Ibu…, Ibu…, Ibu…, Ayah

“Ya Rasul, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”, tanya seorang laki-laki.
“Ibumu”, jawab Rasulullah SAW.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu mengulang pertanyaannya.
“Ibumu”, jaawab Rasulullah SAW lagi.
“Kemudian siapa?”, laki-laki itu bertanya lagi.
“Ibumu?” kembali Rasulullah SAW memberi jawaban yang sama.
“Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu lagi.
“Kemudian ayahmu”, jawab Rasulullah SAW.

Percakapan tersebut diatas termuat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang sebagian besar kita telahpun sering mendengarnya. Ia adalah hadits tentang keutamaan, kemuliaan seorang ibu bagi anak-anaknya.

Atau barangkali diantara kita pernah mendengar sebuah lagu yang berjudul “Keramat”, yang diciptakan liriknya dan dinyanyikan oleh Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama.

Hai manusia…!!!
Hormati ibumu, yang melahirkan dan membesarkanmu.
Darah dagingmu dari air susunya, jiwa ragamu dari kasih sayangnya.
Dialah manusia satu-satunya, yang menyayangimu tanpa ada batasnya.
Do’a ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan.
Ridho Ilahi karena ridhonya, murka Ilahi karena murkanya.

Lirik lagu Keramat ini tentu bukan lirik sembarangan. Sumber inspirasi lirik tersebut adalah Kitab Suci Yang Agung, yang tak ada keraguan di dalamnya, Al-Quranul Karim, dan juga hadits Nabi SAW.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang membicarakan tentang berbakti kepada ibu bapak, bahkan secara khusus menyebutkan bagaimana perjuangan ibu. Mari kita perhatikan Surah Luqman ayat 13-14 berikut,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 13-14)

Mari kita perhatikan pula riwayat berikut,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam)

Kita tentunya juga pernah membaca atau mendengar, bagaimana seorang pemuda yang kesulitan dalam sakaratul maut. Ia tidak bisa mengucapkan kalimah syahadat, meski telah ditalqin oleh sahabat utusan Rasulullah. Jangan kira ia adalah pemuda yang jahat. Tidak. Ia adalah pemuda yang taat beribadah. Rajin sholat, rajin puasa, rajin bersedekah.
Lalu apa kiranya yang membuat dia sulit mengucapkan kalimat tauhid saat ajal datang menjemput?
Kemarahan ibunya.

Ya… kemarahan ibunya lah yang menyebabkan Al-Qomah, nama pemuda itu tidak bisa mengucap kalimat tauhid saat sakaratul maut. Ibunya marah karena ia telah durhaka pada ibunya, lebih mengutamakan istrinya dibanding ibunya.
Rasulullah pun sampai-sampai hendak membakar Al-Qomah, karena ibunya tidak mau memaafkan anaknya. Rasulullah SAW menyampaikan kepada ibu Alqomah bahwa adzab Allah itu pedih dan lama. Sholat, puasa, sedekah dan semua kebaikan Alqomah tak akan memberikan manfaat sedikitpun pada Alqomah, jika ibunya masih marah dan tidak ridho pada anaknya.

Setelah mendengar tentang hal tersebut dari Rasulullah SAW, ibu Al-qomah kemudian memaafkan dan merelakan anaknya. Barulah kemudian Al-Qomah bisa mengucapkan kalimah syahat sebelum akhirnya meninggal dunia.
Rasulullah kemudian melihatnya, memerintahkan penyelenggaraan jenazah dan menshalatinya.

Setelah proses penguburan selesai, Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah azza wa jalla tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah azza wa Jalla tergantung pada kemarahannya.”

Semoga Allah karuniakan kepada kita semua ketaqwaan, yang dengannya kita berbakti kepada orang tua kita, selalu menyayangi dan mendoakan keduanya sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kita masih kecil.

Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayani shaghiran….. Aamiin….

Rabbanaghfirli wa liwalidayya wa lil mu’minina yauma yaqumul hisab…. Aammin…

*saya tulis ini untuk orang-orang yang saya cintai, ibu/bapak saya, istri dan anak-anak saya, adik-adik saya dan semua sahabat serta handai taulan*

JANGAN GOLPUT…!!! Di Balikpapan Ada HS, Harapan Semua

“Ah, semua paslon sama saja, mereka adalah produk demokrasi!” begitu biasanya sebagian orang, yang menurut saya orang baik, mengutuk keadaan. Atau yang lain, “Ah, sama aja paslon-paslon itu, kalau sudah jadi lupa”

Ungkapan-ungkapan senada dengan pernyataan diatas itu, dipastikan nanti akan meramaikan jagad dunia nyata dan dunia maya. Dan finalnya, orang-orang yang mengutuk keadaan itu memprovokasi agar tidak usah memilih dalam pilkada. Inilah sebagian dari bencana demokrasi itu.

