Selamat Ulang Tahun Cintaku, I Love You

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, yang kepadaNya kami menyembah, memohon pertolongan dan perlindungan, bahwa kami berdua dikaruniakan nikmat Iman dan Islam. Nikmat yang tak ada tandingannya dalam kehidupan kami. Alhamdulillah….

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, yang kepadaNya kami menyembah, memohon pertolongan dan perlindungan, bahwa kami berdua dikaruniakan kesehatan, kemurahan rizqi dan anak-anak yang shalih/shalihah. Alhamdulillah….

Hari ini, 31 Juli 2015, saya genap berusia 46 tahun. Kekasih saya, Umi Icha genap berusia 38 tahun. Loh…?
Ya…kami ditaqdirkan Allah memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama.

Buat istriku, buah hatiku, cinta dan kasihku, maafkan atas kekurangan diriku.
Maafkan jika ada laku lampah dan kataku yang mungkin menyakiti hatimu.
Kamu adalah karunia Allah yang sangat indah untukku.
Di ‘kakimu’ ada syurga untuk anak-anak kita, buah hatiku dan juga kamu.
Terima kasih atas kasih sayangmu, cintamu.
Terima kasih atas segala pengabdianmu.
Tak ada yang bisa menandingimu dalam mencintaiku, menyayangiku.

Semoga Allah menjagaku, kamu dan anak-anak kita
Dalam cinta dan kasih sayang, karena Allah semata.
Semoga Allah melindungiku, kamu dan anak-anak kita.
Dari segala keburukan dan kejahatan juga fitnah dan tipu daya.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kasih sayang dan cinta, untuk tulus ikhlash mengabdi padaNya.
Beroleh limpahan pahala yang dengannya, Allah karuniakan syurga dengan rahmatNya.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kemampuan dan kemudahan untuk bertamu.
Menunaikan Umrah dan Haji di Baitullah, Makkatul Mukarromah.
Semoga Allah karuniakan padaku, kamu dan anak-anak kita.
Kemampuan dan kemudahan untuk bertamu.
Di Masjid Nabi Muhammad SAW, Madinatul Munawaroh.

Aamiin…aamiin…aamiin…

Aku tulis dengan penuh rasa cinta
Untukmu istriku tercinta dan tersayang

Selamat Ulang Tahun Cintaku
I Love You

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Catatan Untuk Aswaja

Oleh: Eko Junianto, SE
Nahdhiyin, Pengusaha Jamur – Tinggal di Cilacap

Dalam acara silaturahim keluarga, biasanya kita akan dikenalkan dengan anggota keluarga lainnya. Dalam satu keluarga besar (bani fulan), kita bahkan akan dikenalkan silsilahnya sampai derajat ketujuh, baik keatas, kesamping maupun kebawah.

Dalam tingkat organisasi, hal itu lazim disebut sebagai orientasi kejama’ahan. Pengurus NU memperkenalkan badan otonom (banom) kepada warga nahdliyin, seperti Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, Maárif dan lain-lain. Dulu kyai kami malah mengenalkan struktur banom NU tersebut dengan sebuah syair lagu, sehingga mudah untuk dihafalkan.

Keluarga Besar Ahlus Sunnah
Sebagai keluarga besar NU, kaum nahdliyin cukup solid. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada keluarga besar ormas islam yang lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, FPI, Hidayatullah, Salafi dan lain-lain. Namun jika spektrumnya diperluas menjadi keluarga besar ahlus sunnah, kita masih melihat kegamangan dan gesekan disana sini.

Fenomena tersebut memang cukup mengherankan. Padahal jika diurut sampai keatas, secara keilmuan umumnya masih berkutat pada imam mazhab yang empat (imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Syafi’i dan Ahmad bin Hambal). Tidak ada yang menisbatkan diri ke imam Ja’far Shadiq maupun Muhammad bin Ismail. Artinya, mereka masih keluarga besar ahlus sunnah.

Jika dahulu persaingan antar mazhab sering diwarnai dengan hadits palsu, maka sekarang diramaikan dengan silsilah nasab dan ketersambungan sanad ilmu sebagai bumbunya. Intensitasnya memang sudah turun, namun tetap saja memprihatinkan. Karena forum lebih didominasi oleh hujatan dan caci maki ketimbang diskusi ilmiah.

