LGBT, Perilaku dan Pembelanya Yang TIDAK NORMAL

“LGBT adalah perilaku seks TIDAK NORMAL, dan yang mendukung pikirannya TIDAK NORMAL.”
-KH. Cholil Nafis-

Kira-kira begitu pernyataan KH. Cholil Nafis, salah satu Pengurus MUI Pusat dalam menyikapi maraknya issu LGBT dan getolnya para pembela LGBT.

Sebagai muslim, maka pakemnya adalah memandang dan menyikapi segala keadaan dari sudut pandang Islam, sudut pandang Quran dan Sunnah Nabi. Itu yang pertama dan utama, karena tak pijakan yang lebih baik dari keduanya. Maka demikianlah seharusnya shalihin/shalihat memandang dan menyikapi issu penyakit perilaku yang saat ini sedang marak, LGBT.
Selanjutnya, memandang dan menyikapi keadaan tersebut berdasarkan ilmu-ilmu yang lain, diantaranya kajian ilmiah, kedokteran, psikologi dan sosial budaya.

Bagi muslim, cukuplah kiranya bahwa Allah telah menerangkan pengharaman LGBT –khususnya hubungan sesama laki-laki– dalam Quran, dimana Allah telah menghukum kaum Nabi Luth.
Mari kita perhatikan peringatan Allah dalam Quran Surah Al-A’raf:80-84 berikut :

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” [80]

Sesunggguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian adalah kaum yang melampaui batas.’ [81]

Kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” [82]

’Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [83]

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [84]

Tolak LGBT1Abaikan saja orang yang menantang Allah, yang mengatakan “Jika benar Allah menghukum kaum Nabi Luth karena hubungan sejenis, mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama kepada negeri yang saat ini melegalkan LGBT?” misalnya. Mengapa? Karena pernyataan ini jelas permainan kata-kata yang menyesatkan dan hendak melawan hukum Allah.

Mengapa menolak atau anti LGBT? Karena Allah mengharamkannya. Just TAKE IT…!!! Begitu…
Itulah Iman dan taqwa. Adapun sebab-sebab yang lain, ia hanyalah pendukung dan pelengkap dari pengharaman ini.

Mau lihat dari sudut pandang mana?

– Adakah ‘produksi’ manusia yang menghasilkan keturunan itu adalah bertemunya sperma dengan sperma, atau bertemunya sel telur dengan sel telur? 

– Adakah laki-laki atau pejantan yang pernah melahirkan bayi?

– Adakah perkembangbiakan –binatang sekalipun– yang bisa terjadi karena pejantan membuahi pejantan atau betina dibuahi betina?

– Adakah binatang yang ‘menikah’ sesama jenis mereka sendiri? Kalau binatang saja ‘menikah’ dengan lawan jenis, bukankah perilaku LGBT lebih hina dari binatang?

– Dari sudut pandang agama, tak satupun agama yang ada di muka bumi ini ‘menghalalkan’ LGBT?

– Dari sudut pandang sosial budaya, adakah orang normal yang mau atau rela anak keturunannya berperilaku LGBT? Tidak ada!

– LGBT adalah perilaku kejiwaan yang menyimpang, begitulah sudut pandang psikologi.

Maka yang penting dipahami adalah bahwa LGBT itu adalah propaganda untuk menghalang-halangi laju peradabanan manusia. LGBT adalah upaya agar peradaban manusia punah, tak ada lagi manusia yang berkembang biak, menciptakan peradaban yang gemilang. Amat jelas dan terang benderang kiranya bahwa LGBT adalah propaganda untuk merusak generasi negeri ini.

Lalu bagaimana dengan pembelaan aktivis HAM terhadap LGBT?

Itulah yang disebut oleh KH. Cholil Nafis sebagai pikiran tidak normal. Mengapa? Ya karena LGBT itu menyalahi fitrah manusia, nabrak pakem agama dan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip manusia dan bersosial dan berbudaya. Hak Asasi Manusia, dalam prakteknya haruslah tidak melanggar Hak Asasi Manusia yang lain. Propaganda LGBT adalah melanggar hak asasi manusia lain, karena dalam prakteknya LGBT adalah penularan penyakit perilaku. Targetnya? Orang-orang normal.

Tolak LGBT4Sementara itu, issu HAM yang dikaitkan dengan LGBT tidak jauh-jauh dari urusan duit. Ada dana besar yang digelontorkan –bahkan oleh lembaga dunia– untuk mengkampanyekan LGBT dengan membawa issu HAM atau anti diskriminasi. Kiranya tautan ini sudah cukup bagi kita, orang-orang yang mencintai negeri ini untuk memahami bahwa LGBT adalah sebuah gerakan yang diorganisir untuk merusak negeri ini. Silakan baca disini Being LGBTI in Asia

Lalu kita harus bagaimana?