Sampai-sampai, situs Hizbut Tahrir Indonesia pun sampai memaksakan diri memposting artikel dengan judul Pepesan Kosong Pilkada Serentak.

Saya coba salin sedikit paragraf dalam artikel itu…

Akibat dari semua itu, Pilkada serentak hanya memberikan pepesan kosong. Hasil Pilkada Serentak pada akhirnya tak beda dari Pilkada sebelumnya. Pertama: Kekuasaan tetap dikendalikan oleh sekelompok kecil elit daerah. Sebabnya, paslon hampir semuanya berasal dari petahana dan elit politisi daerah dari DPR, DPRD I dan DPRD II, elit birokrasi daerah, PNS dan pengusaha.

Kedua: Korupsi, suap dan penyalahgunaan wewenang akan tetap marak. Untuk mengembalikan modal pencalonan yang mustahil ditutup dari pendapatan resmi, terjadilah korupsi, penyalahgunaan wewenang dan anggaran, atau tindakan memperdagangkan kekuasaan dan wewenang seperti dalam pemberian berbagai ijin.

Ketiga: Perselingkuhan penguasa dengan pengusaha akan terus berlanjut. Pengusaha memodali paslon. Imbalannya, proyek-proyek akan diserahkan kepada pengusaha itu melalui “pengaturan” tender, meloloskan proyek-proyek yang disodorkan oleh pengusaha atau cara lainnya.

Keempat: Akibat dari semua itu, pemimpin daerah akan lebih mengutamakan kepentingan dirinya, kelompok, partai dan pemodalnya. Sebaliknya, kepentingan dan kemaslahatan rakyat akan dipinggirkan.”

Apakah mengutuki kegelapan, seperti paragraf tersebut diatas itu menyelesaikan masalah? Apakah tidak memilih dalam pilkada itu menyelesaikan masalah? Apakah golput itu bisa membuat perbaikan? Apakah golput bisa menentukan jadi tidaknya kebijakan?
Tidak…!!! Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Teman saya, Mustofa B. Nahrawardaya pernah bertanya pada kawan HTI. Begini pertanyaannya, “Bagaimana cara/proses berpindah dari Sistem Demokrasi ke Khilafah”. Mereka menjawab: “Ya mereka tinggal menyerahkan saja pada kami. Nanti kita kelola secara Islam”. Lah…. lha koq enak?

Gak mau milih, mengharamkan demokrasi bahkan memprovokasi golput, tapi berharap hasil dari proses demokrasi itu diberikan kepada mereka dan dikelola secara Islam? Lha memangnya yang disebut dengan ‘mereka’ oleh syabab HTI itu mau nyerahin begitu saja? Lha koq nggace tenan….

Kita semua bisa menjadi bagian dalam berkontribusi untuk kebaikan negeri ini. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi orang baik, lalu menjadi bagian dari kebaikan. Kita bisa menjadi bagian dari “Orang-orang yang paling baik ‘amalnya”.

Ikhtiar kita adalah, memperbanyak orang-orang baik untuk mengelola negeri ini. Ikhtiar itulah yang dinilai oleh Allah, bukan hasilnya.

Kalau orang-orang jahat menggunakan demokrasi untuk memusuhi Islam, merongrong kedaulatan negeri ini, merampok kekayaan negeri ini, bagaimana mungkin orang-orang yang sejatinya orang baik itu malah meninggalkan ‘gelanggang peperangan’, lalu berteriak diluaran demokrasi itu haram, mari kita wujudkan syariah khilafah sembari membusuki saudaranya yang sedang berdakwah dengan ‘menunggangi demokrasi’?

Apakah kita akan biarkan orang-orang jahat menggunakan demokrasi untuk memusuhi Islam, merongrong kedaulatan negeri ini, merampok kekayaan negeri ini?

TIDAK…!!!Pilkada adalah salah satu proses demokrasi yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah Islam. Kita harus rebut kekuasaan, agar kemaslahatan bisa terdeliver secara lebih luas. Itulah HARAPAN SEMUA…!!!

Allahu a’lamu bishshowab…..