

Bagaimanakah kiranya jika rumah kita akan kedatangan walikota? Atau gubernur? Atau menteri? Atau presiden?
Perasaan apakah gerangan yang kemudian ada?
Tentu saja bukan ‘rasa yang pernah ada’.
Senang..?
Tentu saja. Siapa yang tidak senang dikunjungi oleh tamu-tamu agung itu.
Bangga…?
Tentu saja. Siapa yang tidak bangga. Diantara sekian warga rumah kita yang dipilih untuk dikunjungi.
 
Ramadhan, yang sebentar lagi menyapa kita, mendatangi kita semua, adalah tamu agung yang tentu lebih mulia dari walikota, gubernur, menteri, presiden atau siapapun makhluq yang saat ini menghuni bumi. Ramadhan adalah tamu agung, karena Allah menurunkan Al-Quran di bulan itu. 
Marhaban Ya Ramadhan…!!!
 
Maka berGEMBIRAlah…!!!
 
Karena satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan seperti saya sebutkan diatas, maka mari kita persiapkan segalanya dengan hati yang sangat senang tamu Ramadhan akan datang.
 
Maka berGEMBIRAlah…!!!
 
Karena Ramadhan datang bersama ‘rombongan’ keberkahan, keutamaan, kemulian, ampunan Allah dan perlindungan Allah dari neraka.
Bersama Ramadhan, Allah bukakan pintu-pintu surga. Allah tutup pintu-pintu neraka. Allah belenggu setan-setan.
Bersama Ramadhan pula, hadir ditengah-tengah kita satu malam yang lebih baik dari SERIBU BULAN.
 
Maka bergembiralah…!!!
Sambut Ramadhan dengan riang gembira…!!!
 
ARE YOU READY…???
 

Iman dan Ujian

Sebagaimana orang-orang shalih yang taat pada Allah dan RasulNya, kemudian mengajak amar ma’ruf nahi munkar, saling tolong menolong dalam urusan kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah, maka sesungguhnya begitu pula halnya dengan orang-orang jahat.

Orang-orang jahat akan saling tolong-menolong (tentunya bersama syetan) dalam dosa dan permusuhan (kepada Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman). Mereka (bersama syetan) mengajak kepada kemunkaran dan mencegah orang shalih untuk berbuat baik. Tujuannya?
Tentu mengajak untuk ingkar kepada Allah, Rasul dan Kitab Allah.

Begitulah keniscayaannya. Kebaikan dan orang-orang shalih tentu akan dapat musuh. Tentu akan mendapatkan ujian.
Jangan dikira, kalau kita sudah beriman kepada Allah, beramal shalih, suka dzikir dan sholawat, kita akan fine-fine only dan happy. No…
Tidak…, tidak begitu…

Orang beriman pasti akan diuji Allah, tidak cukup dengan hanya mengatakan, “Kami beriman”. Tidak cukup.
Kalau mau masuk syurga itu cobaannya berat, sebagaimana orang-orang beriman terdahulu sebelum kita.
Diantara ujian bagi orang beriman, salah satunya adalah adanya hiruk pikuk penistaan agama. Itu ujian bagi orang beriman, dimana dia berdiri. Bersama penista agama, atau bersama para ‘ulama dan orang-orang shalih yang membela Islam dan Quran, dan menuntut penista agama dihukum berat.
Itulah salah satu ujian keimanan.

Kalau ada yang bilang, Quran tak perlu dibela, Islam tak perlu dibela, Nabi Muhammad SAW tak perlu dibela maka katakan pada mereka, “Ya, Quran tak perlu dibela, karena Quran diturunkan Allah dan Allah pula yang mengajanya. Ya, Islam tak perlu dibela, karena Islam adalah tinggi dan tak ada lagi yang lebih tinggi darinya. Tapi saya yang perlu membela. Tapi saya yang mau membela, agar saya punya nilai di hadapan Allah. Agar saya menjadi tentara Allah untuk menjaga Quran dan meninggikan kalimat tauhid. Saya yang perlu membela, agar dengannya maruah Islam dan Quran terjaga. Agar saya pantas masuk surga Allah, karena membela Quran dan agama yang diridhoi”

Mengapa begitu?
Karena mereka -orang-orang jahat itu-, ingin sekali menjauhkan orang beriman dari agamanya. Mereka sangat ingin memadamkan cahaya Allah. Sangat ingin.
Akan tetapi Allah…., Allah yang menyempurnakan cahayaNya dan orang-orang kafir tidak menyukainya, kemudian mengerahkan berbagai macam upaya.
Secara terang-terangan, atau sembunyi-sembunyi dibalik jargon Pancasilais, keBhinnekaan, pluralis dan anti diskriminasi.

Lihatlah….
Mereka berusaha menjauhkan ummat Islam dari Allah dan Rasulnya, sejak dahulu kala sampai hari ini, memanfaatkan atau bekerja sama dengan orang-orang munafik yang bermulut manis namun berhati busuk. Merekalah yang kemudian membuat rekayasa-rekayasa, tuduhan-tuduhan dan berbagai macam cara licik dan kotor. Merekalah yang kemudian menguasai media-media, membombardir informasi dengan fitnah dan kedustaan, seolah mereka tidak akan mati dan tidak akan diminta pertanggung jawaban.

Eh…, sudah panjang yaa…
Udah dulu deh…

***DISCLAIMER:
Tidak menerima debat/diskusi. Mendebat tulisan ini akan saya abaikan. Yang boleh hanya Like atau Share.