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tugas kita adalah mengajak pada kebaikan dan ikut serta memerangi kejahatan. Marilah kita renungi firman Allah dalam Quran Surah Fushshilat ayat 33, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?

Kita bisa menjadi bagian dari para penyeru kebaikan. Kita bisa menjadi bagian orang-orang yang menyampaikan kebenaran bahwa LGBT adalah perilaku TIDAK NORMAL dan mengajak orang yang mengalami masalah tersebut kembali kepada aturan Allah. Kembali kepada fithrah sebagai manusia.

Kita bisa menjadi bagian para penyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik, bukan dengan cara-cara kasar dan kotor yang tak santun. Tentu akan ada penentangan dari para pelaku kemaksiatan, dan itulah ujian atas kesabaran dalam jalan kebenaran. Kita harus tetap on the track dalam dakwah kepada Allah.
Mari kita renungi firman Allah dalam Quran Surah An-Nahl ayat 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:An-Nahl :125)

Dalam rangka itu pula kiranya, tulisan saya ketengahkan, sebagai ikhtiar dalam kebaikan, mengajak manusia kepada jalan Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Maka dimanakah kita berada? Menjadi bagian dari kebaikan dengan melawan propaganda para perusak –pelaku dan pendukung LGBT— itu, atau menjadi bagian dari mereka, yang tentu saja menjadikan Anda –berdasarkan kriteria KH. Cholil Nafis—punya pikiran TIDAK NORMAL.

Allahu a’lamu bishshawaab…..

“Would The World Be Better Without Islam?”

Sebuah catatan tentang film BulanTerbelah di Langit Amerika

“Would the world be better without Islam?”
NO…!!!
Dunia pasti akan kacau balau tanpa Islam.

Saya rasa itulah konklusi dari Film Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang bagi saya adalah pesan yang sangat penting. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab “NO” oleh orang yang mengalami langsung tragedi 9/11, seorang tokoh yang bernama Philips Brown. Pertanyaan itu pula kiranya, yang membuat Philips Brown mau diwawancarai oleh Rangga, meski kemudian wawancara batal.
Philips Brown menjawab NO dengan sangat mantab, karena dia tahu persis bagaimana akhlaq seorang muslim yang baik ketika meletus peristiwa tersebut.

Adalah Ibrahim Hussein –yang sebelumnya dia kenal sebagai Hasan– orang yang kemudian merubah pandangannya tentang Islam dan orang Islam. Ibrahim Hussein yang bahkan oleh istrinya sendiri dianggap terlibat dalam peristiwa 9/11, yang kemudian menjadikan Azima (Julia Collins) menjadi inferior dan menanggalkan hijabnya. Hassan yang sebelumnya ditolak oleh Philips Brown saat minta donasi untuk anak-anak Suriah sebelum kejadian 9/11, karena kebaikannya –dan itu adalah akhlaq seorang muslim– telah menginspirasi Philips Brown sebagai seorang yang dermawan setelah kejadian 9/11.

Secara keseluruhan, pesan kedamaian yang ingin disampaikan oleh Hanum Salsabila, berhasil. Pesan bahwa Islam dan orang Islam adalah keselamatan dan kedamaian, bukanlah pembuat terror.
Pesan ini penting karena pasca kejadian 9/11, yang dalam film tersebut dicitrakan pelakunya adalah muslim –tanpa memperhatikan muatan konspirasi di dalamnya– mengakibatkan gelombang Islamphobia yang sedemikian dahsyat di Amerika dan Eropa, hingga sampai ke negeri-negeri yang lain.

Tentu saja media berperan dalam menciptakan Islamphobia ini, sehingga Azima (Julia Collins) pun enggan diwawancara terkait kejadian yang diduga melibatkankan suaminya. Meski akhirnya, Julia Collins bersedia diwawancara oleh setelah Hanum meyakinkan Julia Collins dan tetangganya bagaimana akhlaq seorang muslim.
Di film ini memang tidak ditampilkan unsur konspirasi, yang saya yakin penulisnya pun telah sedikit banyak mengetahui keberadaannya. Entah mengapa, di film ini secara vulgar diketengahkan bahwa penyebab tragedi 9/11 adalah muslim, meski di ujungnya ada semacam rehabilitasi terhadap citra muslim.