Mesra dengan Musuh
Dimedan lain, kita menyaksikan banyak generasi muda islam mulai akrab dengan paham muktazilah, syiah dan khawarij. Padahal ketiganya bukanlah anggota keluarga besar ahlus sunnah. Khusus untuk NU, hal ini terlihat cukup menonjol. Kiranya siapa tokohnya, kita sama-sama sudah paham.

Sebagian dari mereka intens mengkaji tafsir hermeunetika, giat mempromosikan pluralisme dan akrab dengan filsafat perenial. Akibatnya kitab Bulughul Maram, Subulus Salam dan Riyadhus sShalihin terpinggirkan, alias kalah saingan.

Sebagian dari mereka kuat pembelaannya terhadap syiah tapi kerap mencibir jika nasib yang sama menimpa keluarga besar ahlus sunnah. Sebagian lain ada juga yang gelap mata dan terjebak pada paham-paham ekstrim yang senang mengkafirkan dan menumpahkan darah.

Sebagian dari mereka rajin mendatangi seminar di hotel tapi jarang menghadiri majelis ta’lim dan majelis dzikir di masjid. Bersemangat mengkaji pemikiran orientalis dan pakar islamologi dari barat tapi abai terhadap warisan turats para ulama.

Sulit memungkiri bahwa mereka mulai akrab dengan Huntington, John Hick, Nasr Hamid Abu Zaid, Hassan Hanafi, Ali Syari’ati dll. Disisi lain mereka seakan asing dengan Abdullah ibnu Al Mubarak, Ibnu Jauzi, Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Asqolani dll.

Salah Asuhan
Bisa jadi mereka seperti ini karena salah asuhan. Salah pendidikan, karena kita sebagai gurunya cenderung ‘ashobiyah dan terjebak fanatisme mazhab. Salah pengajaran, karena kita sebagai mentornya cenderung mengisolasi pemikiran dan suka menimpakan fitnah kepada kelompok lain.

Salah orientasi, karena kita selaku pemandu lebih sering berkiblat pada kemajuan barat tapi kadang minder terhadap identitas keislaman. Salah persepsi karena kita sering menggambarkan islam sebagai penyebab kemunduran, sumber pertikaian dan konflik sosial.

Atau bisa jadi karena salah pergaulan. Karena kita sebagai orang tuanya jarang mengadakan silaturahim keluarga besar ahlus sunnah. Sehingga mereka tidak kenal dengan siapa kawan yang harus dijadikan shahabat dan siapa lawan yang harus dijadikan musuh.

Khatimah
Dulu, kaum muslimin bersemangat untuk mewujudkan nubuwat kejayaan. Mereka ingin menjadi bagian dari pasukan yang menaklukkan konstantinopel. Tapi semangat yang sama belum terjadi secara massif demi mewujudkan nubuwat kejayaan akhir zaman, dimana akan tegak kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Di depan kita ada PR besar untuk mengharmoniskan keluarga besar ahlus sunnah. Dari sinilah kita bisa meratas jalan kejayaan Islam. Aku, kamu, dan kita semua semoga ikut bisa mengambil peranan tersebut. Menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Amin.

Islam Rising, Berita Gembira Dunia Islam

Islam RisingMeski di negara terbelakang dan berkembang, Islam mendapatkan tantangan, di negara maju, Islam melaju. Syawal adalah bulan peningkatan. Yuk share berita-berita menggembirakan dunia Islam di kanal media sosialmu. Posting di Instagram, Path, Pinterest, Google+, Facebook dan Twittermu. Sebar juga di BBM, LINE, Wechat, Kakao dan Whatsapp.

Ini dia 13 daftar berita gembira dari dunia Islam. Mau nambahin? Boleh bingitssss

PEW RESEARCH : Mengapa Islam menjadi agama yang tumbuh paling cepat saat ini : http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/04/23/why-muslims-are-the-worlds-fastest-growing-religious-group/ #IslamRising

TIME : Bagaimana Islam menjadi agama yang tumbuh paling cepat di Eropa : http://time.com/3671514/islam-europe/ #IslamRising

Islam tumbuh pesat di semua negara di dunia http://learningenglish.voanews.com/content/islam-fastest-growing-religion/2733147.html #IslamRising

