Ayo Nonton #KMGPTheMovie

“Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”

Alhamdulillah, tadi malam nonton Ketika Mas Gagah Pergi #KMGPTheMovie, yang diproduseri langsung oleh penulis novelnya, Helvy Tiana Rosa, salah satu novelis terbaik Indonesia. Filem ini dibiayai oleh banyak orang dengan gerakan “Patungan Bikin Filem”, bahasa kerennya Crowdfunding Film, yang digagas oleh Helvy Tiana Rosa dan para pembaca novelnya. Mottonya, “Ini film kita. Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!”
Kira-kira begitu.

Semula saya mengira bahwa #KMGP akan bersetting tahun saat novel itu dibuat, 20 tahun yang lalu. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. #KMGP bersetting present day, masa kini.
Dan saya juga baru tahu kalo #KMGP yang semalam kami tonton adalah part one, akan ada lanjutannya. Sepertinya KMGP part two akan lebih ramai dan menegangkan jika diliat dari cuplikannya.

KMGP seperti yang pernah saya baca, penyuguhannya diluar dugaan saya.
Saya tidak mendapatkan yang saya harapkan, karena saya mengira cara pembuatan filmnya seperti Tausiyah Cinta. Hamas Syahid, yang memerankan tokoh Mas Gagah, saat persiapan tampil di catwalk, saya lihat diurusi oleh penata rias perempuan. Itu salah satunya. Saya berharap -seperti dalam Tausiyah Cinta- interaksi Hamas dengan non muhrim bisa terjaga. Sebagai penghafal Quran, Hamas harus sangat berhati-hati tentang hal ini. Tapi memang, KMGP ini bukan seperti film Tausiyah Cinta yang sarat dgn dakwah dalam pembuatannya, meski pesan dakwahnya juga tetap ada.

Hal lain yang terasa aneh bagi saya adalah jenggot Gagah. Kesan tempelannya sangat kelihatan. Padahal, jika diperhatikan, Hamas adalah tipe orang berbulu. Saya yakin dia punya jenggot asli. Tapi ini view subyektif saya. Boleh jadi orang lain punya view yang berbeda, dan itu sah-sah saja. Dan ternyata, setelah saya kasak kusuk sana sini, ternyata benar. Jenggot Gagah itu tempelan. Dan itu diakui oleh Helvy. Sebabnya tak lain dan tak bukan, karena timing yang gak pas dengan tumbuhnya jenggot asli Gagah pas syuting pilem.

Secara konten, ‘bintang’ dalam KMGP menurut saya adalah Gita dan Yudistira (Yudi).
Tokoh Gita ini, sangat menarik bagi saya. Bukan karena cantiknya. Tapi karena tipikalnya. Tipikal Islamphobia dan baper. Semua orang harus sejalan dengan dia. Dan tipikal Gita itu, begitu banyak dalam dunia nyata. Sekarang ini. Saat ini. Tipikal yang menantang buat para aktivis dakwah.

Sementara Yudi, tokoh satu ini membuat saya surprise, perasaan saya berkecamuk saling berantem. Saya bangga, tapi nyaris gak percaya, weird dan tapi juga malu. Bangga karena ada orang yang gigih berdakwah, bahkan anti mainstream. Dakwah dalam angkutan. Tapi sekaligus gak percaya, apakah ada di dunia nyata kota metropolitan orang kek Yudi itu. Weird, rasanya aneh cara yang dilakukan Yudi. Mengada-ada. Malu, bahwa saya tidak bisa seperti Yudi itu.

Issu Palestina juga dibawa dalam filem ini, dengan mengetengahkan sejarah bahwa Palestina adalah yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Saat ini, penjajahan Israel atas Palestina telah banyak membawa korban dan melanggar hak asasi manusia. Pertanyaan terkait Palestina, “Mengapa kita jauh-jauh mengurusi negara orang lain, disini saja banyak masalah yang harus kita selesaikan” misalnya, bisa dijawab dalam adegan terkait issu Palestina dalam film ini.

Untuk diketahui saja, mengapa kemudian filem ini di-producer-i oleh Helvy sendiri, karena Production House yang semula bersedia menerima KMGP ternyata mensyaratkan cerita tentang Palestina itu tidak ada. Adalah wajar bahwa producer punya mau ini dan itu atas film yang diproduksi. Dan Helvy tetap pada pendirian, cerita tentang Palestina harus tetap ada. Untuk itu harus diproduksi sendiri.
Qadarullah, dengan kegigihan usaha untuk mewujudkan film bermutu akhirnya filem KMGP berhasil diproduksi meski dengan patungan, istilah kerennya Crowdfunding Film. Allahu Akbar…

Issu kemanusian lainnya juga dikemas secara apik. Bagaimana Gagah membantu para preman yang mengelola banyak anak-anak tapi dengan cara yang tidak benar, akhirnya karena pertolongan Gagah dan teman-temannya, para preman itu kemudian bisa memperbaiki hidupnya. Bisa memperbaiki kehidupan anak-anak di kawasan yang kumuh.
Lalu berdirilah “Rumah Cinta”.
Ini pula yang menyebabkan Gita sangat marah kepada Gagah karena uang yang semula akan digunakan untuk backpacker-an, semuanya disumbangkan Gagah untuk penghijaun, modal kerajinan dan mendirikan Rumah Cinta. Gita pun memperbandingkan kasih sayang kakaknya, karena menurut Gita, Gagah lebih memilih membantu orang lain, daripada menyenangkan adik sendiri. Tapi memang tipikal Gita yang mau menang sendiri, penjelasan Gagah bahwa awal bulan depan bisa backpackeran sudah gak laku lagi.

Tapi saya sedih, filem bermutu yang sarat pendidikan dan pesan kebaikan seperti Tausiyah Cinta dan KMGP ini, sepi penonton. Meski setahu saya, Helvy telah jauh-jauh hari mengabarkan produksi film ini. Bahkan ada kampanye donasi untuk membuat film ini. Disini saya melihat, harus ada upaya yang benar-benar serius untuk memasarkan film-film seperti ini. Harus ada orang-orang shalih yang dermawan untuk mensponsori agar film ini ramai penonton. Karena jika tidak, produksi film yang berbiaya besar ini kurang maksimal manfaatnya.

Mari kita serbu KMGP. Kita perlu ‘show of force’, agar filem-filem dakwah lainnya nanti bisa mewarnai jagat cinema negeri kita. Yang dikaruniakan Allah kecukupan, keluarkanlah barang satu tiket, sebagai hadiah buat saudara yang lain. Niatkan sebagai sarana dakwah kepada Allah.