Namun tentu saja, selalu ada kritik untuk sebuah kebaikan. Bagaimanapun juga, ada beberapa bagian dalam film ini, meskipun dikemas dengan jenaka, namun perlu diluruskan. Apa gerangan itu?
Ia ada dalam dialog antara Rangga dan Stefan tentang bagaimana seseorang masuk Islam. Rangga yang berkawan akrab dengan Stefan menyarankan agar Stefan masuk Islam saja, biar hidupnya gak ribet. Mari kita simak dialog mereka.
Stefan: “Bagaimana cara masuk Islam?”
Rangga: “Cukup ucapkan dua kalimat syahadat”
Stefan: “Itu saja?”
Rangga: “Ya itu saja. Tapi belum tentu masuk syurga”
Jawaban santai dan dengan mimik jenaka Rangga itu menurut saya kurang tepat, karena dengan mengucap syahadat, seseorang telah mengucapkan kalimat tauhid La ilaha illa Allah, yang dengannya ada jaminan syurga. Saya berharap itu hanyalah accident dialog.

Hal lain yang menurut saya patut dikritik adalah tentang Rianti Cartwrite, yang memerankan seorang muslimah bernama Azima (Julia Collins). Memang pesan moral kedamaian Islam tersampaikan, namun dalam waktu yang bersamaan, filem tersebut telah ‘mempermainkan’ hijab. Peran wanita muslimah, akan lebih baik kalau diperankan oleh seorang muslimah juga. Jikapun ada alur cerita Azima yang inferior atas keislamannya lalu melepas hijabnya, saya yakin ada cara lain untuk mengetengahkannya. Sehingga urusan ‘cabut pasang’ hijab itu tak secara vulgar ditampilkan.
Meski saya maklum itu dilakukan karena pemerannya non muslim, tapi tetap saja, bagi saya itu mereduksi kualitas film ini.
Secara umum saya menilai, film ini bukan film yang Islami. Namun saya mengapresiasi bahwa film ini telah mengetengahkan wajah damai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana pesan terakhir dalam film ini.

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Asas Penyikapan

Oleh: Ustadz Muhammad Anis Matta, Lc

DI TENGAH SITUASI yang terus berubah, seperti ketika dakwah merambah rimba politik, menentukan sikap merupakan salah satu pekerjaan yang rumit. Setiap situasi politik biasanya menyimpan peluang dan jebakan sekaligus. Karenanya, setiap keputusan politik pasti mengandung resiko. Para pemimpin politik diuji di sini. Karakter sebuah pergerakan akan terbentuk dan terlihat di sini.

Di sini ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan politik. Pertama, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang, dan institusinya. Jadi, bukan sekedar sikap dan keputusan yang benar, tapi sikap dan keputusan benar yang tepat! Kebenaran dan ketepatan adalah dua substansi yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik.

Kedua, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu efektif bekerja mengantar kita mencapai tujuan yang ingin kita capai. Efektivitas untuk sebagiannya terkait dengan tingkat kebenaran-ketepatan sikap dan keputusan politik, tapi untuk sebagiannya terkait dengan cara apa sikap dan keputusan politik itu diekspresikan. Efektivitas terkait dengan fungsi penyikapan dan pengambilan keputusan, terkait dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh sikap dan keputusan politik tersebut.

Ketiga, sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan politik. Dalam situasi yang terus berubah, “durasi kebenaran” seringkali tidak bertahan lama atau kita kemudian kehilangan arah dan pegangan dasar sehingga sikap dan keputusan politik kita tidak lagi konsisten. Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif; apakah
warna dasar itu bernama kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme.

Itulah tiga nilai utama yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik yang kita ambil: ketepatan, efektivitas, dan konsistensi. Ketiganya terkait dengan dua sisi yang senanriasa melekat pada sikap dan keputusan politik yang kita ambil. Sisi pertama terkait dengan substansi sikap dan keputusan politik yang kita ambil, yaitu tentang muatan kebenaran syar’i. Sedang sisi kedua terkait dengan proses penentuan sikap dan pengambilan keputusan politik, yaitu tentang cara yang kita tempuh, apakah sudah benar atau tidak.

Muatan dan proses

Muatan kebenaran dalam sebuah sikap dan keputusan polidk sesungguhnya ditentukan oleh referensi dan metode yang kita gunakan. Bagi kita kaum muslimin, sudah tentu kebenaran yang kita maksud adalah kebenaran syar’i. Karenanya, referensi kita dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan politik adalah merujuk pada syariat Islam. Sedang metode yang kita pakai adalah ijtihad. Akan tetapi, ijtihad yang benar hanya dapat dilakukan jika kita menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, pengetahuan tentang syariat Islam yang mendalam dan pada waktu yang sama, juga pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan politik yang kita hadapi. Yang pertama kita sebut dengan “fiqhi wahyu”, yang kedua “fiqhi realitas”.