CNN : Islam akan tumbuh dari 1,6 Milyar menjadi 2,76 Milyar pada 2050 http://edition.cnn.com/2015/04/02/living/pew-study-religion/ #IslamRising

FORBES : Russia segera menjadi negara Muslim? http://www.forbes.com/sites/markadomanis/2013/10/23/is-russia-turning-muslim/ #IslamRising

VIDEO : Russia menjadi negara dengan pertumbuhan Islam paling cepat https://www.youtube.com/watch?v=-6ZmGnz73sU #IslamRising

100.000 wanita yang akhirnya memeluk Islam di Inggris rata-rata berusia 27 tahun http://www.dailymail.co.uk/news/article-1343954/100-000-Islam-converts-living-UK-White-women-keen-embrace-Muslim-faith.html #IslamRising

VIDEO : Islam tumbuh pesat di Inggris, agama lain turun
https://www.youtube.com/watch?v=QmqrFK4-OfQ #IslamRising

TELEGRAPH : Jumlah bayi Muslim naik 2x lipat dalam 1 dekade terakhir di Inggris http://www.telegraph.co.uk/news/religion/11406700/Number-of-Muslim-children-in-Britain-doubles-in-a-decade.html #IslamRising

GATESTONE INSTITUTE : Tak terbantahkan, Islam tumbuh paling pesat di Inggris Raya http://www.gatestoneinstitute.org/3500/islam-growing-religion-britain #IslamRising

NEW YORK TIMES : Pertumbuhan Islam di Perancis Fantastis http://www.nytimes.com/2013/02/04/world/europe/rise-of-islamic-converts-challenges-france.html?_r=0 #IslamRising

Sejak 2012, Islam ternyata telah menjadi agama terbesar di Perancis http://www.gatestoneinstitute.org/3426/islam-overtaking-catholicism-france #IslamRising

THE DIPLOMAT : Pada 2050, 1,5 Milyar Muslim ada di Asia http://thediplomat.com/2015/04/1-5-billion-muslims-may-live-in-asia-in-2050/ #IslamRising

“Sang Kyai di Dadaku”, Refleksi Muktamar NU Ke-33

11707994_445481165634491_8940725852877761125_oNabi Ibrahim menempati posisi yang sangat istimewa. Kaum Yahudi, Nashrani dan Muslimin senang dengan sosok Ibrahim dan menisbatkan diri sebagai penerus asli millah Ibrahim. Bahkan kaum musyrik Makkah juga sering mengklaim hal yang sama.

Politik klaim seperti itu terjadi dimana saja, termasuk juga di NU. Mereka yang masuk “darah biru” pendiri NU merasa paling sah sebagai pewarisnya. Mereka yang berada dalam struktur merasa paling memiliki otoritas. Mereka yang mengkaji pemikiran dan ajarannya merasa paling memiliki legitimasi.

Dalam konteks perjuangan, mereka yang dianggap sebagai pewaris lebih ditekankan pada pihak yang konsisten mengikuti jejak langkahnya dan meneruskan cita–cita perjuangannya. Karena itulah Rasulullah SAW pernah berseru “Kita lebih berhak atas Musa daripada kaum yahudi”.

Mengenal Sang Kyai
Bisa jadi kita termasuk kaum nahdliyin kelas akar rumput, bahkan sering pula diingkari sebagai warga nahdliyin. Bukan karena tidak yasinan, tahlilan, shalawatan dan ziarah kubur, tapi lebih karena tidak berkiprah di suatu partai politik tertentu atau karena menolak paham Syiah, Pluralis, Liberal dan Sekuler.

Tidak perlu berkecil hati dengan semua itu. Mari terus kita pelajari kisah hidupnya, teruskan perjuangannya dan mempraktikkan ajaran – ajarannya. Sungguh, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari adalah salah seorang ulama Rabbani. Semoga dengan itu, kita bisa dipertemukan dengan beliau di akherat kelak. Amin.

