Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah

Rasulullah SAW adalah seorang nabi dan rasul yang diutus untuk seluruh manusia. Beliau menjadi Al-Quran yang berjalan, sebab semua perintah  Allah SWT kepada umat manusia yang ada di dalam Al-Quran telah dipersonifikasikan dalam pribadi Rasulullah SAW.

Bahkan Al-Quran diturunkan seayat demi seayat seusai dengan sepak terjang kehidupan Rasulullah. Maka tiap ayat Al-Quran itu mewakili titik-titik episode dalam kehidupannya.

Bisa dikatakan tidak mungkin ada seorang yang mengaku memahami Al-Quran kalau tidak melihat peri hidup beliau. Sebab Al-Quran memang turun untuk mengiringi jalan hidup beliau. Ketika beliau wafat, maka wahyu dari langit pun berhenti turun untuk selama-lamanya.

Mustahil ada orang yang mengaku telah mengetahui semua apa yang dimaui oleh Allah SWT manakala dia belum lagi mengenal sosok beliau.

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, seorang ulama besar Syiria dalam kitabnya Fiqhus Sirah menyebutkan ada 5 hal utama yang terkait dengan urgensi mempelajari sirahnya. Kelimanya itu perlu diperhatikan oleh siapapun yang sedang belajar sejarah nabi yang agung itu. Agar  mengerti dan tahu tujuan dari usahanya dalam mendalami sejarah.

1. Memahami Kepribadian Rosul

Urgensi yang utama dalam membedah sirah nabawiyah adalah agar kita bisa mengenal lebih dekat dengan sosok dan pribadi Rasul mulia ini. Sebab dengan pendekatan sejarah pribadinya, kita bisa ikut tenggelam merasakan suka duka apa yang beliau alami.

Seolah kita masuk ke sebuah mesin waktu dan berpindah ke masa 15 abad yang lalu hadir bersama para shahabat duduk bersimpuh di sekeliling sosok manusia termulia di dunia. Apalagi ternyata yang namanya sirah itu disusun berdasarkan urutan waktu, sehingga tahap demi tahap dari episode kehidupan beliau bisa kita hadirkan dalam ingata kita.

Apa yang kita lihat dari sosok seorang Muhammad Rasulullah SAW itu bila kita proyeksikan pada diri kita sekarang ini akan menjadi pemandu hidup yang tidak ada tandingannya.

Sebuah pribadi yang muliai, pemurah, penyayang, mengasihi sesama, berani, optimis, siap sedia untuk berkorban dan tidak pernah merasa putus asa dari rahmat Allah. Beliau yang sejak lahir dalam keadaan yatim, hidup dari hasil keringat sendiri dengan menggembalakan kambing atau pergi berdagang, namun berkepribadian yang sejak dini teramat mulia, amanah dan peduli kepada siapapun.

Ketika beliau diangkat menjadi rasul, betapa berat ujian yang beliau terima, seolah tidak ada sedikit pun rasa iba dari kaumnya yang sebelumnya menggelarinya Al-Amien itu. Lemparan batu bahkan kotoran unta tak jarang mendarat di wajah yang mulia itu. Tak terhidung caci maki dan hinaan bahkan tuduhan gila beliau terima dengan lapang dada. Tak pernah beliau merasa dendam atau ingin membalas pelakunya. Ketika ada kesempatan untuk melakukan balasan pun beliau malah memafkannya. Baginya, orang mau ikut apa yang dibawanya jauh lebih indah dari pada sekedar memuaskan amarah.

Ciri yang paling khas dari pribadi belilau adalah akhlaq yang mulia yang telah ditetapkan ayat Al-quran al-Kariem

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. Al-Qalam : 4)

Semua sifat mulia itu tidak akan bisa kita rasakan bila kita tidak tenggelam dalam sirah nabawiyah.

2. Mendapatkan Gambaran Sosok Panutan dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Allah telah mentakdirkan bahwa pribadi Rasulullah SAW itu pribadi yang multi dimensi. Beliau bisa berperan menjadi banyak sosok sekaligus. Beliau adalah seorang peimpin umat, sekaligus menjadi seorang tentara yang gagah berani. Di rumah, beliau adalah seorang ayah yang mengasihi dan seorang suami yang amat mencintai istrinya. Beliau pandai mengatur ekonomi, dekat kepada orang lemah dan tidak takut menghadapi para raja.