Yang kita lakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah swt. dalam realitas kehidupan manusia.Jadi, fungsi ijtihad itu menempatkan setiap kebenaran wahyu pada realitasnya, pada dunianya yang tepat. Artinya, nilai ijtihad itu pada ketepatannya.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kita tegaskan di sini. Yaitu, secara substansial seluruh ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Itulah sebabnya Ibnu Taymiah mengatakan, di rnanapun ada kemaslahatan bagi manusia, disitu pasti terdapat syariat Allah. Jadi, syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia. Karena itu, Al-Syathiby mengatakan, inti politik Islam adalah mendatangkan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia dan menolak mudharat sebanyak-banyaknya dari manusia.

Kemaslahatanlah yang kemudian menentukan sikap dan keputusan politik kita. Termasuk juga di dalarnnya menentukan semua perubahan yang terjadi dalam sikap dan keputusan politik kita. Jadi, andaikan kita mendukung seseorang untuk menduduki suatu jabatan tertentu, lantas kemudian kita mengubah sikap dengan memintanya meninggalkan jabatan itu, semua perubahan itu dapat dipahami dari pendekatan maslahat

Jadi, asas penentuan sikap dan pengambilan keputusannya adalah “asumsi” maslahat yang terdapat dalam perkara itu, Karena sifatnya asumsi, maka sudah pasti relatif. Dan karena relatif, sangatlah mudah mengalami perubahan.

Namun demikian, asumsi yang kita gunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih} yang mempunyai dasar pada fakta-fakta, pertimbangan- pertimbangan rasional, dan idealita yang kita inginkan. Jika sebuah asumsi dibentuk dari realitas, rasionalitas, dan idealitas, kita berharap peluang kesalahannya menjadi lebih kecil. Dan, kelemahan itu dapat kita tutupi dengan niat yang ikhlas serta tawakkal kepada Allah swt.

Adapun sisi yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan itu sendiri. Yaitu, apa yang kemudian kita sebut dengan syuro. Karena kemaslahatan itu didefenisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk kepada realitas, rasionalitas, dan idealitas, sudah tentu akal kolektif lebih baik daripada akal individu. Karena itu, keputusan bersama selalu lebih baik daripada keputusan individu.

Tapi, apakah setiap syuro dengan sendirinya selalu melahirkan sikap dan keputusan politik yang bermutu? Tentu saja tidak ada jaminan. Tapi, peluangnya lebih besar. Meski begitu, masalah ini tetap perlu didalami lebih jauh.

Sumber: Menikmati Demokrasi

Happy Birthday Sweetheart, Azzam Al-Ghozy

1 Februari 2004

12 tahun yang lalu, Allah tambah rizqi yang juga amanah buat kami. Semoga Allah hindarkan kami dari fitnahnya.
Karena memang sesungguhnya istri dan anak itu bisa jadi fitnah.

Sekarang, anak kami itu sudah kelas 6 SD.
Dua hari kemaren, berturut-turut dia memberikan kepada kami, orang tuanya, hadiah spesial. Proud of you sweetheart….

Hari sabtu 30 Januari 2016, anak saya itu diterima sebagai calon santri di Pondok Pesantren Ibnu Abbas – Klaten Jawa Tengah, salah satu ma’had tahfizhul Quran terbaik yang saya tahu.
Hari minggu 31 Januari 2016, kembali anak saya menorehkan prestasi sebagai tiga besar dalam munaqosyah.
Saya sendiri yang mengantar dan menungguinya, karena saya juga harus tahu kualitas anak saya.

Tidak lama lagi, dia akan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren di Klaten.
Dia anak kedua kami yang akan jauh dari mata kami, meski tetap dekat di hati. Kakaknya yang sulung, telah mendahului untuk ‘berpisah’ dengan kami juga dalam rangka menuntut ilmu.
Kami akan jarang bertemu, tapi kami yakin kami tetap ‘selalu bersama’.
Bersama dalam ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, yang kepadaNya kami semua akan kembali.

Ketaqwaan kepada Allah, itulah yang selalu saya tekankan kepada anak-anak kami. Menjadi apapun, harus dalam rangka ketaqwaan kepada Allah.
Termasuklah menuntut ilmu. Ia adalah dalam rangka ketaqwaan kepada Allah, yang dengan ilmu itu, kelak akan digunakan untuk sebanyak-banyaknya maslahat bagi ummat.
Menolong agama Allah, yang karenanya Allah akan menolong kita.
Ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah, adalah kunci kebahagiaan.

Happy birthday my lovely son, Abdullah ‘Azzam al-Ghozy.
Semoga Allah karuniakan keutamaan padamu dalam ilmu.
Tetap semangat ya sayang…

We love you, tentu karena Allah semata.