Hari Santri, Buat Apa?

CR65OwSUsAAj0xb

Rekayasa Panitia Hari Santri, menghilangkan jenggot Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari

Kemarin, Kamis 22 Oktober 2015, kabarnya pemerintah menetapkan sebagai Hari Santri. Penetapan ini konon, karena waktu kampanye pilpres, tim sukses capres Jokowi menjanjikan akan memberikan Hari Santri.

Saya sendiri yang tumbuh besar di lingkungan Nahdhiyin, dan bisa disebut santri, tidak terlalu tertarik dengan euphoria Hari Santri ini. Entah untuk apa Hari Santri ini. Apa manfaatnya? Saya tidak melihatnya.
Yang saya lihat adalah, Hari Santri ini adalah janji kampanye untuk menarik simpati Nahdhiyin agar berbondong-bondong memilih Jokowi ketika itu. Itu saja. Tidak lebih.
Jadi ini memang bermuatan politik.

Secara esensial dan manfaat, saya melihat masih jauh panggang dari api. Pertanyaan-pertanyaan terkait hal ini misalnya:
– Apakah kalau ada Hari Santri ini tidak terjadi lagi diskriminasi terhadap muslimah yang mau berjilbab dalam bekerja?
– Apakah kalau ada Hari Santri ini para perusuh yang membakar masjid di Tolikara diproses hukum dengan adil dan serius?
– Apakah kalau ada Hari Santri tidak ada lagi intimidasi-intimidasi terhadap aktivitas dakwah Islam?
– Apakah kalau ada Hari Santri Majelis Rasulullah yang terbiasa melakukan kegiatan dzikir akbar di Monas mendapatkan ijin dari gubernur DKI yang kafir itu?
– Apakah kalau ada Hari Santri maka presiden akan mengintstruksikan Kapolri dan Panglima TNI untuk menangkap para pembakar lahan/hutan yang mengakibatkan bencana asap?
Dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Namun kita melihat fakta yang ada bahwa :
– Masih banyak terjadi tindakan diskriminasi di beberapa kantor/perusahaan terhadap muslimah yang bekerja dan memakai jilbab. Ini fakta. Silakan baca disini atau disini. Jika mau googling, masih banyak diskriminasi terhadap muslimah.
– Majelis Rasulullah, yang biasa menggelar acara Dzikir Akbar di silang Monas, tahun ini tidak dapat menyelenggarakan acara serupa karena tidak dapat ijin dari gubernur DKI. Bahkan Gubernur DKI malah menuduh EO Majelis Rasulullah menjual lapak kepada para PKL. Link tudingan Ahok ada disinidisini dan disini.
– Sampai hari ini, pemerintah tidak terlihat secara serius menangani daerah bencana kabut asap. Jika untuk pertandingan piala presiden saja Jakarta ditetapkan SIAGA SATU, maka tidak untuk daerah bencana kabut asap. Tidak ada SIAGA SATU untuk warga korban kabut asap.

Dan fakta paling menyedihkan adalah, justru di arena peringatan Hari Santri. Bagaimana tidak? Panitia peringatan Hari Santri telah secara sengaja melakukan pelecehan terhadap poster Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri NU dan Pahlawan Nasional yang terkenal dengan Resolusi Jihad-nya.

Karena kedengkian, maka poster Mbah Hasyim yang berjenggotpun direkayasa dengan menghilangkan jenggotnya. Betapa KURANG ADABnya orang-orang itu. Tidak ada hormat dan tidak punya akhlaq terhadap ‘Ulama.
Maka dengan ini saya mengutuk orang yang dengan sengaja merekayasa poster Mbah KH. Hasyim dengan menghilangkan jenggotnya. Semoga Allah membalas makar mereka itu.

Jika begitu keadaannya, untuk apa Hari Santri?