Beliau bisa berbicara dengan sekian banyak jenis elemen masyarakat, mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Bahkan para jin yang dimensi kehidupannya jauh berbeda dari manusia pun memerlukan berguru kepada beliau.

Katakanlah : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin , lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang mena’jubkan,(QS. Al-Jin : 1)

Siapapun ilmuwan yang ingin menulis tentang beragam disiplin ilmu, bisa menengok sosok nabi SAW. KArena pada pribadi itu ada sumber ilmu yang tidak pernah kering. Seolah-olah Allah telah menjadikannya sosok yang merupakan gabungan dari sekian banyak ilmuwan, ahli, cendikiawan dan negarawan sekaligus. Bahkan para seniman dan sastrawan pun tidak pernah bisa melepaskan diri dari sosok beliau.

Hal itu dikuatkan oleh kesaksian dari Al-Quran bahwa memang benar dalam diri beliau ada suri tauladan utama yang bisa dijadikan sosok panutan semua kalangan.

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab : 21)

3. Memahami Al-Quran, merasakan Ruh dan Menjelaskan Maksudnya

Sebagaimana kami sebutkan bahwa Al-Quran itu diturunkan ayat per ayat sesuai dengan episode kehidupan Rasulullah. Maka setiap kita masuk ke dalam sirah nabawiyah, otomatis kita pun akan merasakan bagaimana jiwa Al-Quran itu diturunkan. Seolah-olah ayat demi ayat itu turun kepada kita juga manakala kita merasakan kebersamaan dengan sosok beliau di dalam lembar-lembar sejarah.

Akan sulit kita merasakan bagaimana agungnya kitab suci al-quran manakala kita tidak ikut hanyut dalam suasana ketika ayat demi ayat itu mengalir turun. Dan suasana itu adanya hanya di dalam sirah nabawiyah.

Disinilah letak titik perbedaan antara kita dengan para shahabat Rasulullah dalam interaksi mereka terhadap Al-Quran. Mereka saat itu mengalami langsung bagaimana Al-Quran membimbing mereka dalam setiap kesempatan. Mereka mengalami kesan yang sangat kuat terhadap setiap potong ayat yang turun kepada mereka juga. Sehingga wajar bila mereka begitu menghafalnya, menghayatinya dan benar paham apa maksud dari tiap ayat itu.

Sedangkan kita yang hidup di masa sekarang ini, melihat Al-Quran tiba-tiba sudah berbentuk sebuah buku yang tebal, berbahasa arab, terdiri dari 30 juzu’ dan tidak paham makna dan isinya. Maka wajar pula bila apresiasi kita saat ini dengan Al-Quran menjadi jauh di bawah para shahabat. Bahkan lebih parah lagi, kita tidak tahu mengapa dan pada situasi bagaimana tiap ayat itu turun.

Untuk menjembatani semua hal itu, menenggelamkan diri ke dasar sirah nabawiyah bisa membantu kita mendapatkan ruh dari Al-quran pada saat-saat turun. Sebab dengan menetahuinya suasana dan konteksnya, kita pun akan semakin paham apa makna dan latar belakang dari tiap ayat itu. Maka seorang yang menguasai sirah nabawiyah tentunya punya rasa yang sedikit berbeda dengan mereka yang tidak menguasainya. Perasaan bersama dengan ruh Al-quran, semangat dan kehangatannya.

Sebab atmosfir sirah nabawiyah memang masih menyimpang suasana romantisme bersama Al-quran serrta meninggalkan jejak-jejak yang teramat jelas tentang ilmu-ilmu yang dikandung Al-Quran.

4. Memperluas Cakrawala Keilmuan dan Tsaqofah Islamiyah

Sirah nabawiyah juga menyimpang berjuta ilmu pengetahuan ajaran Islam, sebab sirah merupakan sumber ajaran Islam dalam konteks sebuah kehidupan masyarakat yang utuh.