Pertama, Guru yang Bijak
Beliau benar – benar memiliki toleransi yang tinggi. Meski menjadi Rais Syuriyah NU, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya di Ponpes Tebu Ireng untuk menjadi orang NU. Meski menganut thoriqoh, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya untuk mengikuti jejaknya. Beliau juga sangat dekat dan akrab dengan KH Ahmad Dhalan, karena sama – sama sebagai santrinya Kyai Saleh Darat Semarang dan Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah. Dan, daftarnya masih banyak…

Hal ini mengingatkan kita dengan Imam Malik bin Anas, gurunya imam Syafi’i. Beliau kan mengarang kitab Al Muwaththa’. Kitabnya menjadi rujukan standar bagi para ulama salaf maupun khalaf saat mereka mulai belajar islam (mondok), mulai dari Imam Syafi’i, Imam Nawawi sampai seorang Ibnu Hazm (mahzhab zhahiri) sekalipun. Namun, ia menolak saat kitabnya akan dijadikan standar yang dilegitimasi melalui kekuatan negara.

Bahkan ia menolak tawaran dari Harun Al Rasyid yang meminta Al Muwaththa di gantung di Ka’bah (demi menyatukan ilmu umat islam). “Sesungguhnya para shahabat telah banyak berselisih dalam masalah cabang (fiqih), mereka telah tersebar di banyak negara dan masing – masing telah berfatwa kepada kaumnya” jawabnya. Padahal, Kitab Al Muwaththa’ adalah kitab paling shahih dimasanya.

Kedua, Ilmu yang Shahih
Ilmunya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari benar – benar shahih. Selepas nyantri ke Syaikh Khalil Bangkalan dan Kyai Saleh Darat Semarang, beliau melanjutkan petualangannya nyantri sampai ke Makkah. Diantaranya ke Syaikh Mahfuzh At Turmusi sampai diijazahi untuk mengajarkan kitab Shahih Bukhari. Beliau seorang ahli hadits terkemuka. Santri yang mondok ke Tebu Ireng, karena ingin belajar hadits. Hadist yang shahih, bukan yang dhaif apalagi mursal.

Beliau juga nyantri ke Syaikh Khatib Al Minangkabawi. Harap diingat, Syaikh Khatib Al Minangkabawi adalah salah satu ulama dari nusantara yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram. Dulu, imam Masjidil Haram bisa siapa saja dan dari mana saja, pokoknya yang paling faqih dimasanya. Sekarang oleh pemerintah Arab Saudi, Imam Masjidil Haram dipatok harus berasal dari orang arab.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga berani meluruskan banyak hal dari praktek thariqah yang menyimpang. Kita jadi ingat dengan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah, santrinya Imam Ibnu Taimiyah. Meski beliau juga mengikuti thariqah, tapi tetap kritis meluruskan praktek yang menyimpang. Kita bisa membaca koreksinya dalam kitab Madarijus Salikin.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga mampu memberikan panduan mana paham yang harus diikuti dan mana paham yang harus dijauhi. Golongan mana yang harus dijadikan kawan dan golongan mana yang harus dilawan. Alhamdulillah beliau mewariskan risalah qanun asasi kepada kita semua sebagai pegangan.

Ketiga, Pejuang Sejati
Beliau ini meneruskan semangat dan perjuangannya Imam Bonjol yang memimpin perang Paderi di Sumatra. Meskipun tidak tampil seheroik Imam Bonjol yang langsung terjun di medan juang, tapi fatwa jihad yang disampaikan mampu menggerakkan arek – arek Surabaya untuk maju ke medan laga. Mungkin karena faktor usia dan fisiknya. Yap, tiap – tiap orang ada medan jihadnya sendiri. Dan medan jihad yang paling menonjol dari “Sang Kyai” adalah jihad ma’rifah, tanpa menafikan kontribusinya dibidang yang lain.

Namanya juga ulama rabbani, maka dia tidak tunduk dengan tekanan maupun rayuan. Karena dipundaknya ada tugas besar sebagai penyambung lidah rasulullah saw.

Khatimah
Saat dakwahnya ditolak oleh penduduk kota Thoif, Rasulullah SAW tidak berkecil hati. Bahkan beliau mendoakan agar diantara tulang sulbi meraka semoga bisa dibangkitkan generasi yang beriman kepada Allah.

Karena itu, jangan pula kita kehilangan harapan terhadap NU. Mari kita berdoa agar kelak akan lahir pengurus yang benar – benar meneladani jejak “Sang Kyai” di dadanya. Bukan sekedar di spanduk dan balihonya. Amin.

Penulis: Eko Junianto, SE
Nahdhiyin, tinggal di Cilacap

“Surga Yang Tak Dirindukan”, Sebuah Ibrah

“Aku akan menikahimu. Malam ini juga. Pegang kuat tanganku, naiklah…!” ujar Prasetya meyakinkan Meirose agar tidak bunuh diri, lalu menariknya agar tidak terjatuh dari gedung rumah sakit.
Malam itu juga mereka menikah.

Dialog diatas adalah cuplikan adegan dalam filem Surga Yang Tak Dirindukan ‪#‎SYTD‬, yang diangkat dari novel karya Asma Nadia, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia tulis menulis Indonesia.
Dialog diatas itu pula awal konflik serius dalam filem #SYTD.

Catatan saya setelah menonton filem #SYTD yang menceritakan tentang poligami kurang lebih sebagai berikut :

– Bahwa poligami adalah bagian tak terpisahkan dari syari’at Islam, ia adalah aturan yang berasal dari Allah. Menentangnya, seperti menganggap poligami adalah penindasan terhadap perempuan, poligami bertentangan dengan hak asasi perempuan, maka berarti itu menentang syari’at Allah. Saya menyebutnya dengan Well Belief.
– Bahwa Poligami harus dilihat sebagai bagian (meski bukan satu-satunya) solusi yang disediakan Allah. Oleh karenanya, ilmu tentangnya haruslah diketahui secara baik. Bagaimana ‘adil yang dimaksud syari’at, bagaimana memenuhinya. Bagaimana jika sudah berusaha adil namun tetap dianggap tidak adil. Ini harus dipelajari.
Karenanya pula, bila tanpa ilmu, maka poligami yang seharusnya menjadi solusi akan menjadi bagian dari problem rumah tangga. Saya menyebutnya dengan Well Educated.
– Selanjutnya, agar syari’at Allah tentang poligami ini teraplikasi dengan baik, maka harus ada persiapan yang matang dari pelakunya. Persiapan yang paling utama -menurut saya- adalah kemampuannya untuk menafkahi lahir dan bathin. Saya menyebutnya dengan Well Prepared.
Termasuk dalam mempersiapkan ini adalah, bagaimana kita memahamkan syariat Islam kepada anak-anak, agar kelak jika dewasa tidak gagap terhadap syari’at.
– Hal berikutnya adalah, melakukan komunikasi dengan hikmah kepada pihak-pihak terdampak poligami. Istri, anak, mertua dan keluarga. Semua keluarga yang memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.
Ini penting agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Paling tidak, meminimize sakit hati utamanya dari istri. Hehehe…
Diberitahu akan lebih baik daripada tahu sendiri seperti Arini dalam filem #SYTD. Saya menyebutnya dengan Well Communicated.
–Betapa hancur hati Arini, suami yang dicintainya, yang telah berjanji pada ayahnya utk tidak menyakitinya, ternyata menikah lagi tanpa lebih dulu memberitahunya.– Ini karena tidak ada komunikasi yang baik.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari filem #SYTD adalah tentang IKHLASH.
Ikhlash atas taqdir Allah. Seperti sikap yang ditunjukkan ibunya Arini, setelah dikomplen Arini karena menyembunyikan fakta bahwa ayah Arini ternyata poligami, yang diketahui Arini saat ayah Arini wafat dan anak istrinya datang takziah.
Ikhlash itu tidak berarti tidak ada sakit hati. Ada rasa sakit hati pada ibu Arini saat ayah Arini menikah lagi. Tapi demi Arini, sang ibu betusaha ikhlash.

Hal yang sangat ditekankan dalam poligami adalah mampu berlaku ADIL. Ini memang sulit, meskipun kita sangat menginginkannya. Adil itu belum tentu tidak menyakiti. Kalau sudah emosi yang bicara, maka tidak akan ada rasa diperlakukan adil. Maka, kalau sudah diperlakukan adil, tapi masih juga sakit hati, ya derita loe, hehehe…

Kiranya itulah pandangan saya. Kalo yg mau nikah lagi, pasti sepakat dengan saya. Sementara buat para istri, termasuk istri saya, boleh jadi tidak sepakat dengan saya.
Namun sekali lagi, ini bukan tentang sepakat atau tidak. Ini tentang syari’at, ini tentang ilmu. Begitu…

Dan kata para istri shalihah, “Surga tidak hanya bisa didapat dengan ikhlash dimadu”

Nah…!!!