Rasulullah adalah nabi yang mendapatkan wahyu langsung dari Allah. Tiap detik kehidupannya menyimpan berjuta ilmu pengetauan dan tsaqafah yang tidak pernah kering untuk terus ditimba.

Semakin mendalam seseorang meresapi sirah nabawiyah, maka akan semakin banyak dia bisa menambang ilmu tsaqafah Islamiyah.

Dan untuk itu, para ulama, cendekia, tokoh dan ilmuwan muslim tidak bisa melepaskan diri dari sirah nabawiyah, agar tidak kehilangan sumber ilmu pengetahuan yang amat padat itu.

5. Contoh Perjalanan Dakwah, Tarbiyah dan Taklim bagi Aktifis Dakwah

Pergerakan dakwah di dunia saat ini sedang mengalami masa surut, setelah dahulu mengalami masa jaya. Rezim Barat sebagai musuh bebuyutan pergerakan Islam saat ini sudah berhasil menguasai berbagai sendiri kehidupan di negeri Islam.

Maka tidak ada jalan bagi para tokoh pergerakan kecuali kembali membuka lembar-lembar sejarah Rasulullah SAW untuk menemukan formula dan manhaj pergerakan yang bisa mengembalikan mereka kepada kejayaan masa lalu.

Sebab tiap episode dakwah Rasulullah memang menyimpang banyak kita dan metode serta pengalaman emas yang amat bermanfaat bagi para tokoh pergerakan, aktifis dakwah dan juga seluruh elemen umat Islam.

Source: cahayahati.org

NO…!!! Tilawah Qur’an Dengan Langgam Jawa

Assalaamu’alaikum…., semangat hari senin ayyuhal sahabat.

Produsen suatu produk, dalam me-launch produknya biasanya dilengkapi dengan Standart Operating Procedure sebagai panduan konsumen dalam menggunakan produk tersebut. Maksudnya kurang lebih adalah untuk keamanan, kenyamanan dan ketahanan.
Maka, produsen kendaraan bermotor menyertakan petunjuk penggunaan dan petunjuk perawatan, yang harus dipatuhi oleh konsumen agar kendaraannya aman, nyaman dan awet.

Lalu bagaimana dengan kita, manusia?
Yang harus kita pahami bersama adalah bahwa :
– Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya
– Allah menurunkan Qur’an sebagai panduan, SOP bagi manusia dalam menjalani hidupnya, agar aman, nyaman dan bahagia dunia dan akhirat
Di dalamnya terdapat kabar gembira bagi orang-orang beriman, dan peringatan akan adzab Allah jika ingkar.
– Lalu melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW, kita mendapatkan panduan bagaimana melaksanakan syari’at Allah.

alquranAl-Quran, ia adalah kitab yang kebenarannya mutlak, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Ia bisa menjadi obat. Ia bisa menjadi penenang hati. Ia bisa jadi pembela.
Allah menjanjikan berbagai macam keutamaan untuk para pembaca Qur’an, apalagi bagi para penghafalnya. Setiap huruf dalam Qur’an, adalah satu kebaikan, dari setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat kebaikan.

Maka sebagai Kalamullah, ada ketentuan-ketentuan yang baku dalam membacanya. Membaca Quran itu ada syari’atnya. Ada hukum-hukum yang harus dipenuhi. Ada adab dan tata caranya. Termasuk dalam hal melagukan bacaan Quran.
Ada ketentuan-ketentuan dan adab yang harus dijaga. Tidak bisa diutak-atik agar mathuk dan gathuk. Tidak bisa.

Lalu bagaimana dengan qira’ah Qur’an dengan langgam Jawa dan diiringi orkestra?

Meskipun saya orang Jawa, saya tidak bangga dengan kelakuan orang yang melagukan Qur’an dengan langgam Jawa. Saya ndak ada urusan dengan orang yang sok-sokan membaca Qur’an dengan langgam Jawa. Membaca Qur’an dengan langgam Jawa adalah upaya utak-atik gathuk orang-orang liberalis/pluralis, tentu mengaitkannya dengan kearifan lokal. Pengkaitan yang menyalahi syari’at, yang ujung-ujungnya menjauhkan ummat Islam dari agama dan kitabnya. Qur’an yang Mulia.

Upaya-upaya liberalisasi Islam ini memang sudah dan akan selalu ada. Orang-orang kafir yang tidak rela kepada Islam, orang-orang munafik yang akan menghancurkan Islam, mereka bahu-membahu dalam melakukan aksinya.

Tidak ada pilihan bagi ummat Islam, kecuali MELAWAN…!!!
MELAWAN kebathilan orang-orang yang mengacak-acak syari’at Islam.
MELAWAN upaya-upaya orang kafir dan munafik yang berusaha menjauhkan ummat Islam dari agamanya.

Bagaimana caranya?
PEGANG DENGAN KUAT QUR’AN DAN HADITS.
Begitulah pesan Rasulullah, Muhammad SAW kepada kita ummatnya, agar selamat dunia dan akhirat.

AMAZING…!!! Gejolak Arab di Arabs Got Talent

“Ini negeri Arab !! Jangan sekali2 kalian menghancurkan kehormatannya !! Hati2 terhadap akibatnya”

SnapCrab_NoName_2015-5-9_9-23-26_No-00Pernyataan ini diucapkan ‘Amru ‘Amrusi pada saat audisi Arabs Got Tallent setelah melakukan perform di hadapan para juri dan audien. Video berdurasi 6 menit 55 detik ini diunggah ke Youtube oleh Juba pada 28 Desember 2014 dan telah dilihat ratusan ribu kali. Saya mendapatkan video ini setelah teman saya mengirimkan video yang sama tapi dengan durasi yang lebih pendek yang tidak ada dialog antara peserta dan juri. Penasaran dengan penampilan dalam video tersebut, saya kemudian mencari video yang terkait dengan durasi yang lebih panjang. Dan alhamdulillah saya bisa menemukannya.

Sebelum melakukan aksinya, peserta dari Mesir ini menyatakan bahwa penampilannya kali ini ada kaitannya dengan permasalahan bangsa Arab yang sangat penting sejak ia kecil.

“Aku punya sebuah pandangan, ingin ku tampilkan dlm sebuah penampilan. Dan ini adalah sebuah permasalahan yang sangat penting, yang aku alami dalam hidupku sejak aku masih kecil dulu. Pesan yang ada dalam penampilan ini memiliki nilai yang sangat dalam, menyentuh tapi kini telah sirna dalam hidup kita. Aku berjanji akan menampilkan sebuah persembahan yang sangat bernilai buat bangsa Arab” demikian ‘Amrusi.

Di awal penampilannya, para juri terkesan belum tahu maksud dari ‘Amrusi hingga satu menit berlalu. Mungkin para juri hanya melihat wajah lucu dan seperti menganggap sepele, hingga mereka tertawa. Perhatian para juri mulai terlihat di menit-menit kedua hingga akhir. Wajah-wajah larut dalam persembahan dan keharuan, jelas terlihat pada raut wajah para juri. ‘Amrusi menutup persembahannya dengan merobek penutup kaos yang kemudian memperlihatkan gambar bendera negara-negara Arab. Dengan mimik serius dan sambil mengarahkan telunjuk ke depan, ‘Amrusi menutup persembahannya dengan mengatakan, “Ini negeri Arab !! Jangan sekali2 kalian menghancurkan kehormatannya !! Hati2 terhadap akibatnya”.

Nazwa Karam, salah satu juri terlihat tak kuasa menahan air matanya untuk jatuh. Dalam komentarnya, dengan mata yang berkaca-kaca larut dalam penampilan, ia berkata, “Aku ingin mengatakan kalau semua orang Arab miliki rasa nasionalisme seperti yang kamu rasakan, maka tidak akan ada yang namanya perang di Arab. Walaupun ini sebuah penampilan, tapi persembahanmu betul-betul fakta nyata. Fakta nyata yg menyentuh jiwa…!!!”

Tidak hanya Nazwa Karam yang terpukau dan terharu oleh penampilan ‘Amrusi, juri yang lain, Ahmad Helmi sampai melakukan standing applause dan menyatakan apresiasinya dengan penuh haru, “Engkau telah membuat aku menangis bersamamu. Bravo untukmu”

Sementara juri yang lain, Nashir, menyatakan bahwa penampilan ‘Amrusi tidak semua orang bisa melakukannya. Nashir menilai “Terlihat Ada ketegasan yang sebenarnya dalam dirimu, bukan sesuatu yg kamuflase. Penampilanmu memang sebuah penampilan yang sangat susah, tidak semua org bisa melakukannya. Terus terang aku merasa kasihan padamu. Salute, tapi penampilanmu sangat OK”

Senada dengan juri yang lain, Ali -sepertinya juri senior, ed-  mengungkapkan apresiasinya pada persembahan ‘Amrusi. “Perfect, tak ada yang kurang dari penampilanmu. Betul-betul penampilan seorang pakar. Kehebatan sebuah penampilan itu ditinjau dari pengaruh yang dirasakan. Betul-betul hebat. Selamat untukmu…!!!

Gemuruh tepuk tangan audien selalu menyertai setiap komentar juri, dan ‘Amrusi selalu menyambut komentar dan tepuk tangan para penonton dengan meletakkan tangan di kepala, sebagai ungkapan terima kasih. Hasil akhir dari persembahan ‘Amrusi, semua juri menyatakan ‘Na’am‘, YES. Dan juri Ali, dengan keempat jari seperti lambang Rabia, menyatakan “Arba’ Na’am”, yang kemudian disambut gemuruh tepuk tangan penonton.

Inilah video persembahan ‘Amru ‘Amrusi itu. Untuk melihatnya di laman Youtube, bisa dilihat disini.

Ada yang menarik perhatian saya ketika menyaksikan video penampilan ‘Amru ‘Amrusi ini. Karenanya, saya kemudian mengirimkannya kepada teman saya yang berada di Kairo untuk menterjemahkan dialog dalam video tersebut. Yang membuat saya heran, ternyata link video di Youtube yang saya kirimkan tidak bisa dibuka di Kairo, dengan reason “This video contains content from MBC group, who has blocked it in your country on copyright grounds”. Saya terpaksa mengunduh dan kemudian mengirimkan video ini dengan email.

Semoga tulisan bermanfaat untuk sahabat semua. Insya Allah…

Balikpapan, Ahad 9 Mei 2015

Berprestasi dan Berkarir

Berprestasi itu keniscayaan dari sebuah ikhtiar yang optimal. Orang berprestasi, dalam dunia human resource biasanya masuk dalam talent pool, yang karenanya kemudian menghubungkannya dengan karir. Sah-saja dengan prestasinya itu orang kemudian mengejar karir. Berprestasi dalam bekerja keniscayaannya adalah amanah yang lebih besar, dalam bahasa SDM ya karir itu. Namun harus pula tetap berhati-hati agar tidak meminta-minta jabatan.

Memang, sebagian kita terkadang hanya menghubungkan prestasi atau talent dengan karir. Kita kadang abai bahwa Allah yang paling tahu kebutuhan kita.

downloadKunci bagi orang beriman adalah taqwa. Orang bertaqwa adalah orang yang bersungguh-sungguh. Orang bertaqwa adalah orang yang berprestasi. Karena sesungguhnya orang bertaqwa sadar sepenuhnya bahwa Allah telah menjadikannya sebagai “fii ahsani taqwim” sebaik-baik penciptaan. Dengan taqwa, Allah mudahkan urusan kita, memberikan rizqi yang datang dari arah mana saja yang tidak kita duga, mengampuni dosa kita, menghapuskan keburukan kita, dan segala karunia yang lain.

Maka yang harus disadari kemudian adalah, bahwa kita bekerja sebagai ‘ibadah kepada Allah. Sementara karir adalah bertemunya ikhtiar yang maksimal dengan taqdir Allah.

Jika Allah belum mentaqdirkan, yakinlah bahwa ada karunia yang ditunda pemberiannya oleh Allah, diantara karunia-karunia lain yang telah kita nikmati lain dan kita tak akan mampu untuk menghitungnya.

Selamat hari Jum’at…. :)